BABY BLUSE DAN DEPRESI PASCA PERSALINAN

Pengertian :

A. BABY BLUES

Baby blues dipercaya mengenai lebih dari separuh seluruh wanita, biasanya dianggap sebagai “normal atau tidak perlu dikhawatirkan”. Disebut juga sebagai “day 4 blues” karena sangat sering terjadi pada hari kelima setelah melahirkan atau bahkan sesudahnya.
Baby blues merupakan kesedihan yang tak mendasar, ini dapat menyerang dengan tiba-tiba sehingga terasa hamper seperti kesedihan yang menyertai munculnya ASI (damam susu). Pada keadaan ini, suhu tubuh mungkin sedikit meninggkat dan merasa tidak enak di seluruih tubu, dengan payudara menggembung dan daerah jahitan terasa nyeri. Keadan ini dapat berlangsung hanya beberapa jam atau berlanjut menjadi beberapa hari, tetapi biasanya sudah hilang pada hari kesepuluh.

B. DEPRESI

Depresi Pasca Persalinan (DPP) adalah suatu depresi yang ditemukan pada perempuan setelah melahirkan, yang terjadi dalam kurun waktu 4 minggu. Hal ini dapat berlangsung hingga beberapa bulan bahkan beberapa tahun bila tidak diatasi.
Sebetulnya terdapat tiga jenis reaksi emosional yang dijumpai pada perempuan pasca persalinan, yaitu:
1. ’maternity bluse’ atau ’postpartum bluse’ atau ‘bluse’
2. psikosis pasca persalinan
3. depresi pasca persalinan (DPP)
Maternity bluse atau postpartum bluse atau bluse ialah gejala depresi yang biasanya
dialami oleh perempuan pasca persalinan pada antara hari ketujuh hingga 14, yang terjadi untuk sementaea waktu dan akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan.
Bluse ditandai dengan gejala-gejala yang mirip dengan kondisi depresi, antara lain: mudah menangis, mudah tersinggung, sedih, dan adanya ketidakstabilan emosi (pergantian emosi antara sedih, tersinggung, marah terjadi dalam waktu singkat). Kondisi ini terjadi kemungkinan karena perubahan kadar hormon yang mendadak. Namun dari penelitian juga didapatkan bahwa kondisi ini juga dapat dipicu oleh adanya perasaan belum siap menghadapi lahirnya bayi, dan atau timbulnya kesadaran akan meningkatnya tanggung jawab sebagai ibu. Gejala ini dialami oleh dus pertiga dari ibu melahirkan.
Adapun psikosis pasca persalinan merupakan keadaan psikosis mendadak, yang lebih kurang sama dengan psikosis yang terjadi bukan setelah seorang perempuan melahirkan bayinya. Psikosis yaitu suatu kondisi gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya ketidakmampuan membedakan antara realita (kenyataan) dan khayalan. Tanda dan gejala yang dialami oleh seseorang yang mengelaminya antara lain mempunyai keyakinan yang salah (tidak sesuai dengan kenyataan, budaya dan norma yang berlaku) yang tetap dipertahankan walaupun telah dikoreksi dan diberikan bukti-bukti; ini disebut sebagai waham. Gajala lain yaitu terjadinya gangguan atau distorsi persepsi, yang antara lain berupa ilusi dan halusinasi atau adanya perilaku yang tidak wajar, yang berupa antara lain gaduh gelisah, marah-marah tanpa sebab, mengamuk, mencelakai diri sendiri atau orang lain.
Ilusi adalah adanya kesalahan persepsi terhadap rangsangan yang ada, misalnya tongkat dilihat sebagai ular. Halusinasi adalah adanya persepsi (pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaam) yang dialami walaupun tidak ada rangsangan. Misalnya mendengarkan suara padahal tidak ada orang berbicara, atau melihat sesuatu padahal tidak ada benda itu, atau merasa tubuhnya diraba oleh sesuatu padahal sama sekali tidak ada yang merabanya.
Pada psikosis pasca persalinan,. Isi wahamnya biasanya berkaitan dengan kelahiran bayi, misalnya merasa yakin bahwa anaknya itu bukan merupakan anaknya sendiri atau merasa bahwa ia harus membunuh anaknya karena anak tersebut akan mencelakakan dirinya, atau merasa bahwa anaknya itu merupakan titisan neneknya yang sudah meninggal, dll. Gangguan ini jarang dijumpai, angka kejadiannya 2 dari 1000 perempuan yang melahirkan.

1. TANDA DAN GEJALA
Gejala-gejala yang ditemukan serupa dengan gejala gangguan depresi pada umumnya berkaitan dengan fungsi, peran dan tanggungjawab sebagai ibu, terutama dalam marawat atau mengurus bayi.
Gejala-gejala tersebut yaitu adanya perasaan sedih, mudah marah dan ingin marah seja, gelisah, hilangnya minat dan semangat yang nyata dalam aktivitas sehari-hari yang sebelumnya disukai, enggan dan malas mengurus anaknya, sulit tidur atau terlalu banyak tidur, nafsu makan menurun atau sebaliknya, merasa lalah atau kahilangan energi, kemampuan berpikir dan konsentrasinya menurun, marasa besalah, merasa tidak berguna hingg aputus asa dan mempunai ide-ide kematian yang berulang (berupa ingin bunuh diri atau bahkan ingin membunuh bayinya.
Tanda dan gejala yang telah disebutkan tersebut dapat muncul bersamaan sekaligus atau hanya sebagian saja. Yang jelas, karena mangalami tanda dan gejala tersebut, seorang ibu akan mengalami perasaan stres atau tertekan, sehingga sulit atau tidak dapat menjalankan fungsi dan aktivitasnya sehari-hari. Oleh karena itu, ibu yang mengalami kondisi ini harus ditolong, lebih cepat akan lebih baik, agar tidak terjadi kondisi yang membahanyakan dirinya atau bayinya.

2. PENYEBAB
Penyebab yang pasti hingga kini belum diketahui dan masih dalam penelitian para ahli, namun terpadat beberapa faktor yang diperkirakan mempengaruhi atau merupakan faktor resiko untuk terjadinya Deprsei Pasca Persalinan. Faktor tersebut antara lain:

a. Dukungan sosial (terutama dari suami dan keluarga)
Dukungan suami yang dimaksud disini berupa perhatian, komunikasi dan hubungan emosi yang intim,merupakan faktor yang paliang bermakna manjadi pemicu terjadinya Depresi Pasca Persalinan.ada penelitian yang melaporkan bahwa ada kaitan antara Depresi Pasca Persalinan dengan kekhawatiran akan pembiayaan masa depan sang anak, tetapi hal ini masih balum pasti karena berbagai penelitian mendapatkan hasil berbeda-beda.
Adapun dukungan keluarga yang dimaksud adalah komunikasi dan hubungan emosional yang baik dan hangat dengan kadua orang tua, terutama ibu. Banyak perempuan yang memilih ditemani ibunya dari pada suaminya apda saat melahirkan.
Dari penelitian diperoleh data bahwa rendahnya atau ketidakpastian dukungan suami dan kelurga akan meningkatkan kajadian Deprasi Pasca Persalinan pada seorang ibu.
Dari penelitian Gotlib dkk ditemukan hubungan yang bermakna antara kepuasandalam perkawinan dan Depresi Pasca Persalinan. Penelitinnya dilakukan terhadap 730 perempuan hamil yang diperiksa sebelim timbulnya Depresi Pasca Presalinan. Perempuan yang tidak depresi selama kehamilan, dapat mengalami Deprsi Pasca Persalinan bila tidak mengalami kepuasan dalam perkawinannya, sebaliknya perempuan yang deprsei selama kehamilan, dapat membaik pasca persalinan bila dalam perkawinanya mengalami kepuasan. Alfiben dkk dari penelitian di RS Dr Cipto Mangunkusumo – Jakarta, melaporkan bahwa dukungan suami dapat menurunkan terjadinya Depresi Pasca Persalinan.

b. Keadaan atau kualitas bayi (termasuk problem kehamilan dan kelahiran):
Problem yang dialami bayi menyebabkan sang ibu kehilangan minat untuk mengurus bayinya tersebut. Problem pada bayi tersebut antara lain adanya komplikasi kelahiran (misalnya perdarahan yang terlalu banyak atau ibu mengalami infeksi, sehingga ibu harus tinggal lebih lama di rumah sakit) atau lehit dengan jenis kelamian tidak sesuai dengan harapan, atau lahir dengan cacat bawaan.
Dari beberapa penelitian didapatkan bahwa terdapat hubungan kuat antara kehamilan, persalinan dan problem bayi dengan terjadinya Depresi Pasca Persalian.
Hopkins dkk menemukan abhwa komplikasi pada bayi baru lahir lebih tinggi pada ibu yang depresi dibandingkan dengan ibu yang tidak depresi. Ditemukan pula bahwa ibu-ibu dapat mengalami deprsi bila mengetahui anaknya sakit.

c. Kesiapan melahirkan bayi dan menjadi ibu:
Dari beberapa penelitian didapatkan bahwa kesiapan menjadi seorang ibu ternyata juga mempengaruhi terjadinya Depresi Pasca Persalinan. Pada perempuan yang hamil tidak direncanakan (karena belum menikah atau ibu yang menikah namun sudah tidak menginginkan anak lagi) kemungkinan mengalami Depresi Pasca Persalinan lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan yang siap dan amat menantikan kelahiran bayinya.

d. Stresor psikososial
Stresor psikososial adalah suatu peristiwa atau kejadian yang mengakibatkan sesorang harus melakukan penyesuaian atau adaptasi terhadap kondisi yang dialami tersebut. Peristiwa yang terjadi tersebut menyebabkan keadaan yang semula telah stabil selama bertahun-tahun kini terpaksa harus diubah atau disesuaikan. Sebagaimana persepsi seorang ibu terhadap proses kehamilan dan kelahiran tergantuang dari ketahanan atau kekuatan kepribadiannya. Ada yang menganggapnya sebagai keberuntungan atau karunia, namun dilain pihak ada yang mengangapnya sebagai stresor karena ia tidak siap atau belum atau sudah tidak ingin mempunyai anak lagi.
Stesor tersebut antara lain bila ia merasa tidak mempunyai sumber-sumber yang cukup untuk membesarkan anaknya, harus melakukan investasi untuk kesehatan dan masa depan anak serta keluarga, mengalami problem yang belum dapat diselesaikannya. Hal-hal yang dialami itu dapat membuatnya merasa tertekan atau menjadi stres, yang menyebabkan perempuan tersebut tidak dapat berfungsi dalam kehgidupan sehari-hari dan hal inilah yang kemudian dapat manjadi pemicu timbulnya Derpresi Pasca Persalinan.

e. Riwayat deprasi sebelumnya atau problem emosional lainya:
Sebagian besar penelitian yang telah dilakukan, mendapatkan bahwa terdapat hubunbgan antara mengalami deprasi dan problem emosional lain sebelumnya atau depresi selama kehamilan denfan Deprsi Pasca Persalinan, selain itu riwayat pernah mengalami deprsi ketika anak-anak atau remaja juga dapat merupakan faktor yang berperan pada seorang permpuan pada saat ia mengalami hari-hari pasca persalianan.
Pada penelitian lain didapatkan bahwa wanita yang tidak mengalami depresi sebelim persalinan tetapi kemudian mengalami Deprsi Pasca Persalinan, ternyata pada masa kahamilan mereka mengalami ketidakpuasdan perkawian yang bermakna.

f. Faktor hormonal:
Depresi Pasca Persalinan diduga juga terjadi karena perubahan produksi hormon pada masa nifas. Perubahan kadar hormon progresteron, estrogen, prolaktin dan kortisol, diketehui kecil pengaruhnya terhadap terjadinya Deprsei Pasca Persalinan. Dengan demikian Deprsei Pasca Persalinan terjadi bukan hanya karena perubahan hormonal, karena semua perempuan yang normal pun mengalami perubahan hormon pada nifas. Dibandingkan dengan dukungan sosial dan keadaan bayi, faktor hormonal ini kebanyakan kasus Deprsei Pasca Persalinan ternyata tidak bermakna.

g. Faktor budaya:
Peran budaya hingga kini masih terus diteliti pada berbagai latar belakang budaya. Dari hasil penelitian Cox di Inggris dan Afrika, banyak problem kejiwaan pasca persalinan tidak terdeteksi, yang kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: keengganan ibu yang melahirkan untuk mengungkapkan perasaan sedihnya, rasa sedih pasca persalinan dianggap akan hilang dengan sendirinya.

3. DAMPAK TERHADAP ANAKNYA
Pada ibu yang mengalami Depresi Pasca Persalinan, minat dan ketertarikan terhadap bayinya berkurang. Ia sering tidak berespon positif (menyambut dengan hangat terhadap komunikasi yang dilakukan oleh bayinya, baik melalui suara tangis, tatapan mata, atau pun gerak tubuh) sehingga bayi akan berusaha lebih keras untuk menarik perhatian ibunya. Misalnya pada saat merasa bingung, bayi memerlukan kenyamanan atau penentraman, maka biasanya ia akan menangis; bila sang ibu juga bingung atau marah atau sedih, maka sang bayi akan menangis dengan suara lebih keras atau mungkin disertai gerakan tubuh tertentu agar ibunya bisa menolongnya. Namun, ibu yang sedang depresi tidak mampu mengenali kebutuhan bayinya sehingga tidak dapat berespon seperti yang diharapkan dan dibutuhkan oleh anaknya.
Ibu yang depresi juga tidak mampu merawat bayinya secara optimal, karena merasa tidak berdaya atau tidak mampu sehingga akan menghindar dari tanggung jawab, akibatnya kondisi kebersihan dan kesehatan bayinya pun menjadi tidak optimal. Ia juga tidak bersemangat menyusui bayinya sehingga pertumbuhan dan perkembangan bayinya tidak seperti bayi-bayi yang ibunya sehat.
Akibat lain Depresi Pasca Persalinan yaitu hubungan antara ibu dan bayi juga tidak optimal. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa bayi sangat senang berkomunikasi dengan ibunya. Komunikasi ini dilakukan dengan cara dalam bentuk yang bermacam-macam, misalnya senyuman, tatapan mata, celoteh, tangisan, gerakan tubuh yang berubah-ubah, yang kesemua itu perlu ditanggapi dengan respon yangh sesuai dan optimal. Bila hal ini tidak dapat dipenuhi oleh ibunya, anak menjadi kecewa, sedih, bahkan frustasi. Hal ini dapat membuat perkembangan anak tersebut juga menjadi tidak optimal, sehingga dikemudian hari kepribadiannya pun dapat menjadi kurang matang.
Anak-anak yang ibunya menglami Depresi Pasca Persalinan dapat mengalami gangguan perkembangan emosi, terutama bila kondisi pada ibunya tersebut tidak diatasi dan diobati atau dibiarkan belangsung lama. Anak-anak tersebut sering sulit mengeksprsikan perasaannya dan sulit berpartisipasi dalam aktivitas sosial. Sebagian tetap menutup diri dan menyimpan perasaannya. Ciri-ciri yang sering dijumpai pada mereka antara lain memiliki pola tempramen negatif (mudah tersinggung, mudah marah, toleransi yang rendah terhapad sikap dan sifat orang lain), kemampuan adaptasi yang kurang, intelegnsi dan prestasi akademik kurang optimal, sulit berkerjasama dengan teman sebaya, mengalami kesulitan disekolah karena perhatian dan konsentrasi yang kurang terfokus, sering tidak tenang dan mungkin pula nantinya mempunyai perlaku menyimpang (menentang tanpa alasan yang jelas, membolos, bahkan mencuri)
Menurut penelitian, anak-anak dari ibu yang emngalami Depresi Pasca Persalinan dapat mengalami gangguan perilaku pada usia 3 tahun, artinya pada usia 3 tahun sudah dapat dideteksi adanya perilaku yang berbeda dibandingkan dengan anak seusianya. Anak-anak tersebut juga dapat mengalami rendahnya fungsi berfikir pada usia 4 tahun, yang biasanya dapat terdeteksi ketika anak mulai masuk sekolah. Hal ini memberi gambaran pula bahwa Deprsei Pasca Persalinan dapat berdampak negatif dalam jangka panjang bagi keluarga.

4. PENGOBATAN
Pemberian obat bukan merupakan prioritas bahkan dihindari sedapat mungkin oleh dokter mengingat ibu perlu menyusui bayinya. Obat hanya diberikan pada keadaan yang sangat mendesak dan berbahaya, misalnya ibu tersebut sangat gelisah atau ingin bunuh diri atau ingin membunuh anaknya. Pada keadaan seperti ini biasanya dianjurkan untuk dirawat dirumah sakit untuk beberapa hari sampai kondisinya tenang, stabil dan tidak membahayakan baik bagi dirinya maupun orang di sekitarnya.
Program pengobatan dibagi menjadi dua bagian:
Terhadap ibu, diberikan:
a). Latihan Relaksasi, yang diajarkan oleh dokter pada saat konsultasi dan diminta dilatih sendiri dirumah, atau dapat pula diarahkan melakukan relaksasi sederhana yang sudah biasa dilakukan oleh ibu dalam kehidupan sehari-hari seperti olahraga (senam, renang, dll), rekreasi.
b). Restrukturisasi Kognitif, terdiri atas menentang perilaku dan pikiran negatif, menghilangkan pikiran-pikiran yang mempengaruhi perilaku ke arah negatif.
c). Pemecahan masalah, yaitu pengarahan atau pemberian alternatif pemecahan masalah saat ini.
d). Komunikasi, yaitu melatih sang ibu memperbaiki komunikasinya dengan suami dan anggota keluarga yang lain.
e). Humor, apabila cocok dan membuat ibu merasa lebih nyaman.
f). Bila gejala berat biasanya baru diberikan obat anti depresi.

Untuk memelihara dan memperkuat hubungan ibu-bayi, sang ibu dianjurkan untuk:
a). Merawat bayinya sesering mungkin, misalnya selama 2-3 jam berada di ruang yang sepi hanya berdua dengan bayinya, dengan mangusahakan kontak mata, sambil menyusui (atau memberikan susu botol bila asi tidak keluar), labih baik lagi disertai iringan musik yang lembut.
b). Menyediakan tempat istirahat yang nyeman bagi bayi dan dirinya sendiri; ibu juga dianjurkan beristirahat katika bayi beristirahat, sehingga ketika bayinya bangun, ia juga telah merasa segar dan siap bermain dan mengurus bayinya kembali.
c). Pelik bayi dan berbicara dengannya secara lembut. Persentuhan kulit bayi dengan kulit ibunya akan menurunkan depresi, baik pada anak maupun ibunya. Pemijatan bayi oleh ibunya juga menurunkan kejadian depresi .
d). Melibatkan anggota kelurga yang lain dalam merawat bayi, misalnya sang ayah, kakak bayi bila ada, atau keluarga yang lain seperti nenek, bibi.
e). Ajak bayi keluat rumah sesekali; udara segar akan memperbaiki perasaan bayi.
f). Bila timbul perasaan-persaan nagatif seperti kesepian, lelah, marah, frustasi sebaiknya tinggalkan bayi sejenak, minta orang lain yang dipercaya untuk menjaga sementara waktu.

5. PENCEGAHAN
Depresi Pasca Persalinan dapat docegah apabila para calon ibu, suami dan kelurga mengetahui faktor-faktor resiko seperti, ada atau tidaknya dukungan suami dan keluarga, kesiapan ibu untuk melahirkan dan merawat bayi, adanya stresor yang dialami, apakah calon ibu pernah mengalami depresi sebelumnya. Bila ada salah satu dari resiko tersebut, calon ibu dan suami diharapkan dapat menghindarinya bila mungkin, atau bila tidak dapat dihindari, sebaiknya segera mancari pertolongan profesional, agar pencegahan dapat dilakukan sedini mungkin.
Bila pada masa kehamilan tidak diketahui adanya resiko, maka sang calon ibu, suami dan keluarga sebaiknya mengenali tanda dan gejala dini Depresi Pasca Persalinan, agar dapat dilakukan pengobatan labih dini, baik bagi ibu (agar dapat berfungsi optimal dalam merawat, mengasuh dan mendidik anaknya), maupun bagi anak serta terhadap hubungan ibu-anak, agar anak dapat tumbuh kembang menjadi seseorang dengan jiwa dan kepribadian yang sehat.

Asuhan keperawatan

Diagnosa
1. Gangguan pola tidur berhubngan dengan lelah,ditandai dengan ;
• Terbangun lebih awal / telambat bangun.
• Tidur tidak puas.
• Penurunan proporsi REM ( emosi labil ).
Tujuan :
• Kontrol kegelisahan.
• Istirahat .
• Kenyamanan .
• Respon terhadap perubuhan gaya hidup.
Intervensi :
• Mengajarkan pasien untuk mengontrol kegelisahan.
• Mengajarkan teknik relaksasi .
• Mengatur jadwal tidur pasien.
• Memberikan suasana tidur pasien yang nyaman.
• Meminimalkan pengunjung.

2. kelelahan berhubungan dengan depresi
ditandai dengan :
• skurang energi atau tidak mampu mempertahankan aktivitas fisik sesuai tingkat biasanya
• lelah
• konsentrasi melemah
• tidak tertarik dengan sekitar
Kriteria Hasil:
 Klien menunjukkan tertarik dengan sekeliling
 Klien mampu menyelesaikan tugas sehari-hari
 Menunjukkan nafsu makan normal
 Menunjukkan konsentrasi

Intervensi :
 Bantu untuk menentukan kelemahan fisik klien
 Menentukan persepsi lain penyebab lelah
 Menganjurkan secara verbal tentang perasaan lelah
 Menentukan penyebab lelah
 Memonitor masuknya nutrisi untuk mendapatkan energi yang cukup adekuat
 Memonitor klien apakah trjadi kelebihan aktifitas fisik dan kelelahan emosi
 Memonitor pola tidur dan berapa lama waktu tidur klien
 Menganjurkan alternative istirahat dan lama aktivitas
 Membantu klien untuk membuat jadwal istirahat

3. Resiko kerusakan kedekatan Ortu/ bayi berhubungan dengan cemas dalam menjalankan peran sebagai orang tua
Intervensi
a. Attachment promotion
1) Beri kesempatan kepada orang tuauntuk mendengarkan bunyi jantung bayi secepatnya jika mungkin
2) Diskusikan respon orang tua setelah mendengarkan suara jantung bayi
3) Diskusikan reaksi orang tua setelah melihat gambar ultra sound bayi
4) Rekomendasikan Ibu untuk memegang, menyentuh dan memeriksa bayi ketika tali pusat akan dipotong
5) Rekomendasikan orang tua untuk memeluk bayi dekat dengan tubuh
6) Informasikan orang tua tentang perawatan yang diberikan pada bayi baru lahir
7) Bantu orang tua untuk berpartisipasi dalam perawatanbayi

b. Environmental management attachment proses
1) Sediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
2) Sediakan perawat primer
3) Lindungi keluarga dari gangguan?pengunjung yang berlebihan dalam ruangan
4) Kurangi jam kunjungan untuk meningkatkan istirahat Ibu
c. Anxiety reduction
1) Gunakan ketenangan ketika pendekatan
2) Cari dan selidiki dengan jelas dari kebiasaan pasien
3) Cari ketidak pahaman pasien atas situasi stress
4) Semangati pasien untuk tetap bersama anaknya jika mungkin
5) Instruksikan kepada klien untuk menggunakan tekhnik relaksasi
6) Bantu klien untuk menidentifikasi situasi yang menimbulkan stress

4. Koping tidak efektif berhubungan dengan percaya diri tidak adekuat dalam kemampuan koping
Ditandai dengan :
a. Gangguan tidur
b. Konsentrasi buruk
c. Kelelahan
d. Perilaku merusak diri/ orang lain
e. Tidak mampu memenuhi harapan peran

Kriteria Hasil :
 Menggunakan alternative mekanisme koping terhadap stress
 Menunjukan pengontrolan terhadap perilaku merusak
 Pengetahuan tentang periode peralihan peran
 Menunjukan perhatian
Intervensi :
 Dorong klien untuk mengenali perubahan perannya secara realistic
 Dukung klien untuk mengetahui/ mengenali kemampuan dirinya
 Libatkan keluarga dalam mekanisme koping secara tepat
 Intruksikan klien untuk melakukan tehnik relaksasi jika dibutuhkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: