asuhan keperawatan glaukoma kongenital


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mata merupakan salah satu panca indera yang sangat penting untuk kehidupan manusia. Terlebih lebih dengan majunya teknologi, indra penglihatan yang baik merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Apalagi dengan sempitnya lapangan kerja, hanya orang-orang yang sempurna dengan segala indranya saja yang mendapat kesempatan kerja termasuk matanya.mata merupakan anggota badan yang sangat peka. Trauma seperti debu sekecil apapun yang masuk kedalam mata, sudah cukup untuk menimbulkangangguan yang hebat, apabila keadaan ini diabaikan, dapat menimbulkan penyakit yang sangat gawat.

Salah satu penyakitnya yaitu glaukoma. Di seluruh dunia glaukoma dianggap sebagai penyebab kebutaan yang tinggi, 2 % penduduk berusia lebih dari 40 tahun menderita glaukoma. Glaukoma dapat juga didapatkan pada usia 20 tahun, meskipun jarang. Pria lebih sering terserang dari pada wanita. Adapun macam macam dari penyakit glaukoma, salah satunya adalah penyakit glaukoma kongenital.

Glaukona kongenital adalah suatu keadaan dimana tekanan bola mata tidak normal. Tekanan bola mata yang normal dinyatakan dengan tekanan air raksa yaitu antara 15-20 mmHg. Glaucoma yang terjadi sejak lahir, ini terdapat lebih jarang dari pada glaukoma pada orang dewasa. Frekuensinya kira-kira 0,01 % diantara 250.000 penderita. Karena itulah sedikit sekali dokter yang mendapat kesempatan untuk mempelajari penyakit ini, sehingga perjalanan klinik dan cara merawatnya belum begitu dimengerti, seperti pada glaukoma orang dewasa.

B. Tujuan

1. Mengetahui gambaran umum tentang glaukoma kongenital

2. Mampu membuat asuhan keperawatan pada klien dengan glaukoma kongenital

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian

Glaukoma

Adalah suatu keadaan dimana tekanan bola mata tidak normal. Tekanan bola mata yang normal dinyatakan dengan tekanan air raksa yaitu antara 15-20 mmHg.

Glaucoma Kongenital

· Peningkatan tekanan didalam bola mata bayi yang baru lahir (biasanya pada kedua mata).

· Galukoma akibat penyumbatan pengaliran keluar cairan mata oleh jaringan sudut bilik mata yang terjadi oleh adanya kelainan congenital.

· Glaucoma yang terjadi sejak lahir

B. Klasifikasi

Scele mengemukakan pembagian dalam :

· Glaukoma infamtum

Yang dapat tampak pada waktu lahir atau pada umur 1-3 tahun dan menyebabkan pembesaran pada bola mata, karen dengan elastisitasnya bola mata membesar mengikuti meningginya tekanan intraokuler.

· Glaukoma yuvenilis

Didapatkan pada anak yang lebih besar.

C. Etiologi

Kelainan ini akibat terdapatnya membran kongenital yang menutupi sudut bilik mata pada saat perkembangan bola mata, kelainan pembentukan kanal schlemm dan saluran keluar cairan mata yang tidak sempurna terbentuk.

D. Factor resiko

1. Bila ada riwayat penderita glaukoma pada keluarga

2. Riwayat anggota keluarga yang terkena glaukoma

Untuk glaukoma jenis tertentu, anggota keluarga penderita glaukoma mempunyai risiko 6 kali lebih besar mengalami glaukoma. Risiko terbesar adalah kakak-beradik kemudian hubungan orang tua dan anak-anak.

3. Obat-obatan

Pemakai steroid secara rutin misalnya: Pemakai obat tetes mata yang mengandung steroid yang tidak dikontrol oleh dokter, obat inhaler untuk penderita asthma, obat steroid untuk radang sendi dan pemakai obat yang memakai steroid secara rutin lainnya. Bila anda mengetahui bahwa anda pemakai obat-abatan steroid secara rutin, sangat dianjurkan memeriksakan diri anda ke dokter spesialis mata untuk pendeteksian glaukoma.

4. Riwayat trauma (luka kecelakaan) pada mata.

E. Manifestasi klinik

– mata berair

– peka terhadap cahaya

– mata merah

– kornea tampak kabur

– kornea membesar.

– nyeri pada bagian mata

– ketajaman visual berkurang

F. Pathofisiologi

Glaukoma kongenital disebabkan adanya peningkatan tekanan di dalam bola mata (intraokuler) yang disertai dengan kelainan struktur segmen depan bola mata. Kelainan ini menyebabkan air mata terbendung dan mengakibatkan peninggian tekanan bola mata. Selanjutnya peninggian tekanan bola mata menyebabkan iris bengkak dan meradang, mengenai saraf optik yang menyebabkan gangguan penglihatan sehingga terjadi perubahan sensori motorik. Selain itu, peninggian tekanan bola mata menyebabkan kelainan kornea sehingga terjadi diameter kornea lebih besar, kornea keruh dan pandangan kabur.

G. Pathway

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

Kalainan struktur segmen dalam bola mata

Obstruksi aliran aqueous humor

Air mata terbendung

Peninggian tekanan bola mata

Iris mengalami peradangan

Kelainan kornea

Penekanan saraf optikus

Diameter kornea lebih besar

pembengkakan

Saraf optikus keluar dari bola mata

Selaput kornea menjadi tipis dan keruh

Dx : Nyeri pada bagian mata

Kematian serat-serat saraf

Kerusakan saraf penglihatan

Dx : Resiko Cedera

Kornea keruh

Dx : Gangguan persepsi sensori : visual

Gangguan penglihatan

Perubahan sensorik motorik

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>

H. Pemeriksaan penunjang

· pemeriksaan retina

· pengukuran tekanan intraokuler dengan menggunakan tonometri

· pemeriksaan lapang pandang

· pemeriksaan ketajaman penglihatan

· pemeriksaan refraksi

· respon refleks pupil

· pemeriksaan slit lamp.

I. Penatalaksanaan

Pemeriksaan mata yang dilakukan meliputi :

· Pengukuran tekanan intraocular (dengan tonometer), pemeriksaan keadaan sudut bola mata dengan genioskopi. Sedangkan pemeriksaan lapang pandangan mata dengan alat perimetri.

· Pengecekan terhadap kondisi syaraf mata digunakan alat Heidelberg Retinal Tomography (HRT) atau Optical Coherence Tomography (OCT).
Pemberian obat tetes mata yang dilanjutkan pemberian obat tablet.
Fungsi obat-obatan tersebut untuk menurunkan produksi atau meningkatkan keluarnya cairan akuos humor. Cara ini diharapkan dapat menurunkan tekanan bagi bola mata sehingga dicapai tekanan yang diinginkan. Agar efektif pemberian obat dilakukan secara terus menerus dan teratur.

· Pemasangan keran Ahmed Valve
Untuk mengatasi glaukoma yang kondisinya relatif parah, dokter akan memasang keran buatan yang populer disebut ahmed valve. Nama ini berasal dari nama penemunya, yakni Ahmed, warga Amerika Serikat (AS) asal Timur Tengah yang pertama kali menciptakan klep tersebut sekitar 10 tahun silam. Alat ini terbuat dari bahan polymethyl methacrylate (PMMA), yakni bahan dasar lensa tanam.

Ahmed valve ditanamkan pada bola mata dengan cara operasi. Bila tekanan bola mata berada pada 18 mmHg maka klep tersebut akan terbuka sehingga cairan yang tersumbat bisa keluar, sehingga tekanan bola mata otomatis akan turun. Sebaliknya, klep akan tertutup kembali bila tekanan sudah berada di bawah 18 mmHg

J. Komplikasi

Jika tidak diobati, bola mata akan membesar dan hampir dapat dipastikan akan terjadi kebutaan.

K. Prognosis

Pembedahan yang segera dilakukan setelah bayi lahir akan memberikan peluang terbaik untuk menurunkan tekanan di dalam mata dan untuk mempertahankan fungsi penglihatan.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

Tanda-tanda vital

Identifikasi faktor risiko dan riwayat keluarga

Observasi perilaku anak yang menunjukkan gangguan penglihatan

Kaji keluhan anak

Pemeriksaan penunjang

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nyeri b.d. agen cidera biologis.

Gangguan persepsi sensori : visual b.d. perubahan sensori motorik.

Risiko cidera b.d. gangguan visual

C. NURSING CARE PLAN

Dx 1 : Nyeri b.d. agen cidera biologis

Tujuan :

a. Nyeri berkurang.

b. Berada pada tingkat kenyamanan.

Kriteria Hasil :

a. Tidak mengekspresikan nyeri secara verbal atau pada wajah.

b. Tingkat nyeri anak berkurang atau hilang.

Intervensi :

a. Kaji skala nyeri.

b. Meredakan nyeri dengan balutan mata untuk membatasi gerakan mata.

c. Mengatur kamar atau ruangan dengan cahaya remang-remang.

d. Pemberian analgesik dan antibiotik.

Dx 2 : Gangguan persepsi sensori : visual b.d. perubahan sensori motorik

Tujuan :

Pencegahan deteriorisasi visual yang lebih berat.

Kriteria Hasil :

Anak dan keluarga mampu memahami kondisi yang terjadi.

Intervensi :

a. Memberikan reorientasi pada keluarga secara berkala terhadap realitas dan lingkungan

b. Memberikan penjelasan dan pemahaman untuk tindakan proteksi terhadap anak.

Dx 3 : Risiko cidera b.d. gangguan visual

Tujuan :

Risiko cidera menurun.

Kriteria Hasil :

Pengendalian risko yang ditunjukkan dengan :

a. Pantau faktor risiko perilaku anak dan lingkungan.

b. Mengembangkan dan mengikuti strategi pengendalian risiko.

c. Mengubah gaya hidup untuk mengurangi risiko.

Intervensi :

a. Pencegahan jatuh atau trauma lain pada anak.

b. Pemantauan terhadap anak.

c. Berikan materi dan pendidikan yang berhubungan dengan strategi dan tindakan untuk mencegah cidera.

BAB IV

KESIMPULAN

Glaukoma kongenital adalah suatu keadaan dimana tekanan bola mata tidak normal yang terjadi pada anak. Klasifikasinya ada dua macam, infantum dan juvenil. Kelainan ini akibat terdapatnya membran kongenital yang menutupi sudut bilik mata pada saat perkembangan bola mata, kelainan pembentukan kanal schlemm dan saluran keluar cairan mata yang tidak sempurna terbentuk. Manifestasi klinisnya antara lain mata berair peka terhadap cahaya, mata merah, kornea tampak kabur, kornea membesar, nyeri pada bagian mata dan ketajaman visual berkurang. Pemeriksaan penunjang antara lain :

· pemeriksaan retina

· pengukuran tekanan intraokuler dengan menggunakan tonometri

· pemeriksaan lapang pandang

· pemeriksaan ketajaman penglihatan

· pemeriksaan refraksi

· respon refleks pupil

· pemeriksaan slit lamp.

Kebutaan dapat terjadi sebagai komplikasi. Anak dengan glaukoma kongenital akan mengalami kecacatan penglihatan. Untuk itu diperlukan dukungan dan peran serta keluarga agar menghindarkan anak dari trauma atau kecelakaan lain karena ketajaman visual anak berkurang.

DAFTAR PUSTAKA

Whaley L.F. And D.L. Wong, (1995). Nursing Care Of Infants and Children. St. Louis : Mosby year Book

Mary E, Muscari. 2005. Keperawatan Pediatrik, Jakarta : EGC

Evelyn C, Pearce. 1990. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Wong, L Wong. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC

_______. 1998. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak, Jakarta : Info medika

Hurlock B, Elizabeth. 1993. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga

NANDA

NIC

NOC

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GLAUKOMA KONGENITAL

DISUSUN OLEH :

· Feri Setiawan Arya K (0502R00206)

· Febriana Prananingrum (0502R00207)

· Gilang Eka Prajanji [0502R00213]

· Rizka Suci Utami [0502R00304]

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN ‘AISYIYAH

YOGYAKARTA

2008

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Alhamdulillahirobbil’alamin

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah Keperawatan Anak 2 dengan masalah ” Glaukoma Kongenital ”. Makalah ini kami susun untuk memenuhi mata kuliah Keperawatan Anak 2 di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ’Aisyiyah Yogyakarta.

Makalah ini tidak akan selesai jika tanpa bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Dosen Keperawatan Anak 2
  2. Anggota kelompok yang ikut berpera aktif dalam proses pembuatan makalah ini
  3. Pihak lain yang terkait secara langsung atau tidak langsung dalam proses pembuatan makalah ini

Dengan keterbatasan yang ada, kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kesalahan-kesalahan yang kami buat. Oleh karena itu kami memohon saran, kritik, dan koreksi bagi pembaca sebagai acuan pembanding dalam pembuatan makalah-makalah berikutnya.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semuanya di masa mendatang.

Akhirnya kami ucapkan terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Yogyakarta, 2 April 2008

Penulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: