kep gawat darurat ketoasidosis diabetikum

Posted in Uncategorized on Mei 19, 2009 by brantas pamungkas

MAKALAH KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
KETOASIDOSIS DIABETIK (KAD)

Disusun Oleh :

Andre Eka (0205R00251) Dewi Aprilia (0502R00264)
Andri Purwandari (0205R00252) Dwi Yuni Untari (0502R00267)
Anggraeni Endah K (0205R00253) Dyah Kusuma W. (0502R00268)
Annisa Farkha s. (0205R00254) Erna Dwi (0502R00270)
Asmayanti (0205R00256) Fisty Farkhati (0502R00273)
Astri Purnitasari (0205R00257) Hesti Diana (0502R00275)
Bagus Prasetyo (0205R00260) Hosnu Inayati (0502R00276)
Brantas Pamungkas (0205R00261) Ifan Tyas P (0502R00277)
Desiani Wahyu u. (0205R00263) Ihat Solihati (0502R00278)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2009

KETO ASIDOSIS DIABETIK (KAD)
A. DEFINISI
Keto Asidosis Diabetik (KAD) adalah keadaan dekompensasi kekacauan metabolic yang ditandai oleh trias hiperglikemia, asidosis dan ketosis terutama disebabkan oleh defisiensi insulin absolut atau relative. KAD dan hipoglikemia merupakan komplikasi akut diabetes mellitus (DM) yang serius dan membutuhkan pengelolaan gawat darurat. Akibat diuresia osmotik, KAD biasanya mengalami dehidrasi berat dan dapat sampai menyebabkan syok.

B. ETIOLOGI
Terdapat pada orang yang diketahui diabetes oleh adanya stressor yang meningkatkan kebutuhan akan insulin, ini dapat terjadi jika diabetes tidak terkontrol karena ketidak mampuan untuk menjalani terapi yang telah ditentukan. Pencetus yang sering infeksi, stressor-stersor utama lain yang dapat mencetuskan diabetic ketoasidosis adalah pembedahan, trauma, terapi dengan steroid dan emosional

C. PATOFISIOLOGI
Adanya defisiensi insulin baik secara relatif maupun absolut yang disertai peningkatan hormon-hormon kontra regulator yakni : glukagon, katekolamin, kortisol, dan growth hormone, menyebabkan hiperglikemia disertai peningkatan lipolisis dan produksi keton, yakni : asetoasetat, β-hidroksibutirat dan aseton yang merupakan asam kuat dan dapat menyebabkan asidosis metabolik. Hiperglikemia menyebabkan diuresis osmotik yang mengakibatkan dehidrasi dan kehilangan mineral dan elektrolit

D. MANIFESTASI KLINIS KAD
1. Poliuria
2. Polidipsi
3. Pengelihatan kabur
4. Lemah
5. Sakit kepala
6. Hipotensi ortostatik (penurunan tekanan darah sistolik 20 mmHg atau > pada saat berdiri)
7. Anoreksia
8. Mual
9. Muntah
10. Nyeri abdomen
11. Nafas aseton
12. Hiperventilasi
13. Perubahan status mental (sadar, letargik, koma)
14. Kadar gula darah tinggi (> 240 mg/dl)
15. Terdapat keton di urin
16. Nafas berbau aseton
17. Badan lemas
18. Bisa terjadi ileus sekunder akibat hilangnya K+ karena diuresis osmotik
19. Kulit kering
20. Keringat <<<
21. Kussmaul ( cepat, dalam ) karena asidosis metabolik

F. PEMERIKSAAN
1. Kadar glukosa darah: meningkat 200 – 100 mg/dl atau lebih
2. Elektrolit darah (tentukan corrected Na) dan osmolalitas serum.
3. Analisis gas darah, BUN dan kreatinin.
4. Darah lengkap (pada KAD sering dijumpai gambaran lekositosis), HbA1c, urinalisis (dan kultur urine bila ada indikasi).
5. Foto polos dada.
6. Ketosis (Ketonemia dan Ketonuria)
7. Aseton plasma (keton) : positif secara mencolok
8. Osmolalitas serum : meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 mOsm/l
Pemeriksaan Osmolalitas = 2[Na+K] + [GDR/18] + [UREUM/6]
9. Hemoglobin glikosilat : kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang mencerminkan kontrol DM yang kurang selama 4 bulan terakhir
10. Gas darah arteri : biasanya menunjukkan pH < 7,3 dan penurunan pada HCO3 250 mg/dl

G. KOMPLIKASI
Faktor-faktor yang mempengaruhi angka kematian akibat KAD adalah:
1. Terlambat didiagnosis karena biasanya penyandang DM dibawa setelah koma.
2. Pasien belum tahu bahwa ia menyandang DM.
3. Sering ditemukan bersama-sama dengan komplikasi lain yang berat, seperti: renjatan (syok), stroke, dll.
4. Kurangnya fasilitas laboratorium yang menunjang suksesnya penatalaksanaan KAD

Komplikasi yang dapat terjadi akibat KAD yaitu:
1. Oedema paru
2. Hipertrigliserida
3. Infark miokard akut
4. Hipoglikemia
5. Hipokalsemia
6. Hiperkloremia
7. Oedema otak
8. Hipokalemia

H. PENATALAKSANAAN
Prinsip terapi KAD adalah dengan mengatasi dehidrasi, hiperglikemia, dan ketidakseimbangan elektrolit, serta mengatasi penyakit penyerta yang ada.
Pengawasan ketat, KU jelek masuk HCU/ICU
Fase I/Gawat :
1. Rehidrasi
a) Berikan cairan isotonik NaCl 0,9% atau RL 2L loading dalam 2 jam pertama, lalu 80 tpm selama 4 jam, lalu 30-50 tpm selama 18 jam (4-6L/24jam)
b) Atasi syok (cairan 20 ml/kg BB/jam)
c) Bila syok teratasi berikan cairan sesuai tingkat dehidrasi
d) Rehidrasi dilakukan bertahap untuk menghindari herniasi batang otak (24 – 48 jam).
e) Bila Gula darah < 200, ganti infus dengan D5%
f) Koreksi hipokalemia (kecepatan max 0,5mEq/kgBB/jam)
g) Monitor keseimbangan cairan
2. Insulin
a) Bolus insulin kerja cepat (RI) 0,1 iu/kgBB (iv/im/sc)
b) Berikan insulin kerja cepat (RI) 0,1/kgBB dalam cairan isotonik
c) Monitor Gula darah tiap jam pada 4 jam pertama, selanjutnya tiap 4 jam sekali
d) Kecepatan gula darah  100mg%/jam
e) Pemberian insulin parenteral diubah ke SC bila : AGD < 250mg%, Perbaikan hidrasi, Kadar HCO3  15 mEq/L

3. Infus K (tidak boleh bolus)
o Bila K+ < 3mEq/L, beri 75mEq/L
o Bila K+ 3-3.5mEq/L, beri 50 mEq/L
o Bila K+ 3.5 -4mEq/L, beri 25mEq/L
o Masukkan dalam NaCl 500cc/24 jam
4. Infus Bicarbonat
o Bila pH 7,1, tidak diberikan
5. Antibiotik dosis tinggi
Batas fase I dan fase II sekitar GDR 250 mg/dl atau reduksi
Fase II/maintenance:
1. Cairan maintenance
o Nacl 0.9% atau D5 atau maltose 10% bergantian
o Sebelum maltose, berikan insulin reguler 4U
2. Kalium
o Perenteral bila K+ 240 mg/dL atau badan terasa tidak enak.
4. Saat sakit, makanlah sesuai pengaturan makan sebelumnya. Bila tidak nafsu makan, boleh makan bubur atau minuman berkalori lain.
5. Minumlah yang cukup untuk mencegah dehidrasi.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Anamnesis :
Riwayat DM
Poliuria, Polidipsi
Berhenti menyuntuk insulin
Demam dan infeksi
Nyeri perut, mual, mutah
Penglihatan kabur
Lemah dan sakit kepala
Pemeriksan Fisik :
Ortostatik hipotensi (sistole turun 20 mmHg atau lebih saat berdiri)
Hipotensi, Syok
Nafas bau aseton (bau manis seperti buah)
Hiperventilasi : Kusmual (RR cepat, dalam)
Kesadaran bisa CM, letargi atau koma
Dehidrasi

1. Pengkajian gawat darurat :
a. Airways : kaji kepatenan jalan nafas pasien, ada tidaknya sputum atau benda asing yang menghalangi jalan nafas
b. Breathing : kaji frekuensi nafas, bunyi nafas, ada tidaknya penggunaan otot bantu pernafasan
c. Circulation : kaji nadi, capillary refill
2. Pengkajian head to toe
a) Data subyektif :
• Riwayat penyakit dahulu
• Riwayat penyakit sekarang
• Status metabolik : intake makanan yang melebihi kebutuhan kalori, infeksi atau penyakit-penyakit akut lain, stress yang berhubungan dengan faktor-faktor psikologis dan social, obat-obatan atau terapi lain yang mempengaruhi glikosa darah, penghentian insulin atau obat anti hiperglikemik oral.
b) Data Obyektif :
1. Aktivitas / Istirahat
Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan, kram otot, tonus otot menurun, gangguan istrahat/tidur
Tanda : Takikardia dan takipnea pada keadaan istrahat atau aktifitas Letargi/disorientasi, koma
2. Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat hipertensi, IM akut, klaudikasi, kebas dan kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki, penyembuhan yang lama, takikardia.
Tanda : Perubahan tekanan darah postural, hipertensi, nadi yang menurun/tidak ada, disritmia, krekels, distensi vena jugularis, kulit panas, kering, dan kemerahan, bola mata cekung.
3. Integritas/ Ego
Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi
Tanda : Ansietas, peka rangsang
4. Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia, rasa nyeri/terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISK baru/berulang, nyeri tekan abdomen, diare.
Tanda : Urine encer, pucat, kuning, poliuri ( dapat berkembang menjadi oliguria/anuria, jika terjadi hipovolemia berat), urin berkabut, bau busuk (infeksi), abdomen keras, adanya asites, bising usus lemah dan menurun, hiperaktif (diare)
5. Nutrisi/Cairan
Gejala : Hilang nafsu makan, mual/muntah, tidak mematuhi diet, peningkatan masukan glukosa/karbohidrat, penurunan berat badan lebih dari beberapa hari/minggu, haus, penggunaan diuretik (Thiazid)
Tanda : Kulit kering/bersisik, turgor jelek, kekakuan/distensi abdomen, muntah, pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan metabolik dengan peningkatan gula darah), bau halisitosis/manis, bau buah (napas aseton)
6. Neurosensori
Gejala : Pusing/pening, sakit kepala, kesemutan, kebas, kelemahan pada otot, parestesi, gangguan penglihatan
Tanda : Disorientasi, mengantuk, alergi, stupor/koma (tahap lanjut), gangguan memori (baru, masa lalu), kacau mental, refleks tendon dalam menurun (koma), aktifitas kejang (tahap lanjut dari DKA).
7. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Abdomen yang tegang/nyeri (sedang/berat)
Tanda : Wajah meringis dengan palpitasi, tampak sangat berhati-hati
8. Pernapasan
Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergantung adanya infeksi/tidak)
Tanda : Lapar udara, batuk dengan/tanpa sputum purulen, frekuensi pernapasan meningkat
9. Keamanan
Gejala : Kulit kering, gatal, ulkus kulit
Tanda : Demam, diaphoresis, kulit rusak, lesi/ulserasi, menurunnya kekuatan umum/rentang gerak, parestesia/paralisis otot termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam).
10. Seksualitas
Gejala : Rabas vagina (cenderung infeksi)
Masalah impoten pada pria, kesulitan orgasme pada wanita
11. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Faktor resiko keluarga DM, jantung, stroke, hipertensi. Penyembuhan yang lambat, penggunaan obat sepertii steroid, diuretik (thiazid), dilantin dan fenobarbital (dapat meningkatkan kadar glukosa darah). Mungkin atau tidak memerlukan obat diabetik sesuai pesanan. Rencana pemulangan : Mungkin memerlukan bantuan dalam pengaturan diet, pengobatan, perawatan diri, pemantauan terhadap glukosa darah.

B. Diagnosa Prioritas
1) Kerusakan ventilasi spontan berhubungan dengan faktor metabolic
2) Pola napas tidak efektif berhubungan hiperventilasi
3) Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan volum aktif

C. Intervensi
1. Kerusakan ventilasi spontan berhubungan dengan factor metabolic
Tujuan :
- Efektifnya jalan nafas
- Pengeluaran secret yang efektif
- Bebas dari dispnea
Intervensi
- Kaji respon pergantian status pernafasan klien (ekspirasi-inspirasi)
- Monitor dispnea dan penurunan RR
- Kaji riwayat klien penyakit kronik pernafasan
- Suction apabila diperlukan
- Kolaborasi dengan klien dan keluarga untuk pemasangan intubasi dan ventilator
- Kolaborasi pemberian analgesic dan sedative jika diperlukan
- Lakukan analisa gas darah, dan tidal volume
- Gunakan komunikasi efektif pada klien
- Jelaskan pada keluarga tentang keadaan klien yang mengalami dispnea, atau gangguan paru
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kelemahan otot pernafasan
Tujuan :
- Pola nafas pasien kembali teratur.
- Respirasi rate pasien kembali normal.
- Pasien mudah untuk bernafas.
Intervensi:
- Kaji status pernafasan dengan mendeteksi pulmonal.
- Berikan terapi fisik dada termasuk drainase postural.
- Penghisapan untuk pembuangan lendir.
- Identifikasi kemampuan dan berikan keyakinan dalam bernafas.
- Kolaborasi dalam pemberian farmakologi.
3. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan volum aktif
Tujuan :
- TTV dalam batas normal
- Pulse perifer dapat teraba
- Turgor kulit dan capillary refill baik
- Keseimbangan urin output
- Kadar elektrolit normal

Intervensi
- Kaji riwayat durasi/intensitas mual, muntah dan berkemih berlebihan
- Monitor vital sign dan perubahan tekanan darah orthostatic
- Monitor perubahan respirasi: kussmaul, bau aceton
- Observasi kualitas nafas, penggunaan otot asesori dan cyanosis
- Observasi ouput dan kualitas urin.
- Timbang BB
- Pertahankan cairan 2500 ml/hari jika diindikasikan
- Ciptakan lingkungan yang nyaman, perhatikan perubahan emosional
- Catat hal yang dilaporkan seperti mual, nyeri abdomen, muntah dan distensi lambung
- Obsevasi adanya perasaan kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak teratur dan adanya distensi pada vaskuler
Kolaborasi:
a) Pemberian NS dengan atau tanpa dextrosa
b) Albumin, plasma, dextran
c) Pertahankan kateter terpasang
d) Pantau pemeriksaan lab :
o Hematokrit
o BUN/Kreatinin
o Osmolalitas darah
o Natrium
o Kalium
e) Berikan Kalium sesuai indikasi
f) Berikan bikarbonat jika pH <7,0
g) Pasang NGT dan lakukan penghisapan sesuai dengan indikasi

Daftar pustaka
.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed 4, jilid III. (2006). Jakarta: FKUI
Carpenito, Lynda Juall (2000), Buku saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC, Jakarta
Corwin, Elizaeth J. (2001). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta:EGC
Hall, Jasse B., Schmitt, Gregors A.( 2007). Critical Care: Just The Facts. USA: Mc Graw-Hill Companies inc
Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medical Bedah; Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. USA: Mosby
Morton, patricia Gonce dkk. (2005). Critical Care Nursing A Holistik Approach.8th ed. USA: Lippincot

Posted in Uncategorized on Mei 2, 2009 by brantas pamungkas
borobudur coy  2003

borobudur coy 2003

Posted in Uncategorized on Mei 2, 2009 by brantas pamungkas
rainas 2003

rainas 2003

TUGAS KELOMPOK HIPEREMESIS GRAFIDARUM

Posted in Uncategorized on Mei 2, 2009 by brantas pamungkas

KATA PENGANTAR

Assalamu alaikm Wr.Wb

Dengan memanjatkan puji dan sukur kehadiran allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidyahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah matrnitas yang berjudul hiperemesis grafidarum tepat waktu
Dalam tugas ini kami mengucapkan terima kasih kapada kepada allah swt hingga terselesainya makalah ini kami juga mengucapkan terma kasih atas bimbingan dan dorongan dari semua pihak kami ucapkan terimakasih kepada :

1. ibu yuni P S kepNs selaku dosen coordinator mata kuliah maternitas
2. perpustakaan sebagai sumber dalam penyelesaian makalah ini
3. teman teman sekelompok yang berpartisipasi aktif dalam penyelesaian makalah ini

kami menyadari bahwa pembuatan makalah ini kurang dari sempurna untuk itu mohon kritik dan saran demi penyelesaian makalah ini
wassalam mualaikum Wr Wb.

H I P E R E M E S I S G R A F I D A R U M

P e n d a h u l u a n

Kehamailan adalah keadaan fisiologis pada suaktu waktu tapi hal ini memerlukan perhatian khusus karena pada saat hamil terjadi perubahan fisiologis dan sirkulasi darah pencernaan ,prubahan hormone,serta perubahan psikologis ibu hamil, akibat perubahan tidak jarang menimbulkan masalah bagi kehamilan itu sendiri, pada kehamilan T.1 bahakan T.2 ibu hamil sering merasakan mual dan muntah. Rasa mual dan muntah yang berat sering mengganggu pekerjaan sehari-hari,sehingga keadaan umummenjadi buruk, hal ini dikenal sebagai Hiperemesis grafidarum.
Berdasarkan uraian terebut di atas perlu di ketahui gambaran asuhan keperwatan pada klien hiperemesis gradidarum dengan pendekatan proses keperawatan dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan ,evaluasi serta dokumentasi.

D e v i n I s i
1. Mual dan muntah yang berlebih pada wanita hamil sehingga menganggu pekerjaan sehari –hari dan keadaan umum menjadi dehidrasi.
2. Memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum, Sehingga berat badan ibu hamil sangat turun,turgor kulit berkurang,deuresis dan timbul aseton dalam urin.
3. Gejala mual dan muntah yang berat yang disebabkan oleh peningkatan kadar hormone estrogen dan HCG dalam serum dan dapat berlangsung sampai 4 bulan.

E t i o l o g i
1. Faktor predisposisi : Sering terjadi pada pringravida, Mola hidatosa, DM dan kehamilan ganda akibat peningkatan kadar hormon HCG
2. Faktor organic : Masukan vili khoriales dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolic.
3. Fakultas psikologis : Keretakan rumah tangga, kehilangan pekerjaan rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut memikul tangungjawab, biasanya hilang pada bulan ke-4 jika mendapat dukungan psikologis yang efektif.
4. Faktor endokrin : Hipertiroid, DM.

T a n d a d a n g e j a l a
• Muntah yang hebat
• Haus
• Dehidrasi
• Berat badan turun
• Keadaan umum mundur
• Kenaikan suhu
• Icterus
• Gangguan cerebral ( kecerdasan menurun, derilium )
• Laboratorium : Protein,aseton, uribilinogen, porphirin dalam urin bertambah, silinder ( + ).

T I n g k a t a n H . G

a. Tingkat 1 ( ringan ) :
Mual muntah trus menerus menyebabkan penderita lemah,tidak mau makan, BB turun, dan rasa nyeri di epigastrium nadi sekitar 100 kali permenit, tekanan darah turun,turgor kulit kurang, lidah kering dan mata cekung.

b. Tingkat 2 ( sedang ) :
Mual dan muntah yang hebat menyebabkan keadaan umum penderita lebih parah, lemah apatis, turgor kulit mulai jelek, lidah kering dan kotor, nadi kecil dan cepat, suhu badan naik ( dehidrasi ), ikterus ringan, BB turun, mata cekung, tensi turun, hemokosentrasi, oligouri dan konstipasi, aseton dapat tercium dalam hawa pernafasan dan dapat pula di temukan dalam urin.

c. Tingkat 3 ( berat ) :
Keadaan umum jelek, kesadaran sangat menurun, sonalem sampai koma, nadi kecil halus dan cepat, dehirasi hebat, suhu badan naik, dan tensi turun sekali, ikterus komplikasi yang dapat berakibat fatal yang terjadi pada SSP ( ensofolopi wernicke ) dengan adanya nistagmus, diplopia, perubahan mental.

Faktor predisposisi / Organik / Psikologis / Endokrin

SSP / Akibat berkurangnya pengosongan lambung

Peningkatan estrogen dan HCG

Terjadi penyesuaian tubuh terhadap hormone tersebut

Jika mual dan muntah berlebihan menyebabkan hiperemesis grafidarum

D I a g n o s a
• Ketidakseimbangan nutrisi berhubungan tidak mampu mengabsorbsi makanan karena factor biologi dan psikologi di tandai dengan : intake makanan kurang dari kebutuhan.
• Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif ditandai dengan :
1. Nadi meningkat , tekanan darah menurun, vol / tekanan nadi menurun.
2. Penurunan turgor kulit
• Kelelahan berhubungan dengan kehamilan ditandai dengan :
1. Lelah
2. Kurangnya energi atau tidak mampu mempertahankan aktifitas fisik sesuai tingkat biasanya.

• HDR berhubungan dengan kuramg pengakuan atau penghargaan ditandai dengan
1. Mengekspresikan tidak berdaya dan tidak brguna

• Cemas Berhubungan dengan perubahan dalam status kesehayan ditandai dengan :
1. Mual
2. Peningkatan takanan darah

• Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan turgor kulit

Asuhan Keperawatan :

A. Ketidakseimbangan volume cairan aktif ditandai dengan :

• Nadi meningkat, tekanan darah menurun, volume/ tekanan nadi menurun
• Penurunan turgor kulit / lidah

Tupan : Di penuhinya keseimbanagan elektrolit dan asam basa dalam waktu 3 * 24 jam
Tupen : Kebutuhan cairan, cairan akan terpenuhi / seimbang dalam 3 * 60 menit.

K r I t e r I a h a s I l :
1. Frekuensi nadi dan irama kembali normal
2. Elektrolit serum,missal : Ka, Ca, Na, dan Mg dalam baas normal
3. Kekerangan Vol cairan, elektrolit dan asam basa.
4. Memiliki asupan cairan oral dan atau intravena yang adekuat.

I n t e r v e n s i
1. Management cairan
Aktifitas
• Monitor vital sign klien
• Monitor perubahan berat badan sebelum dan sesudah dialysis
• Pemberian dan pemantauan cairan dan obat intravena
• Berikan cairan
2. Management elektrolit
Aktifitas
• Pemberian dan pemantauan cairan dan obat intra vena
• Berikan cairan garam melalui NGT
• Monitor irama jantung
• Instruksikan pada klien dan keluaga unuk memodivikasi diet khusus
3. Monitor Cairan
Aktifitas
• Monitor intake dan output cairan
• Monito serum dan tingkat elektrolit dalam urine
• Monitor tekanan darah dan irama jantung.

I m p l e m e n t a s i
1. Memberikan dan memantau cairan dan obat melalui intra vena
2. Mengukur vital sign klien
3. Memberikan cairan garam melalui NGT
4. Mengukur intake dan output cairan

B. Ketidakseimbangan nutrisi berhubungan dengan : tidak mampu mengabsorbsi makanan karena factor biologi dan psikologi ditandai dengan :

• Intake makanan kurang dari kebutuhan

Tupan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi dalam waktu 3 * 4 jam
Tupen : Mengembalikan nafsu makan klien dalam waktu 12 * 60 menit

K r I t e r I a h a s I l :
• Jumlah makan dan cairan yang di konsumsi tubuh seimbang
• Mempertahankan masa tubuh dan BB dalam batas nomal
• Asupan gizi yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan tubuh

I n t e r v e n s i :
1. Management nutrisi

• Seleksi makanan klien
• Jaga keseimbangan BB klien
• Monitor kebutuhan nutrisi dan kalori
• Tawarkan makanan ringan
• Tingkatkan intake protein, zat besi, dan vit C

2. Management gangguan nafsu makan

• Monitor kebutuhan kalori klien
• Berikan umpan balik positif pada pasien yang menunjukkan peningkatan nafsu makan
• Berikan makan yng sesuai dengan selera pasien.

3. Membantu menaikkan BB

• Monitor mual dan muntah
• Monitor makanan yang menarik dengan pasien
• Ajarkan pada keluarga dan pasien dalam memilih nutrisi yang baik.

I m p l e m e n t a s i

• Memberikan umpan balik positif pada klien yang menunjukkan peningkatan nafsu makan
• Meningkatkan intake protein zat besi dan vit C
• Membantu klien untuk mengatasi rasa mual dan muntah
• Menawarkan makanan ringan pada klien 2 jam sebelum makan.

P e n u t u p

Kesimpulan :

• Gejala mual dan muntah yang berat yang di sebabkan oleh peningkatan kadar hormone estrogen dan HCG dalam serum dan dapat berlangsung sampai 4 bulan
• Etiologi :
1. Faktor predisposisi
2. Faktor organic
3. Faktor Psikologi
4. Faktor Endokrin
• Tanda dan gejala
1. Muntah yang hebat
2. Dehidrasi
3. BB turun
4. Icterus
• Tingkat H.G
1. Tingkat 1 ( Ringan )
2. Tingkat 2 ( Sedang )
3. Tingkat 3 ( Berat )
• Pada penderita Hiperemesis gravidarum memerlukan perawatan khusus.

S a r a n :
1. Untuk mengatasi rasa mual dan muntah makan roti kering dan the hangat di pagi hari
2. Makan sedikit tapi sering
3. Hindari makanan berlemak dan berbau tajam
4. Memberikan informasi pada pasien da keluarga yang mempunyai resiko hiperemesis gravidarum.

BIOKIMIA ENZIM

Posted in Uncategorized on Mei 2, 2009 by brantas pamungkas

Enzim berasal dari kata EN-ZYME yang berarti dalam ragi. Dihubungkan dengan aktivitas enzim dalam ragi, misalnya pada pembuatan tape ketan atau ketela dengan menggunakan ragi roti. Enzim merupakan suatu biokatalis, artinya suatu katalisator yang disintesis oleh organisme hidup. Secara structural enzim adalah protein, sehingga sifat-sifat protein dimiliki oleh enzim, seperti termolabil, rusak oleh logam berat (Ag,Pb,Hg), terganggu oleh perubahan pH.
Aktivitas enzim umumnya bersifat spesifik. Nomenklatur yang mula-mula digunakan sangat sederhana, yaitu dengan mencantumkan akhiran ase pada nama substrat di mana enzim itu bekerja. Misalnya proteinase : yaitu enzim yang bekerja pada protein, lipase : enzim yang bekerja pada lipid, dsb. Ada pula yang mencantumkan akhiran ase pada jenis reaksinya, missal oksidase yaitu enzim yang bereaksi secara oksidasi, reduktase yaitu enzim yang bereaksi secara reduksi. Namun kesemuanya masih memberikan kesimpangsiuran atau kurangtepatnya nomenklatur enzim; sehingga IUB (International Union of Biochemistry) menganut satu aturan kode dengan cara membagi enzim kedalam enam kelas, yaitu :
1. Oksidoreduktase :
Enzim yang mengkatalisis reaksi oksidasi-reduksi antara dua substrat
Ex : katalase (1.11.1.6 Enzim yang bekerja pada H2O2 : disebut H2O2 Oksidoreduktase)

1.1 bekerja pd gugus C-OH
1.4 bekerja pd gugus CH-NH2
1.9 bekerja pd gugus Hem
1.11 bekerja pd gugus H2O2
2. Transferase :
Mengkatalisis pemindahan gugus (selain H) antara sepasang substrat.
Ex : heksokinase (2.7.1.1 Pemindah gugus yang mengandung fosfat, misal ATP : D-heksosa-6 fosfo tranferase)
2.3 pemindah gugus asil trnsfr\
2.7 pemindah gugus fosfat
3. Hidrolase :
Mengkatalisis hidrolisis ikatan ester, eter, peptida, glikosil, anhidrida asam, c-c, c-halida, P-N.
Ex : pseudokolin esterase (3.1.1.8 asilkolin asilhidrolase)
4. Liase :
Mengkatalisis pemindahan gugus dari substrat, meninggalkan ikatan rangkap.
Ex : fumarase (4.2.1.2 L-malat-hidro-liase)
L-malat = fumarat + H2O
5. Isomerase :
Ex : triosafosfat isomerase
5.3.1.1 D-gliseraldehida-3 fosfat keto isomerase
6. Ligase :
Mengkatalisis penggabungan 2 senyawa diikuti oleh pemecahan ikatan piropospat dalam ATP atau senyawa yang sejenis.
Ex : glutamin sintase
6.3.1.2 L-glutamat : amonia ligase (ADP)
ATP – L-glutamat + NH43+ = ADP + ortofosfat — L glutamin

Keterangan :
• Digit I menunjukkan kelas; Digit II menunjukkan sub kelas; Digit III menunjukkan sub sub kelas; Digit terakhir menunjukkan nama Enzim.

KOFAKTOR
Sejumlah besar enzim membutuhkan suatu komponen lain untuk dapat berfungsi sebagai katalis. Komponen ini secara umum disebut kofaktor. Kofaktor dapat dibagi lagi dalam tiga kelompok, yaitu :
a. gugus prostetik
b. koenzim
c. activator (ion-ion logam yang dapat atau mudah terlepas dari enzim)

a. GUGUS PROSTETIK
Adalah kelompok kofaktor yang terikat pada enzim, dan tidak mudah lepas dari enzimnya, Contoh : Flavin Adenin Dinukleotida (FAD) adalah gugus prostetik dari enzim suksinat dehidrogenase

b.KOENZIM
1. Merupakan senyawa organik dengan berat molekul kecil; non protein
2. Stabil terhadap panas
3. Banyak diperlukan untuk aktivitas Enzim kecuali Enzim pencernaan (reaksi hidrolitik)
4. Terikat pada Enzim ada yang secara kovalen (prostetik) kebanyakan non kovalen
5. Dianggap sebagai substrat ke-2 :

Contoh : NAD,NADP,ATP,tiamin pirofosfat

- Pada reaksi Oksidasi – reduksi
Laktat + NAD+ —– piruvat + NADH+ + H+
(ko-substrat)

- berfungsi sebagai reagen pemindah gugus

Ex : D-G + A = A-G + D
Gugus fungsional G dipindah dari molekul D-G, ke molekul penerima A; melibatkan koEnzim;

D-G Co-E A-G

D Co-E-G A

Ex : transaminasi

Klasifikasi koenzim

1. Pemindah gugus H
NAD+ , NADP+, FMN, FAD As. Lipoat, co-Enzim Q
—- kebanyakan derivat vit. B dan adenosin monopospat.

2. Pemindah gugus selain H
 Gula phosphat
 CoA.SH
 KoEnzim folat
 KoEnzim kobomida (vit. B12)
 As. Lipoat
 Thiamin piropospat
 Piridoksal pospat
 Biotin

c. AKTIVATOR
Adalah ion-ion logam yang dapat terikat atau mudah terlepas dari enzim. Contoh K+, Mg++,Mn++, Cu++ atau Zn++

ISOZIM
 Enzim dengan sifat-sifat kimia dan fisika yang berbeda tetapi mempunyai aktivitas katalitik yang sama
 Contoh Isozim : laktat dehidrogenase (mengubah asam keto piruvat menjadi asam laktat)
• Proporsinya berubah secara bermakna dalam keadaan patologik
• Berbeda pada struktur kuartener
• Molekul oligomer terdiri dari 4 protomer dari 2 jenis, H dan M
• Molekul tetrametrik memiliki aktivitas katalitik
• Kemungkinan bentuk/urutan isomer :
HHHH ——- I1
HHHM ——- I2
HHMM ——- I3
HMMM —— I4
MMMM —— I5

ENZIM DALAM DIAGNOSIS KLINIK

* Enzim plasma fungsional :
Ex : lipoprotein lipase, pseudokolin esterase pro Enzim pembekuan dan pemecahan darah
Umumnya disintesis dalam hati; konsentrasi darah, sama atau sudah lebih tinggi dari jaringan
* Enzim plasma non fungsional :
– tidak melakukan fungsi fisioliogik yang dikenal
- substratnya sering tidak terdapat dalam plasma
- kadarnya jauh lebih rendah dari jaringan sehingga dapat membantu diagnostik dan prognostik klinik yang berharga
- berasal dari destruksi eritrosit, leukosit dan sel-sel lain

Penentuan aktivitas Enzim untuk bukti diagnostik :
1. Lipase :
kadar rendah — penyakit hati, def. Vit. A, DM
kadar tinggi — karsinoma pankreas dan pankreatitis akut
2. Amilase :
rendah – penyakit kati
tinggi – obstruksi usus tinggi, parotitis, diabetes, pankreatitis akut
3. Tripsin :
tinggi – penyakit pankreatitis akut (lebih sensitif)
4. Kolin esterase :
rendah — penyakit hati, malnutrisi, infeksi akut, anemia
tinggi — sindroma nefritik
5. Alkalin fosfatase :
tinggi – rakhitis, hiper paratiroidism, sarkoma osteoblastik, ikterus obstruksi,
karsinoma metastatik
6. Fosfatase asam :
tinggi – karsinoma metastatik prostat
7. Trans aminase :
GOT : Glutamic oxaloacetate trans aminase
GPT : Glutamic piruvic trans aminase
Perkiraan GOT — infark miokard
GPT & GOT tinggi — penyakit hati akut
8. Laktat dehidrogenase (LDH) :
tinggi —- infark miokard (dalam 24 jam)
rendah —- leukimia
9. Isosim LDH :
Pengukuran polo isosim
10. Isositrat dehidrogenase (ICD) :
Untuk diagnosis penyakit hati
11. Kreatin fosfokinase :
Untuk diagnosis gangguan otot rangka dan jantung
12. Seruloplasmin :
tinggi —- sirosis, hepatitis, kehamilan
rendah —- penyakit wilson

Reaksi Enzimatis

Reaksi enzimatis dapat digambarkan sebagai berikut

Reaksi : E + S = ES E + P

E = enzim S = substrat ES = kompleks enzim-substrat P = produk

Mekanisme reaksi enzim-enzim ini dapat digambarkan dengan menggunakan :
1. Model Fischer (model kaku)
2. Model Koschland (model konformasi,model fleksibel)

Model Fischer

Model Koschland

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi enzimatis

1. Suhu
- kecepatan reaksi naik jika suhu naik; energi kinetik naik
- Q10 = koefisien temperatur
Ex : Q10 = 2 artinya kecepatan reaksi naik 2x dengan peningkatan suhu 10oC dan
kecepatan menjadi 1/2 dengan penurunan 10oC (pada kontraksi otot
jantung)
2. pH
- umumnya aktivitas Enzim optimum pada pH : 5.0 – 9.0

Reaksi

Enz- + SH+ —– EnzSH —– P + Enz

Pada pH rendah, Enz kehilangan muatan -

Enz- + H+ —– EnzH

Pada pH tinggi, SH mengionisasi

SH+ ——- S + H+

3. Substrat
E
S ——– P

Ditinjau kerja enzim pada substrat tunggal. Kadar substrat dinaikkan, kecepatan reaksi enzim meningkat bila kadar substrat terus dinaikkan, pada kadar substrat tertentu dicapai kecepatan reaksi enzim yang maksimal (Vmaks). Setelah Vmaks dicapai, penambahan substrat tidak lagi meningkatkan kecepatan reaksi enzim.
Km : konstante michaelis
- Adalah konsentrasi substrat yang mempunyai kecepatan reaksi 1/2 dari V maks
- rumus persamaan Michaelis. Menten

Vmaks (S)
V1 = —————
Km + (S)

A. Jika [S] sangat kecil dibanding Km (titik A). penambahan (S) ke Km pada bagian penyebut sangat sedikit berubah, karena Vmaks dan Km konstan, dapat ditulis dengan K

Vmaks (S) Vmaks(S)
V1 = ————— = ————— = K(S)
Km+(S) Km

Sehingga jika (S) sangat kecil untuk menghasilkan Km, kecepatan V1 tergantung
pada (S)

B. Jika [S] jauh lebih besar dari Km. Penambahan Km ke (S) pada penyebut, sangat sedikit berubah. Km dapat dihilangkan.
Vmaks (S) Vmaks(S)
V1 = ————– = ————— = Vmaks
Km+(S) (S)
Jadi kecepatan = Vmaks = maksimal
C. Jika (S) = Km

Vmaks(S) Vmaks(S) Vmaks(S) Vmaks
V1 = ———— = ————- = ———— = ————
Km+(S) (S) + (S) 2(S) 2

Jadi V1 = ½ Vmaks

Penentuan Km dan Vmaks menggunakan bentuk linier dengan persamaan Michaelis-Menten

Vmaks (S)
V1 = ————-
Km + (S)
Dibalik
1 Km + (S)
—– = —————
V1 Vmaks (S)

1 Km 1 (S)
—- = ——— . ——- + ————-
Vi Vmaks (S) Vmaks (S)

1 Km 1 1
—- = ——— . ——- + ———-
Vi Vmaks (S) Vmaks

Persamaan garis lurus

1 Km 1
Y = —— ; a = ———- ; b = ———
Vi Vmaks Vmaks

Km dapat ditentukan dengan :
1. plot line weaver – Burk (grafik )
2. cara Eadie dan Hofster

Vi 1 Vmaks
—- = – Vi . —— + ———
(S) Km Km

Vi Vmaks
Y = ——- , titik potong pada Y = ——–
(S) Km

X = Vi , titik potong pada X = Vmaks

Kemiringan = – 1/Km

4. Inhibitor
Berdasarkan daya kerjanya, maka dibedakan 2 macam inhibitor
a. inhibitor kompetitif
b. inhibitor non kompetitif

a. inhibitor kompetitif atau analog substrat
- mempunyai bentuk molekul yang mirip substrat
- misal : malonat(I) dgn suksinat (S) thd suksinat dehidrogenase
suksinat dpt dihidrolisis menjadi fumarat, malonat tdk dapat.
- terjadi pada daerah katalitik; struktur mirip dengan substrat
- sifat : reversibel

- kerja inhibitor
EnzI (inactive) —— Enz + PEnz
Enz

EnzS (active) —— Enz + P

 inhibitor non kompetitif reversibel
- tidak ada persaingan antara S dan I
- menurunkan Vmaks, tetapi tidak mempengaruhi Km
- terbentuk komplek EnzS dan EnzIS
- sifat : irreversibel

EnzI

Enz EnzIS —– Enz + P

EnS

Enz + P

Inhibitor irreversibel
- Racun Enzim seperti : yodoasetamid
Ion logam berat (Ag+, Hg+)
Oxidant dsb
Dapat mengurangi aktivitas Enzim
– tidak terdapat persamaan struktur dengan S, sehingga peningkatan (S) , umumnya
tidak menghilangkan penghambatan ini

Pro enzymes atau zymogen
 enzym yang belum aktif (prekursor Enzim)
 ex : pro kimo tripsin (245-aminoase residu poli peptida)
 pengaktifan pro kimo tripsin menjadi -kimo tripsin melibatkan 3 tempat proteolitik dan pembentukan senyawa antara aktif yaitu -kimo tripsin

Peran ion logam
Ion logan berperan penting pada struktur dan katalisis protein.
Lebih dari 25 % seluruh Enzim mengikat kuat atau membutuhkan ion logam untuk aktifitasnya.
a. MetalloEnzim dan “Enzim diaktifkan logam”
MetalloEnzim adalah Enzim yang mgd sejumlah ion logam ttt, yang dipertahankan selama proses pemurnian.
“Enzim diaktifkan logam” yi, ENZIM yang tidak mengikat logam dg kuat.
b.Kompleks ternary Enzim-logam-substrat

Terdapat 4 bentuk mineral dalam struktur molekul enzim-substrat:

Enz-S-M M-Enz- S
Jembatan substrat kompleks jembatan-Enzim

M
Enz-M-S S
Enz

Kompleks jembatan kompleks jembatan
logam sederhana logam siklik

Keempat bentuk mungkin untuk Enzim diaktifkan logam. Metalo Enzim tidak mampu membentuk En-S-M

Kompleks jembatan-Enzim (M-Enz-S) :
 logam turut berperan mempertahankan konformasi aktif atau membentuk jembatan logam dengan substrat

PENGATURAN AKTIVITAS ENZIM

Pengaturan aktivitas enzim dilakukan melalui beberapa cara
1. Pembentukan proenzim
2. Pengaturan allosterik
3. Inhibisi umpan balik
4. Modifikasi kovalen

TURN OVER ENZIM (pergantian enzim)

Merupakan pergantian yang lama dengan yang baru, jadi berhubungan dengan sintesis dan degradasi enzim. .Jadi enzim dalam keadaan yang dinamis, berarti yang lama akan selalu diganti yang baru.

 degradasi Enzim melibatkan proses proteolitik yang dikatalisis oleh Enzim lain
 kemampuan Enzim untuk degradasi proteolitik tergantung pada konformasi. Konformasi dipengaruhi oleh : substrat, koEnzim dan ion logam
Sintesis Enzim ditekan oleh :
 Produk akhir : molekul kecil seperti purin or asam amino
Misal : adanya histidin dalam medium Salmonella typhimurium menekan sintesis
semua Enzim yang mengikat biosintesis histidin.
Sebaliknya bila histidin dihilangkan sintesis Enzim normal
 Katabolit : senyawa antara dalam rangkaian reaksi yang diikat Enzim katabolik

perubahan pro Enzim menjadi Enzim :
oleh Enzim proteolitik atau ion H+

Mengapa Enzim tertentu di sekresi dalam bentuk tidak aktif ?
• diperlukan tidak setiap waktu (intermitent)
ex : Enzim untuk pembentukan dan pemecahan bekuan darah
pada proses pencernaan : waktu-waktu tertentu dan teratur dapat diprediksi
• melindungi jaringan asal (tempat penyimpanannya) dari autodigesti

FUNGSI IBU SULIT DIGANTI !!!!! FUNGSI ISTERI DAPAT DIGANTI

Posted in Uncategorized on Mei 2, 2009 by brantas pamungkas

Oleh: Amin Subargus
Demikianlah istilah yang diberikan kepada seorang istri dan seorang ibu. Peran istri dapat digantikan oleh banyak wanita tetapi peran ibu sangat sulit digantikan bahkan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup anaknya terutama anak yang baru dilahirkannya. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa jika seorang bayi berumur kurang dari 3 bulan ditinggal mati ibunya, maka kemungkinan kelangsungan hidup sang bayi hanya sekitar 30 % …… Itu artinya jika seorang ibu meninggal saat bayinya berusia kurang dari 3 bulan maka resiko kematiannya sebesar 70 % …. Nah lho !

Peran ibu sangat besar artinya, ditangan ibulah lahir putra-putri bangsa, dikatakan bahwa “membangun ibu adalah membangun bangsa, tetapi membangun bapak adalah membangun dirinya sendiri” …. Apa benar ?. Oleh karena itu kesehatan dan keselamatan ibu haruslah menjadi prioritas utama.

Kenyataannya tahun 2001 angka kematian ibu di Indonesia sebesar 334 per 100.000 kelahiran hidup. Hal tersebut dapat digambarkan dengan 1 buah pesawat terbang Jumbo Jet yang seluruh penumpangnya ibu-ibu hamil dan jatuh setiap 1 minggu sekali …. Bayangkan, andaikan hal tersebut dapat dicegah.

Angka kematian ibu di Indonesia walaupun mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya tetapi masih jauh dari angka yang diharapkan. AKI yang diharapkan pada tahun 2010 adalah sebesar 125 per 100.000 kelahiran hidup.

Sebenarnya apa penyebab kematian ibu ? Menurut data SKRT tahun 2001, 90 % penyebab kematian ibu karena adanya komplikasi dan 28 % diantaranya terjadi pendarahan dimasa kehamilan dan persalinan.
Ada beberapa sebab yang tidak langsung tentang masalah kesehatan ibu, yaitu :
• Pendidikan ibu-ibu terutama yang ada di pedesaan masih rendah. Masih banyaknya ibu yang beranggapan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan sesuatu yang alami yang berarti tidak memerlukan pemeriksaan dan perawatan, serta tanpa mereka sadari bahwa ibu hamil termasuk kelompok risiko tinggi. Ibu hamil memiliki risiko 50 % dapat melahirkan dengan selamat dan 50 % dapat mengakibatkan kematian.
• Sosial ekonomi dan sosial budaya Indonesia yang mengutamakan bapak dibandingkan ibu, sebagai contoh dalam hal makanan, sang bapak didahulukan untuk mendapat makanan yang bergizi sedangkan bagian yang tertinggal diberikan kepada ibu, sehingga angka anemia pada ibu hamil cukup tinggi mencapai 40 %.
• “5 terlalu “dalam melahirkan, yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering dan terlalu banyaks erta terlalu bernafsu, la you….
• “3 terlambat”, yaitu terlambat mengambil keputusan, terlambat untuk dikirim ke tempat pelayanan kesehatan dan terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan.

Berdasarkan hal tersebut bagaimana kebijakan dan strategi dalam menurunkan angka kematian ibu di Indonesia ?
Ada pendekatan yang dikembangkan untuk menurunkan angka kematian ibu yang disebut MPS atau Making Pregnancy Safer. 3 (tiga) pesan kunci dalam MPS yang perlu diperhatikan adalah :
1. Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih.
2. Setiap komplikasi obstetric dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat (memadai).
3. Setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran.

Kebijakan pemerintah dalam menurunkan angka kematian ibu adalah mendekatkan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang berkualitas kepada masyarakat. Kenapa bayi baru lahir termasuk kedalam kebijakan dalam menurunkan AKI ? karena ternyata bayi baru lahir sangat berhubungan erat dengan kesehatan ibu. Salah satunya seperti yang telah saya sampaikan di awal penulisan.

Sedangkan strategi dalam menurunkan AKI adalah :
• Peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang cost efektif dan didukung oleh :
• Kerjasama lintas program dan lintas sektor terkait, mitra lain, pemerintah dan swasta
• Pemberdayaan perempuan dan keluarga
• Pemberdayaan masyarakat.

Kegiatan yang dilakukan dalam menurunkan AKI yaitu :
1. Peningkatan kualitas dan cakupan pelayanan, melalui :
a. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan antara lain berupa penyediaan tenaga bidan di desa, kesinambungan keberadaan bidan desa, penyediaan fasilitas pertolongan persalinan pada polindes/pustu dan puskesmas, kemitraan bidan dan dukun bayi, serta berbagai pelatihan bagi petugas.
b. Penyediaan pelayanan kegawatdaruratan yang berkualitas dan sesuai standar, antara lain bidan desa di polindes/pustu, puskesmas PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasar), Rumah sakit PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Kualitas) 24 jam.
c. Mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran, antara lain dalam bentuk KIE untuk mencegah terjadinya 4 terlalu, pelayanan KB berkualitas pasca persalinan dan pasca keguguran, pelayanan asuhan pasca keguguran, meningkatkan partisipasi aktif pria.
d. Pemantapan kerjasama lintas program dan sektor, antara lain dengan jalan menjalin kemitraan dengan pemda, organisasi profesi (IDI, POGI, IDAI, IBI, PPNI), Perinasia, PMI, LSM dan berbagai swasta.
e. Peningkatan partisipasi perempuan, keluarga dan masyarakat, antara lain dalam bentuk meningkatkan pengetahuan tentang tanda bahaya, pencegahan terlambat 1 dan 2, serta menyediakan buku KIA. Kesiapan keluarga dan masyarakat dalam menghadapi persalinan dan kegawatdaruratan (dana, transportasi, donor darah), jaga selama hamil, cegah 4 terlalu, penyediaan dan pemanfaatan yankes ibu dan bayi, partisipasi dalam jaga mutu pelayanan.

2. Peningkatan kapasitas manajemen pengelola program, melalui peningkatan kemampuan pengelola program agar mampu melaksanakan, merencanakan dan mengevaluasi kegiatan (P1 – P2 – P3) sesuai kondisi daerah.

3. Sosialisasi dan advokasi , melalui penyusunan hasil informasi cakupan program dan data informasi tentang masalah yang dihadapi daerah sebagai substansi untuk sosialisasi dan advokasi. Kepada para penentu kebijakan agar lebih berpihak kepada kepentingan ibu dan anak.

Melalui berbagai upaya antara lain peningkatan pelayanan kesehatan, peningkatan kemampuan petugas serta melalui dukungan dan kemitraan berbagai pihak akan sangat menentukan upaya penurunan AKI terutama dengan memperhatikan 3 pesan kunci MPS.
Sumber: promkes.depkes.go.id.

OBAT KB DAN HORMON KELAMIN

Posted in Uncategorized on Mei 2, 2009 by brantas pamungkas

HORMON KELAMIN
• Dihasilkan khususnya oleh ovarium dan testis. Hormon ini menentukan ciri-ciri pria atau wanita primer dan sekunder.

• Androgen : Testosteron  Hormon pria
• Progesteron dan estrogen  hormon wanita
• Sintesis
Pembentukan hormon kelamin berawal
dari asetat, secara enzimatis diubah berturut-
turut menjadi kolesterol  Progesteron 
Testosteron  Estradiol  Estron  Estriol
• Kimia
Hormon kelamin memiliki struktur
steroida yang juga terdapat pada hormon
anak ginjal, kortisol, dan aldosteron.

A.1 Zat Androgen
• Testosteron  Hormon pria yang dihasilkan khusus dalam testis di dalam sel- sel leydig sebanyak 4-14 mg/hari.
• Menyebabkan ciri-ciri seks sekunder pria dan kemampuan reproduksi
• Cara Kerja
Meningkatkan perkembangan dan pemeliharaan organ seks pria, produksi sperma,, massa otot, libido, dan ciri seks sekunder lain.
• Indikasi
Defisiensi androgen (defisit pertumbuhan, impotensi), pubertas terlambat pada pria, meringankan kanker payudara, pembengkakan dan nyeri payudara pasca persalinan
• Efek Samping
Wanita –virilisme (hirsutisme), menstruasi yang tidak teratur. Pria-hiperplasia atau kanker prostate, ginekomastia (dosis tinggi pada penyakit hati), kebotakan berpola, penurunan jumlah sperma (umpan balik negatif). Kedua jenis kelamin – hiperkalsemia, koagulopati, retensi air dan natrium, hiperlipidemia, aterosklerosis, hepatitis kolestasis, kanker hati

A.2 Estrogen
• Mekanisme
Menginduksi sintesis protein spesifik melalui reseptor intrasel
Menekan efek androgen
• Indikasi
Kontrasepsi, vaginitis atrofik, osteoporosis, penyakit kardiovaskuler yang terkait menopause, perdarahan menstruasi hemoragik, kegagalan perkembangan ovarium, hirsutisme, kanker prostate
• Efek Samping
Nausea (memburuk pada waktu pagi, kemudian terjadi toleransi), nyeri tekan payudara dan edema, dan ginekomastia. Peran estrogen dalam mengubah risiko penyakit kardiovaskuler belum jelas
• Kontraindikasi
Kehamilan teratogenik, neoplasma yang tergantung estrogen, perdarahan pervaginam, kerusakan hati, kelainan tromboembolik
• Farmakokinetik
Sebagian besar estrogen diabsorpsi dengan baik secara
oral. Estrogen cenderung cepat didegradasi oleh hati
selama lintasan pertama dari saluran cerna. Metabolitnya
adalah glukororonida dan konjugat sulfide yaitu estradiol,
estron dan estriol.
• Manfaat :
1. Efek feminisasi
2. Proliferasi rahim
3. Laktasi
4. Efek anabolic
5. Efek anti ovulasi
6. Efek anti androgen
7. Retensi garam dan air
8. Lipida air

A.3 Progesteron
• Mekanisme
Menginduksi sintesis protein spesifik melalui
reseptor intrasel

• Indikasi
Kontrasepsi, perdarahamenstruasihemoragik/ tidak teratur, karsinoma endometrium, hipoventilasi
• Efek samping
Maskulinisasi pada penggunaan lama,
toksisitas minimal
• Farmakokinetik
Dimetabolisme oleh hati menjadi glukoronida
atau konjugat sulfat. Sebagian besar dosis awal
cepat didegradasi oleh metabolisme lintasan
pertama, sehingga progesterone tidak mencapai
jaringan bila diberikan secara oral. Progestin
sintetis sebaliknya tidak rentan terhadap
metabolisme lintasan pertama sehingga dapat
diberikan secara oral.

B. Obat KB hormonal
B.1 PIL  Suatu cara kontrasepsi untuk wanita dalam bentuk pil/ tablet di dalam strip yang berisi gabungan hormon wanita yaitu estrogen dan progesteron atau yang hanya terdiri progesteron saja.
Jenis Pil dan Kegunaanya
1. Pil Kombinasi
Terdiri dari estrogen dan progeteron. Mulai ditelan pada hari haid pertama/ke-5 selama 21 hari dan disusul istirahat selama 7 hari/7hari pil kosong tanpa hormon. Sebaiknya pil ini ditelan pada waktu yang sama, misalnya sebelum tidur.
2. Pil Bertahap
Tidak semua pil mengandung komponen dan kadar yang sama.
Pil bifasis/pil normofasis (Ovanon, Fysioquens)
Pil step-up (Binordiol, Sequilar)
Pil trifasis (Trinordiol, Trigynon)
3. Pil Mini (Exluton)
Berisi progesteron. Ditelan mulai hari haid pertama secara terus menerus tanpa istirahat. Lama kerjanya hanya 24 jam sehingga harus ditelan setiapm hari pada waktu yang sama dengan kelonggaran waktu 2 jam guna menjamin efektivitasnya.

3. Pil Suntik
Bukan pil, melainkan injeksi yang hanya mengandung progesteron seperti pil mini. Karena kerja panjangnya maka cukup penyuntikan 1 kali setiap 3 bulan (i. m.) pil suntik sangat cocok bagi wanita yang tidak sanggup/tidak bersedia menelan pil oral dengan teratur. Seringkali BB bertambah 2-4 kg dalam 2 bulan.

4. Pil Acne
Pil kombinasi dengan cyproteron sebagai progesten yang memiliki daya anti androgen sehingga hanya cocok untuk wanita yang menderita acne hebat yang tidak dapat dikendalikan dengan obat-obat lazim seperti lotion/crème&kapsul, juga bagi wanita yang dengan bentuk tertentu dari hirsutisme (rambut berlebihan di muka, lengan, kaki) akibat hiperaktivitas hormon pria.

• Faktor-faktor yang mengurangi keamanan pil:
lupa menelan
gangguan lambung usus
beberapa obat yang diminum bersamaan dengan pil
• Efek samping yang sering terjadi:
mual
rasa lelah
perdarahan tidak teratur
depresi
infeksi dengan candida
• Efek baiknya:
Mengurangi resiko kanker endometriun dan
ovarium
Mengurangi resiko tumor payudara tak ganas,
kista ovarium, salpingitis dan kehamilan di luar
rahim
Mengurangi resiko rematik
Menstruasi menjadi teratur
Mengurangi PMT (ketegangan saat haid)
• Kontra indikasi
Pil anti hamil tidak boleh digunakan bila ada riwayat trombosis, myoma, kanker payudara, penyakit hati, hiperlipemia.
Harus hati-hati penggunaannya pada pasien PJP&hipertensi, oedema, ginjal&endokrin(diabetes, hipertirosis), migrain.
Pil tidak dianjurkan untuk wanita di atas 35 tahun yang merokok berat/memiliki faktor resiko PJP. Pil sebaiknya dihentikan pada usia sekitar 40 tahun.

B.2 Suntik KB
• Jenis
1. Mengandung hormon progesteron
Depo Provera 150 mg
Depo Progestin 1550
Depo Geston 150 mg
Noristerat 200 mg
2. Mengandung 25 mg Medroxy Progesteron acetat dan 5 mg estradiol cypionate yaitu Cyclofem
• Cara kerja
1. Mencegah lepasnya sel telur dari indung telur wanita
2. Mengentalkan lendir mulut rahim sehingga spermatozoa tidak dapat masuk ke dalam rahim
3. Menipisnya endometrium sehingga tidak siap untuk kehamilan

• Efektifitas
Sangat tinggi, kegagalan kurang dari 1%.
• Keuntungan
1. Praktis, efektif, dan aman
2. Tidak mempengaruhi ASI, cocok digunakan untuk ibu menyusui
3. Dapat menrunkan kemungkinan anemia

• Kontraindikasi
1. Hamil
2. Perdarahan akibat kelainan ginekologi
3. Tumor/ keganasan
4. Penyakit jantung, hati, darah tinggi, Kencing manis
• Efek Samping
1. Gangguan haid
2. Depresi
3. Keputihan
4. Jerawat
5. Perubahan libido
6. Perubahan berat badan
7. Pusing dan sakit kepala

B.3 IMPLANT
• Kontrasepsi yang disusupkan di bawah kulit.
• Efektifitas sangat tinggi, kegagalan dalam praktek 1-3%
• Keuntungan:
1. Tidak menekan produksi ASI
2. Praktis, efektif
3. Tidak ada faktor lupa
4. Masa pakai jangka panjang 5 tahun
5. Membantu mencegah anemia
6. Dapat digunakan oleh ibu yang tidak cocok dengan ibu yang tidak cocok dengan estrogen

• Kerugian
1. Lebih mahal
2. Sering mengubah pola haid
3. Susuk mungkin dapat terlihat di bawah kulit
• Kontraindikasi:
1. Hamil/ diduga hamil
2. Perdarahan pervaginam yang tidak diketahui sebabnya
3. Tumor/ keganasan
4. Penyakit jantung, kelainan haid, darahtinggi, dan kencing manis

• Efek Samping
1. Gangguan haid
2. Depresi
3. Keputihan
4. Jerawat
5. Perubahan libido
6. Perubahan berat
7. Hematoma
8. Nyeri

B.4 Jenis- jenis obat kontrasepsi
• Injeksi
1. Cyklofem
2. Cyclogeston
3. Depogeston
4. Depo progestin
5. Depo provera

• Kapsul
1. Implanon
2. Inoplant

• Tablet
1. Endometril
2. Exluton
3. Gracial
4. Gynera
5. Halotestin
6. Lyndiol
7. Marvelon
8. Marcilon
9. Mycrogynon, dll

MAKALAH MASALAH – MASALAH SENSORIS PADA LANJUT USIA

Posted in Uncategorized on Mei 2, 2009 by brantas pamungkas

SISTEM SENSORI

A. Pendahuluan
Kesadaran sesorang akan dunianya ditentukan oleh mekanisme neural yang mengolah informasi yang diterima. Llangkah awal pada pengolahan ini adalah transformasi energi stimulus menjadi potensial reseptor lalu menjadi potensial aksi pad serabut saraf. Pola potensial aksi pada serabut saraf tertentu adalh kode yang memberikan informasi mengenai dunia, meskipun seringkali kode yang disampaikan berbeda dari apa yang ingin disampaikan.
Sistem sensori adalah bagian dari sistem saraf yang terdiri dari reseptor sensori yang menerima rangsangan dari lingkungan eksternal maupun internal, jalur neural yang yang menyalurkan informasi dari reseptor ke otak dan bagian otak yang terutama bertugas mengolah informasi tersebut. Informasi yang diolah oleh sistem sensori mungkin dapat menyadarkan kita tentang adanya stimulus, namun bisa juga kita tidak menyadari adanya stimulus tertentu. Tanpa memperhatikan apakah informasi tersebut menggugah kesadaran kita atau tidak, informasi tersebut adalah informasi sensori. Bila informasi tersebut menggugah kesadaran maka dapat pula disebut sebagai sensasi. Pemahaman mengenai sensasi disebut dengan persepsi, sebagai contoh,merasakan nyeri adalah sensasi, namun kesadaran bahwa gigi saya terasa sakit adalah persepsi.
Tampak bahwa sistem sensori beroperasi seperti peralatan listrik, misalnya bisa dilihat banyak analogi antara sistem sensori pendengaran dengan telephone, bedanya hanya pada hasil akhirnya. Pada telephone hasil akhirnya adalh suara yang
sama dari yang sebelumnya di ubah terlebih dahulu menjadi sinyal listrik, sedangkan pada pendengaran hasil akhirnya adalah sesuatau yang kita anggap sebagai suara.

B. Gangguan sensori

Pengertian :
Gangguan sensorik indera adalah : perubahan dalam persepsi derajat serta jenis reaksi seseorang yang diakibatkan oleh meningkat menurun atau hilangnya rangsangan indera
Gejala- gejala umum :
- Halusinasi dan atau waham
- Menarik diri
- Sikap bermusuhan yaitu dengan mencari petugas
- Perasaan yang tidak adekuat, suka menangis
- bingung atau disorientasi waktu, tempt dan perorangan
- gangguan indera misalnya: penciuman, perabaan, penglihatan dan pendengaran
- ganguan psikomotorik
- timbul kebosanan an gelisah
hal- hal yang menyebabkan gangguan sensorik :
 tersekap dalam ruangan yang sempit
 tersekap dalam ruangan yang tidak berjendela
 rangsangan dari luar secara terus- menerus, misalnya penerangan lampu, suaara tau kerumunan orang.
 Kurangnya rangsangan baru
 Penempatan klien lansia dalam ruangan yang terisolasi.

C. MASALAH SENSORI PADA LANSIA

a. Mata atau penglihatan

Mata dan pendengaran merupakan bagian yang vital dalam kehidupan untuk pemenuhan hidup sehari-hari, terkadang perubahan yang terjadi pada mata dan telinga dapat menurunkan kemampuan beraktifitas. Para lansia yang memilih masalh mata dan telinga menyebabkan orang tersebut mengalami isolasi sosial dan penurunan perawatan diri sendiri.
1. Mata normal
Mata merupakan organ penglihatan, bagian-bagian mata terdiri dari sklera, koroid dan retina. Sklera merupakan bagian mata yang terluar yang terlihat berwarna putih, kornea adalah lanjutan dari sklera yang berbentuk transparan yang ada didepan bola mata, cahaya akan masuk melewati bola mata tersebutsedangkan koroid merupakan bagian tengah dari bola mata yang merupakan pembuluh darah. Dilapisan ketiga merupakan retina, cahaya yang masuk dalm retina akan diputuskan leh retina dengan bantuan aqneous humor,lensa dan vitous humor. Aqueous humor merupakan cairan yang melapisi bagian luar mata, lensa merupakan bagian transparan yang elastis yang berfungsi untuk akomodasi.
2. Hubungan usia dengan mata
Kornea, lensa, iris, aquous humormvitrous humor akan mengalami perubahan seiring bertambahnya usia., karena bagian utama yang mengalami perubahan / penurunan sensifitas yang bisa menyebabkan lensa pada mata, produksi aquous humor juga mengalami penurunan tetapi tidak terlalu terpengaruh terhadap keseimbangan dan tekanan intra okuler lensa umum. Bertambahnya usia akan mempengaruhi fungsi organ pada mata seseorang yang berusia 60 tahun, fungsi kerja pupil akan mengalami penurunan 2/3 dari pupil orang dewasa atau muda, penurunan tersebut meliputi ukuran-ukuran pupil dan kemampuan melihat dari jarak jauh. Proses akomodasi merupakan kemampuan untuk melihat benda-bend dari jarak dekat maupun jauh. Akomodasi merupakan hasil koordianasi atas ciliary body dan otot-otot ins, apabial sesorang mengalami penurunan daya akomodasi makaorang tersebut disebut presbiopi.
5 masalah yang muncul ada lansia :
1. Penurunan kemampuan penglihatan
2. ARMD ( agp- relaed macular degeneration )
3. glaucoma
4. Katarak
5. Entropion dan ekstropion
1.1 Penurunan kemampuan penglihatan
Penurunan ini dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya adalah progesifitas dan pupil kekunningan pada lensa mata, menurunnya vitous humor, perubahan ini dapat mengakibatkan berbagai masalah pada usia lanjut seperti : mata kabur, hubungan aktifitas sosial, dan penampialan ADL, pada lansia yang berusia lebih dari 60 tahun lensa mata akan semakin keruh, beberapa orang tidak mengalami atau jarang mengalami penurunan penglihatan seirinng dengan bertambahnya usia.
2.2 ARMD ( Age- related macular degeneration )
ARMD terjadi pad usia 50-65 tahun dibeberapa kasus ini mengalami peningkatan makula berada dib
elakang lensa sedangkan makula sendiri berfungsi untuk ketajaman penglihatan dan penglihatan warna, kerusakan makula akan menyebabkan sesorang mengalami gangguan pemusatna penglihatan.
Tanda dan gejala ARMD meliputi : penglihatan samara-samar dan kadang-kadang menyebabkan pencitraan yang salah. Benda yang dilihat tidak sesuai dengan kenyataan, saat melihat benda ukuran kecil maka akan terlihat lebih kecil dan garis lurus akan terlihat bengkok atau bahkan tidak teratur. Pada dasarnya orang yang ARMD akan mengalami gangguan pemusatan penglihatan, peningkatan sensifitas terhadap cahaya yang menyilaukan, cahaya redup dan warna yang tidak mencolok. Dalam kondisi yang parah dia akan kehilangan penglihatan secara total. Pendiagnosaan dilakukan oleh ahli oftomologi dengan bantuan berupa test intravena fluorerensi angiografy.
Treatment
Beberapa kasus dalam ARMD dapat dilakukan dengan tembok laser (apabila akondisi tidak terlalu parah) pelaksanaan dalam keperawatan adalah membantu aktifitas sehari-harinya, membantu perawatan diri dan memberikan pendidikan tentang ARMD.

3.3 Glaukoma
Glaukoma dapat terjadi pada semua usia tapi resiko tinggi pada lansia usia 60 tahun keatas, kerusakan akibat glaukoma sering tidak bisa diobati namun dengan medikasi dan pembedahan mampu mengurangi kerusakan pada mata akibat glaukoma. Glaukoma terjadi apabila ada peningkatan tekanan intra okuler ( IOP ) pada kebanyakan orang disebabkan oleh oleh peningkatan tekanan sebagai akibat adanya hambatan sirkulasi atau pengaliran cairan bola mata (cairan jernih berisi O2, gula dan nutrisi), selain itu disebabkan kurang aliran darah kedaerah vital jaringan nervous optikus, adanya kelemahan srtuktur dari syaraf.
Populasi yang berbeda cenderung untuk menderita tipe glaukoma yang berbeda pula pada suhu Afrika dan Asia lebih tinggi resikonnya di bandinng orang kulit putih, glaukoma merupakan penyebab pertama kebutuhan di Asia.
Tipe glaukoma ada 3 yaitu :
1. Primary open angle Gloueoma (glaukoma sudut terbuka)
2. Normal tenion glukoma (glaucoma bertekanan normal)
3. Angel clousure gloukoma (Glaukoma sudut tertutup)

1.1 Primary open angel gloukoma
Tipe ini merupakan yang paling umum terjadi terutama lansia usia > 50 tahun. Penyebabnya adalah peningkatan tekanan di dalam bola mata yang berfungsi secara perlahan, rata-rata tekanan normal bola mata adalah 14- 16 mmHg. Tekanan 20mmHg masih dianggap normal namun bila lebih dari 22 diperkirakan menderita glaukoma dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Tekanan bola mata yang meningkat dapat membahayakan dan menghacurkan sel-sel mata. Setelah terjadi kehancuran sel-sel tersebut maka munculah bintik-bintik yang akan lapang pandang bintik ini dimulai dari tepi atau daerah yang lebih luar dari satu lapang pandangan. Tidak ada gejala yang nyata dengan glaukoma sudut terbuka, sehingga susah untuk didiagnosa. Penderita tidak merasakan adanya nyeri dan sering tidak disadari.

2.1 Normal tention glukoma
Glukoma bertekanan normal adaalh suatu keadaan dimana terjadi kerusakan yang progesif pada syaraf optikus dan kehilangan lapang pandangan meskipun tekanan bola mata normal. Tipe glaukoma ini diperkirakan ada hubunganya (meski kecil) dengan kurangnya sel syaraf optikus yang membawa impuls ke retina menuju otak. Glukoma bertekanan normal ini sering terjadi pada orang yang mempunyai riwayat penyakit pembuluh darah, kebanyakan pada orang jepang atau wanita.
3.1 Angel closure glaukoma
Sudut antara iris dan kornea adalah menyempit, adanya gangguan pada cairan bola mata, peningkatan tekanan boala mata sangat cepat karena saluran cairan bola mata terhambat, tanda-tandanya muncul secara tiba-tiba dan penanganan secara cepat dibutuhkan untuk kerusakan mata secara permanen.
Diliteratur lain disebutkan bahwatipe glaukoma selain di atas antara lain pigmentary glukoma, congenitak glukoma, secondary glaukoma. Secara umum tanda dan gejala yang muncul pada open gloukoma adalah sulit untuk diidentifikasi, kejadiannya berjalan sangat lambat, kehilangan sudut pandang dari tepi, penurunan kemampuan penglihatan. Sedangkan pada class gloukoma adalah munculsecara tiba-tiba adanya nyeri pada mata, sudut mata menyempit, mata memerah, kabur, neusea, vomite atau brodykardia bisa terjadi karena adanaya nyeri pada mata.
Treatment
Ketika tanda dan gejala sudah muncul segera lakukan pemeriksaan alatnya berupa tanometer ) Penangananya berupa :
 Tetes mata : cara ini merupakan cara umum dan sering dan harus dilakukan, sebagian klien dapat mendaptkan respon yang bagus dari obat namun beberapa juga tidak ada respon pemberian obat harus sesuai dengan tipe glaukoma.
 Bedah laser : ( trabukulopasty) ini dilakuka jika obat tetes mata tidak menghentikan glaukoma. Walaupun sudah dilaser obat harus diberikan
 Pembedahan (trabekulectomy) sebuah saluran dibuat untuk memungkinkan caira keluar, tindkan ini dapat menyelamatkan sisa penglihtan yang ada.
 Obat yang diperlukan :
a. Pilocarpine atau timololmalat
Yaitu untuk mencegah keparahan glaukoma dan menurunkan produk cairan yang yang menyebabkan gangguan pulmo dan detak jantung menurun. Betaxolol ( betotik ) direkomendasi bagi klien yang ,enderita asma atau eapisima, pilocarpine menyebabkan miosis ( kontriksi ) pupil tetapi mempu menormalkan tekanan boal mata, obat lain seperti : Brimohidrine, untuk menurinkan aquous humor.
b. Oral karbonik anhydrase inhibitor seperti acitamolamide (diamox ) yaitu untuk mengurangi cairan., obat ini menyebabkan depresi, fatique latorgy.

4.1 Katarak
Katarak adalah tertutupnya lensamata sehingga pencahayaan da fokusing terganggu (retina) katarak terjadi pada semua umur namun yang sering terjadi pada usia > 55 tahun. Tanda dan gejalanya berupa : Bertanbahnya gangguan penglihatan, pada saat membaca / beraktifitas memerlukan pencahayaan yang lebih, kelemahan melihat dimalam hari, penglihatan ganda.

Penanganna yang tepat adalah pembenahan untuk memperbaiki lensa mata yang rusak pembedahan dilakukan bila katarak sudah mengganggu aktifitas namun bila tidak mengganngu tidak perlu dilakukan pembedahan.

5.1 Entropi dan eutropi
Entropi dan eutropi terjadi pada lansia, kondisi ini tida menyebabkan gangguan penglihatan namun menyebabkan gangguan kenyamanan. Entropi adalh kelopak mata yang terbuka lebar ini menyebabkan mata memerah entropi terjadikarena adanya kelemahan pada otot konjungtifa.ektropi adalah penyempitan konjungtifa

b. Telinga atau pendengaran

Telinga berfungsi untuk mendengarkan suara dan alat keseimbangan tubuh, telinga dibagi 3 bagian : telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Bagian luar terdiri dari telinga luar sampai dengan membran tympani, telinga tengah terdiri dari kavum tympani (Maleus, innkus, stapes) antrum tympani, tuba auditiva eustachi sedang telinga dalam terdiri dari : labirintus osseous, labririntus membranous.
Gangguan pendengaran terjadi pada usia 65 tahun (55%) > 80 tahun mencapai 66% , gangguan pendengaran tidak hanya terjadi karena adanya penambahan usia seperti gangguan pendengaran karena konsumsi obat. Secara umum gangguan pendengaran ada 3 macam yaitu : gangguan pendengaran konjungtiva, ganguan pendengaran sensori dan campuran ( konjungtiva dan campuran ).
Ganguan pendengaran konjungtiva terjadi karena adanya gangguan telinga dibagian luar dan tengah, seseorang dapat terjadi tuli konduksi apabila terjadi gangguan pada meatus acustivus eksternus, membran tympani / ossiculas (maleus, incus, stapes) jika seseorang terjadi gangguan pada organ salah satu tersebut maka seseorang mengalami gangguan pendengaran konjungtiva, seseorang yang tuli konduksi berakibat kemampuan mendengar bunyi hantaran udara terganggu dan hanya mampu mendengar bunyi melalui hantaran tulang.
a. Tuli
Persepsi sensori terjadi apabila seseorang mengalami kelainan pada organ korti, saraf VIII (Vestibulocochelaris N) pusat pendengaran otak, keadaan pada seseorang yang tuli persepsi terjadi gangguan mendengar baik melalui hantaran udara maupun tulang.
b. Tinnitus
Selain yang disebutkan diatas, gangguan pendengaran yang lain adalah tinnitus, tinnitus merupakan gangguan pendengaran berupa ada suara di telinga (suara nging). Tinitus terjadi karena adanya gangguan pendengaran konduktif atau sensoris. Suara yang muncul seperti suara bising atau segala sesuatu yang membikin tidak nyaman. Tinnitus bisa juga terjadi karena adanya otoselorosis atau karena adanya ototxic obat yang dikonsumsi seperti gentamisin atau aspirin (terlampir).
Tinnitus bukan merupakan sebuah penyakit namun sebuah gejala dari adanya gangguan pendengaran bagaimanapun juga kondisi ini memunculkan banyak masalah, tinnitus kadang tidak dirasakan dalam lingkungan yang ramai namun akan sangat teras dilingkungan yang sepi. Beberapa orang tinnitus dapat menyebabkan kecemasan besar suara musik yang pelan adanya gaduhnya lingkungan dapat membantu mengalihkan suara dengung ditelinga.
Treatment
Management perawatan gangguan pendengaran pada lansia tergantung dari jenis gangguannya seperti alat bantu pendengaran hanya bisa digunakan walupun sedikit paa lansia dengan ganguan pendengaran konduktif dan tidak bisa digunakan untuk gangguan pendengaran sensori. Kebersihan liang telinga dari penumpukan serumen sangat membantu pendengaran lansia. Pembersih serumen dapat dilakukan dengan irigasi normal yang saling dihangatkan.
Alat bantu pendengaran bisa membantu fungsi pendengaran lansia yang telah berkurang. Namun, alat pendengaran tidak bisa menyelesaikan masalh karena pmakaian alat bantu pendengaran bagi beberapa orang menyebabkan rasa malu (sehingga tidak mau pakai). Hal ini membutuhkan bantuan dari ahli audiologi untuk dijadikan support dari sumber sugesti bagi penderita.

c. Pengecap dan pembau

Organ pengecap yang paling berperan adalah pada bagian depan, tepi dan belakang, rasa manis dan asin berada pada bagian ujung lidah, asam dibagian tepi sedang pahit dipangkal lidah. Fungsi pengecap akan berubah seiring bertambahnya usia. Kerusakan fungsi pengecap akan menyebabkan makan kurang bergairah terkadang seorang lansia perlu menambah jumlah garam karena dia merasa bahwa maskannya kurang asin (padahal sudah asin). Kenikmatan makan akan didukung oleh indra pembau, makan yang dibau akan merangsang mukosa hidung untuk menghantar impuls ke otak untuk menyimpulkan bahwa makan itu enak atau tidak. Ini juga akan berpengaruh terhadap keinginan pemenuhan nutrisi.

d. Vertigo

Vertigo adalah perasan tidak seimbang. Seseorang yang mengalami vertigo akan merasa bahwa lingkungannya teras atau terlihat berputar-putar sehingga menyebabkan seseorang jatuh. Vertigo terjadi karena adanya ganguan syaraf pendengaran (labirint) sesorang yang mengalami vertigo (lansia) memungkinkan mengalami gangguan pendengaran,cardiovaskuler, keseimbangan cairan elektrolit, alkohol dan penggunaan obat.
Treatment
- Usahakan klien untuk banyak istirahat dan duduk
- Bantuklien untuk beraktifitas
- Usahakan untuk bergerak pelan-pelan ketiak ingin beraktifitas dan bergerak
- Berikan alat bantu jalan seperti tongkat, walker, kursi roda.

1. Gangguan otak besar (sindroma serebral)
Adalah kumpulan gejala yang terjadi akibat perubahan otak pada lansia terjadi pengecilan otak besar dalam batas tertentu masih dianggap normal orang dewasa +50 cc/ 100 gram/menit apabila kurang dari separuhnya akan menimbulkan gejala otak besar. Gangguan sirkulasi ini dapat disebabkan karena hipertensi atau darah tinggi mengerasnya vaso penyempitan akibat proses pengerasan pembuluh, yang dipercepat dengan tingginya kolesterol kencing manis , merokok dan darah tinggi.

2. Bingung (konfusio) tiba-tiba
Adalah suatu akibat gangguan fungsi pengertian : derajat, kesadaran, kewaspadaan dan gangguan proses berfikir,bingung waktu,tempat san orang istilah lain gagal otak akut. Gangguan memori jangka pendek, mungkin jangka panjang. Ada ganguan angan-angan melihat sesuatu yang tidak ada (halusinasi) atau salah penglihatan dan sebagainya. Ada 2 syarat yang harus terpenuhi antaa lain : 1. Derajat kesadaran yang menurun 2. Gangguan cipta (persepsi) 3. tergangunya siklus bangun, sulit tidur (insomnia), aktifitas fisik bisa meningkat dan menurun, 5. Bingung 6. gangguan memori tidak mampu belajar materi baru.

3. Gangguan saraf mandiri
Pada lanjut usia yang perlu diperhatikan adalah terjadi perubahan listrik kepusat mandiri yang mengakibatkan tekanan darah rendah (hipotensi) pada posisi tegak, gangguan pengaturan : suhu, gerak, kandung kemih,saluran makan di leher dan usus besar.

4. Gangguan pengaturan suhu
Akibat kurang baiknya kerja bagian otak besar (hipotalamus) sebagai pengatur suhu (termostat) untuk menetapkan ke suatu suhu tertentu. Bila termostat menetap tinggi pada suhu rendah akan merangsang tegaknya rambut kulit (pilokontraksi) penyempitan pembuluh darah tepi menggigil dan perasaan dingin, lansia tersebut ingin berbaju tebal untuk manyamai suhu yang ditetapkan oleh pengatur suhu tersebut, sebaliknya bila suhu ditetapkan rendah, maka terjadi mekanisme pelebaran pembuluh darah, berkeringat dan melepaskan baju untuk menyamakan suhu yang di tetapkan oleh termostat tersebut lansia dapat terkena.
a. Panas tinggi (hipertermia)
Suhu tubuh menjadi > 40,60 c, bisa terjadi gangguan fungsi susunan saraf hebat (psikosis/ ngacau, delirium/ kesadaran menurun, koma/tidak sadar) dan gejala anhidrosis / kulit panas dan kering, hipertermi dapat terjadi karena beberapa hal : infeksi, dimulai dari gejala yang tidak spesifik seperti rasa gemetar, ras hangat, anoreksia/ tidak mau makan, mual, muntah, nyeri kepal dan sesak.
b. Hipotermia
Apabila suhu tubuh rektal / anus, esofagial / pangkal lidah atau telinga menjadi < 35 c hal ini dapat dipicu dari paparan hawa dingin. Perlu dipikirkan tempat yang sejuk tidak langsung kena AC. Gejal awl biasanya ringan dan tidak jelas (32-350 C) seperti rasa capai/ fatingue, lemah, langkah melambat, apatis, bicara pelo, bingung, menggigil, kulit dingin, dapat disebabkan oleh hipotiroidesme terutama bila disebabkan bekas operasi tiroiddilehernya, pengobatan sementara diberikan selimut hangat dan minuman hangat.

Lampiran I
1. fokus pengkajian pada masalah penglihatan lansia :
a. Rasa nyeri pada mata
b. kelemahan penglihatan atau buram
c. penglihatan ganda
d. kehilangan penglihatan yang datang tiba-tiba
e. tekanan bola mata
2. Diagnosa keperawatan
 Kerusakan manajement perawat dirumah B/D turunnya penglihatan
 Self care defisit B/D kerusakan penglihatan
 Social isolation B/D penglihatan yang tidak jelas, aktifitas gerak yang tidak bebas
 Resiko cidera B/D kerusakan penglihatan
 Defisit pengetahuan
 Defisit aktivitas

Lampiran II
a. Contoh obat yang menyebabkan ototoxic
Golongan Contoh
Amino glikosid Amikasin,gentamisin,kanamycin, neomycin,streptomycin, tobramycin,
Anti inflamatory agents Aspirin, indometacyn
Chemotherapeutic agent Cisplatin, nitrogen mustard
Chemical Alkohol, arsenik
Deuretics Ethacrynic acid, furosemid,acetazolamid
Metals Gold, mercury, lead
Other antibiotics Errytomiosyn, minocycli, polymyxin,vancomysin

b. Fokus pengkajian pada klien dengan ganguan pendengaran
o Kaji adanya penguanaan obat-obat yang menyebabkan ototoxic dan merusak ssp serta organ-organ bagian telinga dan keseimbanagan
o Kaji riwayat penguanaan obat-obatan
c. Diagnosa keperawatan
 Kerusakan komunikasi verbal B/D kerusakan pendengaran
 Kerusakan aktivitas B/D ketidakseimbangan dalm beraktifitas karena hilangnya fungsi pendengaran.
 Kehilangan perawatan diri dirumah B/D hilangnya fungsi pendengaran
 Kerusakan interaksi sosial B/D kerusakan sarf sensori
d. Contoh intervensi keperawatan pada lansia dengan ganguan pendengaran :
o Ketika berbicara kerusakan suara (bukan teriak) atau menyuruh untuk memperhatikan mulut sipembicara.
o Ajak klien berkomunikasi dengan santai dengan jarak yang dekat.
o Berbicara yang jelas dan tidak terlalu cepat an saling bertatap muka.
o Hindarkan adanya suara- suara yang mengganggu seperti suara radio dan TV.
o Jika kerusakan komunikasi maka gunakanlah kertas sebagai komunikasi verbal atau dengan simbol.
o Berikan lingkungan yang nyaman bagi klien.
o Gunakanlah alat bantu pendengaran apabila diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA

- Roach sally. Introduktory gerontological Nursing. 2001. Lippinctt: New York
- Syaifuddin, Anatomi fisisologi. 1997. EGC. Jakarta
- Petunjuk praktikum fisiologi I. Tim pengajar fisiologi. 2005. Stikes Aisyiyah Yogyakarta,
- Http: // www.pfizer peduli . com / artcel _ detail . aspex. Id : 21
- Panduan dianosa keperawatan NANDA
- Http: // www. Dokter tetanus . pjnkk. Go. Id / content . view / 249/31
- http: // www. Dokter tetanus. WordPress. Com
- wahyudi, Nugroho, Keperawatan Gerontik. 2000. EGC : Jakarta.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU DENGAN PANTANG BERKALA

Posted in Uncategorized on Mei 2, 2009 by brantas pamungkas

Pengertian :

• Cara merentangkan & menghindari kehamila berdasarkan pengamatan sejumlah gejala & tanda alami yang menunjukkan masa subur & tidak subur pada daur haid

Prinsip :
• Tidak melakukan senggama pada masa subur seorang perempuan yaitu sekitar terjadi waktu ovulasi.

Keunggulan :
• Dapat digunakan untuk menghindari kehamilan.
• Tidak menimbulkan efek samping pada tubuh
• Penggunaan yang benar dapat meningkatakan kewaspadaan diri & pengetahuan tentang fungsi reproduksi manusia
• Dapat meningkatkan kemandirian penggunaanya
• Dapat meningkatkan ketertiban kaum pria,kerja sama dan komunikasi serta pembagian tanggung jawab pasangan suami istri dalam hal KB.
• Pelayanan dapat diselenggarakan dalam bentuk pelayanan tepisah atau menjadi bagian dari suatu progam KB & kesehatan.
• Penyelenggaraan pelayanannya tidak tergantung pada petugas medis khusus
• Penghematanbiaya

Kekurangan :
• Tidak nikmat untuk pasangan
• Masa yang diperlukan untuk menentukan sekitar 3bulan- 5bulan
• Sangat memerlukan tanggung jawab dan kerjasama Pasangan suami istri
• Penggunaan harus terus menerus membuat catatan harian tanda kesuburan

EFEK SAMPING
Pantang yang terlalu lama dapat menyebabkan frustasi

METODE MENENTUKAN SAAT OVULASI
• Metode kalender
• Metode suhu basal
• Metode lender cervix

Keterangan :
• Metode kalender :
Menurut ogino ovulasi terjadi pada hari ke 14 sebelum haid y.a.d tapi sebetulnya dapat terjadi antara hari ke 12 dan hari ke 16 sebelum haid ( ± 2 ), jadi masa ke-5 hari itu merupakan masa terlarang untuk coitus,namun Karena sperma dapat hidup 3 hari dalam alat reproduksi wanita maka lambat-lambatnya hari ke 17 & 18 kemudian ditambah 1 hari lagi yaitu hari ke II untuk hidupnya sel telur sehingga masa subur terjadi 8 hari pada siklus 28 hari dari hari ke 11 – 18 metode kalender yang paling menyulitkan adalah haid yang tidak teratur , siklus haid wanita berfariasi antara 28 & 36 maka perhitungannya adalah:
28 – 18 = 10 dan 36 -11 = 25
pada contoh ini konsepsi dapat terjadi hari ke 10 hingga hari ke 25 daur haid masa aman ialah hari ke 1 – 9 siklus haid, dan hari ke 26 sampai 9 hari sesudah haid y.a.d umumnya makin teratur daur haid seorang wanita makin kecil tingkat kegagalan cara ini.
• Metode suhu basal
Dasar teorinya adalah kenalkan kadar progesteron pada saat ovulasi akan meningkatkan suhu basal,kenalkan suhu ini 0,3-0,5 ° C, suhu basal diukur dengan thermometer yang khusus dan dicatat pada kartu grafik yang tertentu. Karena yang terpenting adalah perubahan shu maka pengukuran harus dilakukan setiap hari pada pagi hari sebelum melakukan aktifitas apa-apa
Kekurangan metode ini hanya dapat menentukan masa aman post ovulasi karena itu sering dikombinasikan dengan metode kalender.
• Metode lender cervix
Dasarnya adalah perubahan kualitatif & kuantitatif yang siklik dari lender cervix karena pengaruh tumor ovarium
Perubahan ini dapat dibagi dalam 5 fase :
Fase 1 : Masa kering segera setelah menstruasi, karena kadar ekstrogen yang rendah
Fase 2 : Masa pre ovulasi dini kadar ekstrogen mulai naik sehingga mengakibatkan lender yang keruh dan liat.
Fase 3 : Hari – hari basah pada waktu sebelum dan sesudah ovulasi, pada masa ini kadar ekstrogen mencapai puncak, lender berubah menjadi jernih,licin sifatnya seperti putih telur.
Fase 4 : Masa post ovulasi, diman kadar progesterone naik, sehingga lender berkurang sekali –kali menjadi ketuh dan liat.
Fase 5 : Msa premenstruasi dimana lender kadang-kadang menjadi jernih lagi an sangat cair fase ini tidak selalu terjadi.

PERKIRAAN MASA SUBUR

Masa subur mulai terjadi pada hari pertama adanya lender cervix pasca haid ( fase 2 ) dan berlangsung sampai 4 hari sesudah keluarnya lender yang jernih & licin hari lainnya merupakan masa yang aman.
Metode lender cervix dikenal juga sebagai metode BILLINGS. Jelas bahwa wanita yang ingin mempergunakan ini terus tahu membedakan perasaan basah/ kering dan sifat liat/licin harus pandai memeriksa lender sendiri.

EFEKTIVITAS

Efektifitas panang berkala rendah, angka kegagalan sekitar 30% tentu ada perbedaan metode kalender,metode suhu basal & metode lender cerviks diantara lainnya metode suhu basal paling banyak hasilnya.

KOMPLIKASI

Karena cara ini tidak memakai obat atau alat maka tentu tidak ada bahaya bagi pemakainya, walaupun begitu ada beberapa laporan mengemukakan bahwa makin terjadi kelainan janin,hal ini diduga disebabkan oleh spermatozoa.

PENGKAJIAN
 Kaji siklus menstruasi
 Kaji adanya penyakit atau infeksi yang meningkatkan suhu
 Kaji adanya kelainan reproduksi atau tidak
 Kaji adanya penyakit yang meningkatkan kualitas maupun kualitas lender cervix
 Kaji factor psikologi

DIAGNOSA
1. Cemas berhubungan dengan kebutuhan yang tidak terpenuhi,
2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak familiar dengan sumber informasi
3. Pola sexnal tidak efektif berhubungan dengan takut terhadap kehamilan
4. Putus asa berhubungn dengan pemanjangan pembatasan aktifitas sexnal

INTERVENSI

1
 Kaji factor penyebab penunjang
 Kaji tingkat pengetahuan klien dan pasangan
 Dukung klien untuk mendiskusikan masalah dengan pasangan
 Mengajarkan pada klien tentang aktifitas seksual yang aman

2.
 Kaji factor penyebab dan putus asa
 Menyediakan umpan balik yang realistic
 Kaji penyelesaian masalah dan pembuatan keputusan dari klien
 Ajari klien alternative koping
 Beri klien waktu untuk memulai interaksi
 Fasilitasi cara mendapatkan dukungan spiritual positif
 Ajari klien untuk menggunakan teknik untuk mengurangi stress seperti relaksasi dan meditasi
 Dukung klien untuk mengekspresikan rasa cinta,memberi dukungan dan memberi kesempatan klien untuk mengungkapkan perasan secara verbal.

3. Cemas b.d kebutuhan yang tidak terpenuhi, stress
Anxiety reduction
Aktivitas:
 Kaji tingkat kecemasan pasien dan reaksi psikis terhadap kecemasan.
 Jika respon situasional rasional gunakan empati untuk mendukung klien untuk menilai gejala-gejala anxietas yang normal.
 Jilka respon klien tidak rasional / menunjukkan ketakutan berikan informasi yang akurat mengenai kecemasan dan dukung klien untuk bercerita tentang kejadian yang menimbulkan kecemasan.
 Dukung klien untuk bicara positif kepada dirinya.
Cth: Kecemasan tidak akan membunuhku.
 Gali keterampilan koping sebelumnya yang digunakan klien untuk menghadapi kecemasan.
Family teaching
Aktivitas:
 Ajarkan klien / keluarga tentang tanda-tanda kecemasan.
 Bantu klien untuk menurunkan tingkat kecemasan.
 Ajarkan klien teknik management untuk mengelola kecemasan secara mandiri.
 Ajarkan hubungan antara kesehatan fisik, gaya hidup emosional dan sikap mental yang realistik.
4. Kurang pengetahuan b.d tidak familiar dengan sumber informasi
 Observasi kemampuan dan keinginan klien untuk belajar.
 Kaji hal apa saja yang menghambat pemahaman klien.
 Gunakan bahasa yang mudah dimengerti ketika memberikan informasi kepada klien.
 Evaluasi dengan hati-hati informasi yang telah diberikan kepada klien.
 Kaji kemampuan klien dalam menggunakan sumber informasi, seperti: pamflet, leaflet.
 Gunakan peralatan visual, seperti diagram, video tape.

BABY BLUSE DAN DEPRESI PASCA PERSALINAN

Posted in Uncategorized on Mei 2, 2009 by brantas pamungkas

Pengertian :

A. BABY BLUES

Baby blues dipercaya mengenai lebih dari separuh seluruh wanita, biasanya dianggap sebagai “normal atau tidak perlu dikhawatirkan”. Disebut juga sebagai “day 4 blues” karena sangat sering terjadi pada hari kelima setelah melahirkan atau bahkan sesudahnya.
Baby blues merupakan kesedihan yang tak mendasar, ini dapat menyerang dengan tiba-tiba sehingga terasa hamper seperti kesedihan yang menyertai munculnya ASI (damam susu). Pada keadaan ini, suhu tubuh mungkin sedikit meninggkat dan merasa tidak enak di seluruih tubu, dengan payudara menggembung dan daerah jahitan terasa nyeri. Keadan ini dapat berlangsung hanya beberapa jam atau berlanjut menjadi beberapa hari, tetapi biasanya sudah hilang pada hari kesepuluh.

B. DEPRESI

Depresi Pasca Persalinan (DPP) adalah suatu depresi yang ditemukan pada perempuan setelah melahirkan, yang terjadi dalam kurun waktu 4 minggu. Hal ini dapat berlangsung hingga beberapa bulan bahkan beberapa tahun bila tidak diatasi.
Sebetulnya terdapat tiga jenis reaksi emosional yang dijumpai pada perempuan pasca persalinan, yaitu:
1. ’maternity bluse’ atau ’postpartum bluse’ atau ‘bluse’
2. psikosis pasca persalinan
3. depresi pasca persalinan (DPP)
Maternity bluse atau postpartum bluse atau bluse ialah gejala depresi yang biasanya
dialami oleh perempuan pasca persalinan pada antara hari ketujuh hingga 14, yang terjadi untuk sementaea waktu dan akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan.
Bluse ditandai dengan gejala-gejala yang mirip dengan kondisi depresi, antara lain: mudah menangis, mudah tersinggung, sedih, dan adanya ketidakstabilan emosi (pergantian emosi antara sedih, tersinggung, marah terjadi dalam waktu singkat). Kondisi ini terjadi kemungkinan karena perubahan kadar hormon yang mendadak. Namun dari penelitian juga didapatkan bahwa kondisi ini juga dapat dipicu oleh adanya perasaan belum siap menghadapi lahirnya bayi, dan atau timbulnya kesadaran akan meningkatnya tanggung jawab sebagai ibu. Gejala ini dialami oleh dus pertiga dari ibu melahirkan.
Adapun psikosis pasca persalinan merupakan keadaan psikosis mendadak, yang lebih kurang sama dengan psikosis yang terjadi bukan setelah seorang perempuan melahirkan bayinya. Psikosis yaitu suatu kondisi gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya ketidakmampuan membedakan antara realita (kenyataan) dan khayalan. Tanda dan gejala yang dialami oleh seseorang yang mengelaminya antara lain mempunyai keyakinan yang salah (tidak sesuai dengan kenyataan, budaya dan norma yang berlaku) yang tetap dipertahankan walaupun telah dikoreksi dan diberikan bukti-bukti; ini disebut sebagai waham. Gajala lain yaitu terjadinya gangguan atau distorsi persepsi, yang antara lain berupa ilusi dan halusinasi atau adanya perilaku yang tidak wajar, yang berupa antara lain gaduh gelisah, marah-marah tanpa sebab, mengamuk, mencelakai diri sendiri atau orang lain.
Ilusi adalah adanya kesalahan persepsi terhadap rangsangan yang ada, misalnya tongkat dilihat sebagai ular. Halusinasi adalah adanya persepsi (pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaam) yang dialami walaupun tidak ada rangsangan. Misalnya mendengarkan suara padahal tidak ada orang berbicara, atau melihat sesuatu padahal tidak ada benda itu, atau merasa tubuhnya diraba oleh sesuatu padahal sama sekali tidak ada yang merabanya.
Pada psikosis pasca persalinan,. Isi wahamnya biasanya berkaitan dengan kelahiran bayi, misalnya merasa yakin bahwa anaknya itu bukan merupakan anaknya sendiri atau merasa bahwa ia harus membunuh anaknya karena anak tersebut akan mencelakakan dirinya, atau merasa bahwa anaknya itu merupakan titisan neneknya yang sudah meninggal, dll. Gangguan ini jarang dijumpai, angka kejadiannya 2 dari 1000 perempuan yang melahirkan.

1. TANDA DAN GEJALA
Gejala-gejala yang ditemukan serupa dengan gejala gangguan depresi pada umumnya berkaitan dengan fungsi, peran dan tanggungjawab sebagai ibu, terutama dalam marawat atau mengurus bayi.
Gejala-gejala tersebut yaitu adanya perasaan sedih, mudah marah dan ingin marah seja, gelisah, hilangnya minat dan semangat yang nyata dalam aktivitas sehari-hari yang sebelumnya disukai, enggan dan malas mengurus anaknya, sulit tidur atau terlalu banyak tidur, nafsu makan menurun atau sebaliknya, merasa lalah atau kahilangan energi, kemampuan berpikir dan konsentrasinya menurun, marasa besalah, merasa tidak berguna hingg aputus asa dan mempunai ide-ide kematian yang berulang (berupa ingin bunuh diri atau bahkan ingin membunuh bayinya.
Tanda dan gejala yang telah disebutkan tersebut dapat muncul bersamaan sekaligus atau hanya sebagian saja. Yang jelas, karena mangalami tanda dan gejala tersebut, seorang ibu akan mengalami perasaan stres atau tertekan, sehingga sulit atau tidak dapat menjalankan fungsi dan aktivitasnya sehari-hari. Oleh karena itu, ibu yang mengalami kondisi ini harus ditolong, lebih cepat akan lebih baik, agar tidak terjadi kondisi yang membahanyakan dirinya atau bayinya.

2. PENYEBAB
Penyebab yang pasti hingga kini belum diketahui dan masih dalam penelitian para ahli, namun terpadat beberapa faktor yang diperkirakan mempengaruhi atau merupakan faktor resiko untuk terjadinya Deprsei Pasca Persalinan. Faktor tersebut antara lain:

a. Dukungan sosial (terutama dari suami dan keluarga)
Dukungan suami yang dimaksud disini berupa perhatian, komunikasi dan hubungan emosi yang intim,merupakan faktor yang paliang bermakna manjadi pemicu terjadinya Depresi Pasca Persalinan.ada penelitian yang melaporkan bahwa ada kaitan antara Depresi Pasca Persalinan dengan kekhawatiran akan pembiayaan masa depan sang anak, tetapi hal ini masih balum pasti karena berbagai penelitian mendapatkan hasil berbeda-beda.
Adapun dukungan keluarga yang dimaksud adalah komunikasi dan hubungan emosional yang baik dan hangat dengan kadua orang tua, terutama ibu. Banyak perempuan yang memilih ditemani ibunya dari pada suaminya apda saat melahirkan.
Dari penelitian diperoleh data bahwa rendahnya atau ketidakpastian dukungan suami dan kelurga akan meningkatkan kajadian Deprasi Pasca Persalinan pada seorang ibu.
Dari penelitian Gotlib dkk ditemukan hubungan yang bermakna antara kepuasandalam perkawinan dan Depresi Pasca Persalinan. Penelitinnya dilakukan terhadap 730 perempuan hamil yang diperiksa sebelim timbulnya Depresi Pasca Presalinan. Perempuan yang tidak depresi selama kehamilan, dapat mengalami Deprsi Pasca Persalinan bila tidak mengalami kepuasan dalam perkawinannya, sebaliknya perempuan yang deprsei selama kehamilan, dapat membaik pasca persalinan bila dalam perkawinanya mengalami kepuasan. Alfiben dkk dari penelitian di RS Dr Cipto Mangunkusumo – Jakarta, melaporkan bahwa dukungan suami dapat menurunkan terjadinya Depresi Pasca Persalinan.

b. Keadaan atau kualitas bayi (termasuk problem kehamilan dan kelahiran):
Problem yang dialami bayi menyebabkan sang ibu kehilangan minat untuk mengurus bayinya tersebut. Problem pada bayi tersebut antara lain adanya komplikasi kelahiran (misalnya perdarahan yang terlalu banyak atau ibu mengalami infeksi, sehingga ibu harus tinggal lebih lama di rumah sakit) atau lehit dengan jenis kelamian tidak sesuai dengan harapan, atau lahir dengan cacat bawaan.
Dari beberapa penelitian didapatkan bahwa terdapat hubungan kuat antara kehamilan, persalinan dan problem bayi dengan terjadinya Depresi Pasca Persalian.
Hopkins dkk menemukan abhwa komplikasi pada bayi baru lahir lebih tinggi pada ibu yang depresi dibandingkan dengan ibu yang tidak depresi. Ditemukan pula bahwa ibu-ibu dapat mengalami deprsi bila mengetahui anaknya sakit.

c. Kesiapan melahirkan bayi dan menjadi ibu:
Dari beberapa penelitian didapatkan bahwa kesiapan menjadi seorang ibu ternyata juga mempengaruhi terjadinya Depresi Pasca Persalinan. Pada perempuan yang hamil tidak direncanakan (karena belum menikah atau ibu yang menikah namun sudah tidak menginginkan anak lagi) kemungkinan mengalami Depresi Pasca Persalinan lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan yang siap dan amat menantikan kelahiran bayinya.

d. Stresor psikososial
Stresor psikososial adalah suatu peristiwa atau kejadian yang mengakibatkan sesorang harus melakukan penyesuaian atau adaptasi terhadap kondisi yang dialami tersebut. Peristiwa yang terjadi tersebut menyebabkan keadaan yang semula telah stabil selama bertahun-tahun kini terpaksa harus diubah atau disesuaikan. Sebagaimana persepsi seorang ibu terhadap proses kehamilan dan kelahiran tergantuang dari ketahanan atau kekuatan kepribadiannya. Ada yang menganggapnya sebagai keberuntungan atau karunia, namun dilain pihak ada yang mengangapnya sebagai stresor karena ia tidak siap atau belum atau sudah tidak ingin mempunyai anak lagi.
Stesor tersebut antara lain bila ia merasa tidak mempunyai sumber-sumber yang cukup untuk membesarkan anaknya, harus melakukan investasi untuk kesehatan dan masa depan anak serta keluarga, mengalami problem yang belum dapat diselesaikannya. Hal-hal yang dialami itu dapat membuatnya merasa tertekan atau menjadi stres, yang menyebabkan perempuan tersebut tidak dapat berfungsi dalam kehgidupan sehari-hari dan hal inilah yang kemudian dapat manjadi pemicu timbulnya Derpresi Pasca Persalinan.

e. Riwayat deprasi sebelumnya atau problem emosional lainya:
Sebagian besar penelitian yang telah dilakukan, mendapatkan bahwa terdapat hubunbgan antara mengalami deprasi dan problem emosional lain sebelumnya atau depresi selama kehamilan denfan Deprsi Pasca Persalinan, selain itu riwayat pernah mengalami deprsi ketika anak-anak atau remaja juga dapat merupakan faktor yang berperan pada seorang permpuan pada saat ia mengalami hari-hari pasca persalianan.
Pada penelitian lain didapatkan bahwa wanita yang tidak mengalami depresi sebelim persalinan tetapi kemudian mengalami Deprsi Pasca Persalinan, ternyata pada masa kahamilan mereka mengalami ketidakpuasdan perkawian yang bermakna.

f. Faktor hormonal:
Depresi Pasca Persalinan diduga juga terjadi karena perubahan produksi hormon pada masa nifas. Perubahan kadar hormon progresteron, estrogen, prolaktin dan kortisol, diketehui kecil pengaruhnya terhadap terjadinya Deprsei Pasca Persalinan. Dengan demikian Deprsei Pasca Persalinan terjadi bukan hanya karena perubahan hormonal, karena semua perempuan yang normal pun mengalami perubahan hormon pada nifas. Dibandingkan dengan dukungan sosial dan keadaan bayi, faktor hormonal ini kebanyakan kasus Deprsei Pasca Persalinan ternyata tidak bermakna.

g. Faktor budaya:
Peran budaya hingga kini masih terus diteliti pada berbagai latar belakang budaya. Dari hasil penelitian Cox di Inggris dan Afrika, banyak problem kejiwaan pasca persalinan tidak terdeteksi, yang kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: keengganan ibu yang melahirkan untuk mengungkapkan perasaan sedihnya, rasa sedih pasca persalinan dianggap akan hilang dengan sendirinya.

3. DAMPAK TERHADAP ANAKNYA
Pada ibu yang mengalami Depresi Pasca Persalinan, minat dan ketertarikan terhadap bayinya berkurang. Ia sering tidak berespon positif (menyambut dengan hangat terhadap komunikasi yang dilakukan oleh bayinya, baik melalui suara tangis, tatapan mata, atau pun gerak tubuh) sehingga bayi akan berusaha lebih keras untuk menarik perhatian ibunya. Misalnya pada saat merasa bingung, bayi memerlukan kenyamanan atau penentraman, maka biasanya ia akan menangis; bila sang ibu juga bingung atau marah atau sedih, maka sang bayi akan menangis dengan suara lebih keras atau mungkin disertai gerakan tubuh tertentu agar ibunya bisa menolongnya. Namun, ibu yang sedang depresi tidak mampu mengenali kebutuhan bayinya sehingga tidak dapat berespon seperti yang diharapkan dan dibutuhkan oleh anaknya.
Ibu yang depresi juga tidak mampu merawat bayinya secara optimal, karena merasa tidak berdaya atau tidak mampu sehingga akan menghindar dari tanggung jawab, akibatnya kondisi kebersihan dan kesehatan bayinya pun menjadi tidak optimal. Ia juga tidak bersemangat menyusui bayinya sehingga pertumbuhan dan perkembangan bayinya tidak seperti bayi-bayi yang ibunya sehat.
Akibat lain Depresi Pasca Persalinan yaitu hubungan antara ibu dan bayi juga tidak optimal. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa bayi sangat senang berkomunikasi dengan ibunya. Komunikasi ini dilakukan dengan cara dalam bentuk yang bermacam-macam, misalnya senyuman, tatapan mata, celoteh, tangisan, gerakan tubuh yang berubah-ubah, yang kesemua itu perlu ditanggapi dengan respon yangh sesuai dan optimal. Bila hal ini tidak dapat dipenuhi oleh ibunya, anak menjadi kecewa, sedih, bahkan frustasi. Hal ini dapat membuat perkembangan anak tersebut juga menjadi tidak optimal, sehingga dikemudian hari kepribadiannya pun dapat menjadi kurang matang.
Anak-anak yang ibunya menglami Depresi Pasca Persalinan dapat mengalami gangguan perkembangan emosi, terutama bila kondisi pada ibunya tersebut tidak diatasi dan diobati atau dibiarkan belangsung lama. Anak-anak tersebut sering sulit mengeksprsikan perasaannya dan sulit berpartisipasi dalam aktivitas sosial. Sebagian tetap menutup diri dan menyimpan perasaannya. Ciri-ciri yang sering dijumpai pada mereka antara lain memiliki pola tempramen negatif (mudah tersinggung, mudah marah, toleransi yang rendah terhapad sikap dan sifat orang lain), kemampuan adaptasi yang kurang, intelegnsi dan prestasi akademik kurang optimal, sulit berkerjasama dengan teman sebaya, mengalami kesulitan disekolah karena perhatian dan konsentrasi yang kurang terfokus, sering tidak tenang dan mungkin pula nantinya mempunyai perlaku menyimpang (menentang tanpa alasan yang jelas, membolos, bahkan mencuri)
Menurut penelitian, anak-anak dari ibu yang emngalami Depresi Pasca Persalinan dapat mengalami gangguan perilaku pada usia 3 tahun, artinya pada usia 3 tahun sudah dapat dideteksi adanya perilaku yang berbeda dibandingkan dengan anak seusianya. Anak-anak tersebut juga dapat mengalami rendahnya fungsi berfikir pada usia 4 tahun, yang biasanya dapat terdeteksi ketika anak mulai masuk sekolah. Hal ini memberi gambaran pula bahwa Deprsei Pasca Persalinan dapat berdampak negatif dalam jangka panjang bagi keluarga.

4. PENGOBATAN
Pemberian obat bukan merupakan prioritas bahkan dihindari sedapat mungkin oleh dokter mengingat ibu perlu menyusui bayinya. Obat hanya diberikan pada keadaan yang sangat mendesak dan berbahaya, misalnya ibu tersebut sangat gelisah atau ingin bunuh diri atau ingin membunuh anaknya. Pada keadaan seperti ini biasanya dianjurkan untuk dirawat dirumah sakit untuk beberapa hari sampai kondisinya tenang, stabil dan tidak membahayakan baik bagi dirinya maupun orang di sekitarnya.
Program pengobatan dibagi menjadi dua bagian:
Terhadap ibu, diberikan:
a). Latihan Relaksasi, yang diajarkan oleh dokter pada saat konsultasi dan diminta dilatih sendiri dirumah, atau dapat pula diarahkan melakukan relaksasi sederhana yang sudah biasa dilakukan oleh ibu dalam kehidupan sehari-hari seperti olahraga (senam, renang, dll), rekreasi.
b). Restrukturisasi Kognitif, terdiri atas menentang perilaku dan pikiran negatif, menghilangkan pikiran-pikiran yang mempengaruhi perilaku ke arah negatif.
c). Pemecahan masalah, yaitu pengarahan atau pemberian alternatif pemecahan masalah saat ini.
d). Komunikasi, yaitu melatih sang ibu memperbaiki komunikasinya dengan suami dan anggota keluarga yang lain.
e). Humor, apabila cocok dan membuat ibu merasa lebih nyaman.
f). Bila gejala berat biasanya baru diberikan obat anti depresi.

Untuk memelihara dan memperkuat hubungan ibu-bayi, sang ibu dianjurkan untuk:
a). Merawat bayinya sesering mungkin, misalnya selama 2-3 jam berada di ruang yang sepi hanya berdua dengan bayinya, dengan mangusahakan kontak mata, sambil menyusui (atau memberikan susu botol bila asi tidak keluar), labih baik lagi disertai iringan musik yang lembut.
b). Menyediakan tempat istirahat yang nyeman bagi bayi dan dirinya sendiri; ibu juga dianjurkan beristirahat katika bayi beristirahat, sehingga ketika bayinya bangun, ia juga telah merasa segar dan siap bermain dan mengurus bayinya kembali.
c). Pelik bayi dan berbicara dengannya secara lembut. Persentuhan kulit bayi dengan kulit ibunya akan menurunkan depresi, baik pada anak maupun ibunya. Pemijatan bayi oleh ibunya juga menurunkan kejadian depresi .
d). Melibatkan anggota kelurga yang lain dalam merawat bayi, misalnya sang ayah, kakak bayi bila ada, atau keluarga yang lain seperti nenek, bibi.
e). Ajak bayi keluat rumah sesekali; udara segar akan memperbaiki perasaan bayi.
f). Bila timbul perasaan-persaan nagatif seperti kesepian, lelah, marah, frustasi sebaiknya tinggalkan bayi sejenak, minta orang lain yang dipercaya untuk menjaga sementara waktu.

5. PENCEGAHAN
Depresi Pasca Persalinan dapat docegah apabila para calon ibu, suami dan kelurga mengetahui faktor-faktor resiko seperti, ada atau tidaknya dukungan suami dan keluarga, kesiapan ibu untuk melahirkan dan merawat bayi, adanya stresor yang dialami, apakah calon ibu pernah mengalami depresi sebelumnya. Bila ada salah satu dari resiko tersebut, calon ibu dan suami diharapkan dapat menghindarinya bila mungkin, atau bila tidak dapat dihindari, sebaiknya segera mancari pertolongan profesional, agar pencegahan dapat dilakukan sedini mungkin.
Bila pada masa kehamilan tidak diketahui adanya resiko, maka sang calon ibu, suami dan keluarga sebaiknya mengenali tanda dan gejala dini Depresi Pasca Persalinan, agar dapat dilakukan pengobatan labih dini, baik bagi ibu (agar dapat berfungsi optimal dalam merawat, mengasuh dan mendidik anaknya), maupun bagi anak serta terhadap hubungan ibu-anak, agar anak dapat tumbuh kembang menjadi seseorang dengan jiwa dan kepribadian yang sehat.

Asuhan keperawatan

Diagnosa
1. Gangguan pola tidur berhubngan dengan lelah,ditandai dengan ;
• Terbangun lebih awal / telambat bangun.
• Tidur tidak puas.
• Penurunan proporsi REM ( emosi labil ).
Tujuan :
• Kontrol kegelisahan.
• Istirahat .
• Kenyamanan .
• Respon terhadap perubuhan gaya hidup.
Intervensi :
• Mengajarkan pasien untuk mengontrol kegelisahan.
• Mengajarkan teknik relaksasi .
• Mengatur jadwal tidur pasien.
• Memberikan suasana tidur pasien yang nyaman.
• Meminimalkan pengunjung.

2. kelelahan berhubungan dengan depresi
ditandai dengan :
• skurang energi atau tidak mampu mempertahankan aktivitas fisik sesuai tingkat biasanya
• lelah
• konsentrasi melemah
• tidak tertarik dengan sekitar
Kriteria Hasil:
 Klien menunjukkan tertarik dengan sekeliling
 Klien mampu menyelesaikan tugas sehari-hari
 Menunjukkan nafsu makan normal
 Menunjukkan konsentrasi

Intervensi :
 Bantu untuk menentukan kelemahan fisik klien
 Menentukan persepsi lain penyebab lelah
 Menganjurkan secara verbal tentang perasaan lelah
 Menentukan penyebab lelah
 Memonitor masuknya nutrisi untuk mendapatkan energi yang cukup adekuat
 Memonitor klien apakah trjadi kelebihan aktifitas fisik dan kelelahan emosi
 Memonitor pola tidur dan berapa lama waktu tidur klien
 Menganjurkan alternative istirahat dan lama aktivitas
 Membantu klien untuk membuat jadwal istirahat

3. Resiko kerusakan kedekatan Ortu/ bayi berhubungan dengan cemas dalam menjalankan peran sebagai orang tua
Intervensi
a. Attachment promotion
1) Beri kesempatan kepada orang tuauntuk mendengarkan bunyi jantung bayi secepatnya jika mungkin
2) Diskusikan respon orang tua setelah mendengarkan suara jantung bayi
3) Diskusikan reaksi orang tua setelah melihat gambar ultra sound bayi
4) Rekomendasikan Ibu untuk memegang, menyentuh dan memeriksa bayi ketika tali pusat akan dipotong
5) Rekomendasikan orang tua untuk memeluk bayi dekat dengan tubuh
6) Informasikan orang tua tentang perawatan yang diberikan pada bayi baru lahir
7) Bantu orang tua untuk berpartisipasi dalam perawatanbayi

b. Environmental management attachment proses
1) Sediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
2) Sediakan perawat primer
3) Lindungi keluarga dari gangguan?pengunjung yang berlebihan dalam ruangan
4) Kurangi jam kunjungan untuk meningkatkan istirahat Ibu
c. Anxiety reduction
1) Gunakan ketenangan ketika pendekatan
2) Cari dan selidiki dengan jelas dari kebiasaan pasien
3) Cari ketidak pahaman pasien atas situasi stress
4) Semangati pasien untuk tetap bersama anaknya jika mungkin
5) Instruksikan kepada klien untuk menggunakan tekhnik relaksasi
6) Bantu klien untuk menidentifikasi situasi yang menimbulkan stress

4. Koping tidak efektif berhubungan dengan percaya diri tidak adekuat dalam kemampuan koping
Ditandai dengan :
a. Gangguan tidur
b. Konsentrasi buruk
c. Kelelahan
d. Perilaku merusak diri/ orang lain
e. Tidak mampu memenuhi harapan peran

Kriteria Hasil :
 Menggunakan alternative mekanisme koping terhadap stress
 Menunjukan pengontrolan terhadap perilaku merusak
 Pengetahuan tentang periode peralihan peran
 Menunjukan perhatian
Intervensi :
 Dorong klien untuk mengenali perubahan perannya secara realistic
 Dukung klien untuk mengetahui/ mengenali kemampuan dirinya
 Libatkan keluarga dalam mekanisme koping secara tepat
 Intruksikan klien untuk melakukan tehnik relaksasi jika dibutuhkan