<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar untuk brantas pamungkas</title>
	<atom:link href="http://brantas1984.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://brantas1984.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 30 Jun 2009 14:04:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Komentar di promkes oleh brantas pamungkas</title>
		<link>http://brantas1984.wordpress.com/2009/06/30/promkes/#comment-14</link>
		<dc:creator>brantas pamungkas</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 14:04:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://brantas1984.wordpress.com/2009/06/30/promkes/#comment-14</guid>
		<description>bila mau download vidio promkes kelompok kami dari semst 8  bisa di download dengan mengcopy url yang ada di atas di anda akan memasuki 4shared.com dan mengopi vidio kami beri komentar bila tidak berhasil</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bila mau download vidio promkes kelompok kami dari semst 8  bisa di download dengan mengcopy url yang ada di atas di anda akan memasuki 4shared.com dan mengopi vidio kami beri komentar bila tidak berhasil</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di MAKALAH MASALAH – MASALAH SENSORIS PADA LANJUT USIA oleh Tia Mahendra</title>
		<link>http://brantas1984.wordpress.com/2009/05/02/makalah-masalah-%e2%80%93-masalah-sensoris-pada-lanjut-usia/#comment-13</link>
		<dc:creator>Tia Mahendra</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 06:57:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://brantas1984.wordpress.com/2009/05/02/makalah-masalah-%e2%80%93-masalah-sensoris-pada-lanjut-usia/#comment-13</guid>
		<description>Saya adalah penderita glaukoma, sudah merasakan pederitaan dan perjuangan menghadapi glaukoma. Akan tetapi, alhamdulillah sekarang sudah sembuh berkat obat tetes mata herbal radix vitae. Tetes mata ini bisa juga menyembuhkan katarak, mata minus, silindris, plus, dan pterigium. Saya ingin semakin banyak penderita penyakit mata yang bisa sembuh seperti saya, karena biaya operasi dan obat-obatan kimia sangat mahal. Ikuti kisah saya di TOKO RADIX VITAE, tulis di google!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya adalah penderita glaukoma, sudah merasakan pederitaan dan perjuangan menghadapi glaukoma. Akan tetapi, alhamdulillah sekarang sudah sembuh berkat obat tetes mata herbal radix vitae. Tetes mata ini bisa juga menyembuhkan katarak, mata minus, silindris, plus, dan pterigium. Saya ingin semakin banyak penderita penyakit mata yang bisa sembuh seperti saya, karena biaya operasi dan obat-obatan kimia sangat mahal. Ikuti kisah saya di TOKO RADIX VITAE, tulis di google!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di kumpulan askep oleh agung</title>
		<link>http://brantas1984.wordpress.com/2008/06/14/kumpulan-askep/#comment-9</link>
		<dc:creator>agung</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Mar 2009 03:53:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://brantas1984.wordpress.com/?p=8#comment-9</guid>
		<description>ada askep abses anorektal ga mas??
saya bole download askepnya ya!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ada askep abses anorektal ga mas??<br />
saya bole download askepnya ya!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di kumpulan askep oleh larasaty</title>
		<link>http://brantas1984.wordpress.com/2008/06/14/kumpulan-askep/#comment-7</link>
		<dc:creator>larasaty</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2008 07:41:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://brantas1984.wordpress.com/?p=8#comment-7</guid>
		<description>weh brantas,,wakakaka
good job man
sebar ilmu sebar pahala
ajarin ak yach^^
atx_psik aisyiyah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>weh brantas,,wakakaka<br />
good job man<br />
sebar ilmu sebar pahala<br />
ajarin ak yach^^<br />
atx_psik aisyiyah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di kumpulan askep oleh loper</title>
		<link>http://brantas1984.wordpress.com/2008/06/14/kumpulan-askep/#comment-6</link>
		<dc:creator>loper</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2008 10:49:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://brantas1984.wordpress.com/?p=8#comment-6</guid>
		<description>thanks</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>thanks</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di kumpulan askep oleh eza akprop kaltim</title>
		<link>http://brantas1984.wordpress.com/2008/06/14/kumpulan-askep/#comment-5</link>
		<dc:creator>eza akprop kaltim</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 03:53:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://brantas1984.wordpress.com/?p=8#comment-5</guid>
		<description>terima kasih, atas lampirannya tentang askepnya soalnya data laporan saya yang kurang lengkap tertutupi kekurangannya dengan tambahan dari askep yang telah di posting..... thanhs</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>terima kasih, atas lampirannya tentang askepnya soalnya data laporan saya yang kurang lengkap tertutupi kekurangannya dengan tambahan dari askep yang telah di posting&#8230;.. thanhs</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di kumpulan askep oleh arifin</title>
		<link>http://brantas1984.wordpress.com/2008/06/14/kumpulan-askep/#comment-4</link>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 00:50:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://brantas1984.wordpress.com/?p=8#comment-4</guid>
		<description>thanks askepnya...terus berikan ilmu anda untuk berbagi sesama perawat dan mahasiswa ilmu keperawatan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>thanks askepnya&#8230;terus berikan ilmu anda untuk berbagi sesama perawat dan mahasiswa ilmu keperawatan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di topik brantas oleh baktihusad@cyber</title>
		<link>http://brantas1984.wordpress.com/2008/05/08/hello-world/#comment-3</link>
		<dc:creator>baktihusad@cyber</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Jul 2008 02:18:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-3</guid>
		<description>aq juga baru mo rembugan ma dewan2 semua.... tungu aja yya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>aq juga baru mo rembugan ma dewan2 semua&#8230;. tungu aja yya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di topik brantas oleh brantas1984</title>
		<link>http://brantas1984.wordpress.com/2008/05/08/hello-world/#comment-2</link>
		<dc:creator>brantas1984</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 07:21:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-2</guid>
		<description>ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
” DHF ”



 











PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ’AISYIYAH YOGYAKARTA 
2007/2008
KATA PENGANTAR


Assalamualaikum. Wr. Wb

	Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kepada Allah, karena kami telah dapat menyusun makalah ini. Makalah ini telah disesuaikan dengan pokok bahasan mata kuliah Asuhan Keperawatan Anak.
	Atas terselesainya makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.
	Makalah ini tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Untuk itub penulis sangat mengharapkan saran dan kritik. Saran dan masukan dari berbagai pihak agar dalam pembuatan makalah berikutnya menjadi sempurna.
	Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan pembaca.

Wassalmualaikum Wr. Wb.
	
							Yogyakarta, Februari 2008
								  Penulis












BAB I
PENDAHULUAN

A.	LATAR BELAKANG
Sampai saat ini penyakit DHF masih menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Angka kesakitan dan kematian DBD di berbagai Negara sangat bervariasi tergantung pada berbagai faktor, seperti: status kekebalan dari populasi, kepadatan Vektor dan frekuensi penularan (seringnya terjadi penular Venus Dengue), Prevalensi Serotype Virus Dengue dan keadaan cuaca.
Penderita penyakit DHF jika tidak mendapat perawatan yang memadai dapat mengalami pendarahan yang hebat, syok dan dapat mengakibatkan kematian. Oleh karena itu semua kasus DHF sesuai dengan criteria WHO harus mendapat perawatan di tempat pelayanan kesehatan ataupun Rumah Sakit. Sebenarnya penyakit DHF dapat dicegah dengan menghindari gigitan nyamuk Aedes Aegypti atau Aedes Algopicna. Selain itu pencegahan dapat dilakukan dengan mengupayakan perbaikan lingkungan yaitu melenyapkan tempat bertelur dan beristirahatnya nyamuk, baik secara alami ataupun menggunakan insektisida.
Banyak factor yang mempengaruhi kejadian penyakit DHF antara lain: factor hospes (host), lingkungan (environment) dan factor virus itu sendiri. Faktor hospes yaitu kerentanan (susceptibility) dan respon imun. Factor lingkungan (environment) yaitu kondisi geografis (ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, musim), kondisi demografis (kepadatan mobilitas, perilaku, adat istiadat, sosekonomi, penduduk), jenis dan kepadatan nyamuk sebagai penular penyakit.

B.	TUJUAN
1.	Mengetahui definisi, epidemologi, patogenesis, klasifikasi, gejala dan tanda, manifestasi klinis, komplikasi, pencegahan dan pengobatan, serta imunisasi DHF pada anak
2.	Dapat menerapkan asuhan keperawatan DHF pada pasien anak
BAB II
TINJAUAN TEORI

A.	PENGERTIAN
Penyakit deman akut yang disebabkan oleh 4 serotipe virus dengue dan ditandai dengan 4 gejala krisis uatam yaitu: demam yang tinggi, manifestasi pendarahan, hepatomegali dan tanda-tanda kegagalan sirkulasi sampai timbulnya renjatan sebagai akibat dari kebocoran plasma yang dapat menyebabkan kematian. (Soegeng Soegiyanto, Ilmu Penyakit Anak.Diagnosa dan Penatalaksanaan)
Infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus (Arthhropodborn Virus) dan dtularkan melalui gigitan nyamuk aedes (aedes albopictus dan aedes aegypti)(Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit).

B.	ETIOLOGI
Virus masuk ke dalam tubuh lewat gigitan nyamuk aedes aegypti yang tinggal di dalam rumah atau nyamuk aedes aegypti yang biasa berada di kebun pekarangan rumah. Keduanya bias sama menularkan virus dengue, namun nyamuk aedes aegypti yang paling sering menjadi penularnya.

C.	MANIFESTASI
1.	Demam yang tinggi mendadak yang berlangsung slama 2-7 hari &gt;39C
2.	Pendarahan trauma pada kulit
3.	Hepatomegali
4.	Anoreksia/ muntah-muntah
5.	Nyeri perut, nyeri pada otot dan tulang
6.	Sakit kepala
7.	Nadi cepat dan lemah ( 30%.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler dibuktikan dengan ditemukanya cairan dalam rongga serosa yaitu rongga perikonium pleura n perikard yang pada autopsy ternyata melebihi jumlah cairan yang telah diberikan sebelumnya melalui infuse. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera diatasi dapat berakibat anoksia jaringan, asidosis metabolic dan kematian.
Renjatan yang terjadi akut dan perbaikan klinis yang drastic stelah pemberian plasma yang efektif, sedangkan pada autopsy tidak ditemukan kerusakan dinding pembuluh darah yang destruktif, menimbulkan dugaan bahwa perubahan fungsional dinding pembuluh darah mungkin disebabkan mediator farmakologis yang bekerja singkat. Sebab lain pada DHF adalah perdaraan hebat yang biasanya timbul setelah renjatan berlangsung lama.

G.	PATHWAY
	Aedes Aegypti

Permeabilitas Vaskuler
Toksin
Gangguan Termoregulasi

Kebocoran Plasma (     Vol Plasma)
Anofilaktosis C35 &amp; C50	Set point

Cairan tertimbun dalam rongga serosa	Histamin
Dx Hipertermi
Renjatan hipovolemik	Sinapsis	
Asidosis Metabolik	Iritasi sel Pankreas Gaster

Mual Muntah
Nyeri	
Kekurangan volume cairan		


H.	PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan dijumpai
1.	Hb dan PCU meningkat ( ≥ 20% )
2.	Trobositopenia (≤ 100.000/ ml )
3.	Leucopenia (lingkungan normal atau lekositosis)
4.	Lg D dengue positif
5.	Hasil pemeriksanaan kimia darah menunjukan : hipoproteinemia, hipokloremia dan hiponatremia
6.	Ureum dan pH darah mungkin meningkat
7.	Asidosis metabolic : pCO2 &lt; 35-40 mmHg dan HCO3 rendah
8.	SGOT/ SGPT meningkat

I.	PENCEGAHAN
Pencegahan umum dan program pemberantasan dari pemerintah. Pencegahan umum dan program dalam memberantas penyakit demam berdarah yang dilakukan oleh pemerintah telah mengalami perbaikan selama hampir 36 tahun. Dekade pertama adalah dengan cara penyemprotan dengan menggunakan alat potabel dan ultra low volume (ULV). Dan dekade kedua dilakuka dengan penyemprotan yang ditambah dengan larvaside atau yang dikenal dengan abate. Secara umum pencegahan dilakukan dengan:
1.	.Penyemprotan atau vagging
2.	Pemberian bubuk abate pada bak penampungan air
3.	PSM (1993) diikuti pembentukan kelompok kerja (pokja) DBD yang merupakan koordinasi pemberantasan DBD dalam wadah LKMD
4.	Pemerintah juga membentuk forum kerjasama linta sektoraldi tiap tingkat administrasi pemerintah (kecamatan, kabupaten, propinsi, dan pusat) yang disebut dengan kelompok kerja oprasional
5.	Gunakan pemberantasan sarang nyamuk (GPSN). Pertama kali tanggal 14 april 1998. gerakan tersebut meliputi 3M, yaitu:
	Menguras tempat-tempat penampungan air secara teratur sedikitnya seminggu sekali / menaburkan bubuk abate kedalamnya
	Menutup rapat-rapat tempat penampungan air
	Mengukur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan

J.	PENATALAKSANAAN
1.	Kasus DBD yang diperkenankan berobat jalan
a.	Bila penderita hanya mengeluh panas
b.	Keinginan minum dan makan masih baik
c.	Mengatasi panas tinggi mendadak diberikan otot panas parasetamol 10-15 mg/Kg BB setiap 3-4 jam diulang jika simtom panas masih nyata diatas 38,5ºC.
2.	Kasus DBD derajat I dan II
a.	Pada hari ke 3, 4 dan 5 panas dianjurkan rawat inap karena penderita ini mempunyai resiko terjadinya syok.
b.	Infuse cairan kristaloid, koloidal
c.	Banyak minum air buah/ oralit
d.	Kebutuhan cairan sebainya diberikan dalam kurun waktu 2-3 jam pertama dan selanjutnya tetesan diatur kembali dalam waktu 24-48 jam saat kebocoran plasma terjadi.
3.	Kasus DBD derajat III dan IV
a.	Larutan garam isotonic (ringer laktat 5 % dektrose dalam larutan ringer laktat atau 5% dektrose dalam larutan ringer asetat dan larutan normal garam faali) dengan jumlah 10-20 ml/Kg/1 jam.
b.	Diberikan bolus 10 ml/ Kg (1 atau 2X)
c.	Jika syok berlangsung terus dengan hematoksit yang tinggi, larutan koloidal (dekstran dengan berat molekul 40.000 di dalam larutan normal garam faal/ plasma) dapat diberikan dengan jumlah 10-20 ml/kg/jam
d.	Pemasangan Central venus Pressure dan kateter Urinal.
e.	Pada bayi dianjurkan 5% dekstrose di dalam setengah larutan normal garam faali (5% dekstrose ½ NSS) dipakai pada awal memperbaiki keadaan penderita dan 5% dekstrose di dalam 1/3 larutan normal garam faali boleh diberikan pada bayi di bawah 1 tahun, jika kadar natrium dalam darah normal
f.	Infuse dihentikan bila hematokrit sampai 40% dengan tanda vital stabil/ normal
4.	Koreksi elektrosit dan kelainan metabolic kadar kalium dalam serum pada kasus yang berat biasanya rendah
5.	Obat penenang
a.	Chloral hidrat oral/ rectal dosis 12,5-50 mg/kg (jangan lebih 1 jam)
b.	Valium 0,3-0,5 mg/kg/BB/kali (bila tidak terjadi gangguan system pernafasan)
c.	Lorgactil 1 mg/kg/BB/hari
6.	Terapi O2
7.	Tranfusi darah
8.	Perawatan dirumah
	Minum yang banyak. 
	Dicatat seberapa banyak minumnya
	Dicatat kencing jam berapa
	Nutrisi harus terpenuhi
	Kalau demam diatas 38C diberi parasetamol
	Dilarang keras memberikan Salisilat dan ibuprofen.
	Tiap hari mulai hari ke 3, 4, 5, 6 sebaiknya kontrol dokterdan pemeriksaan darah terutama hematokrit dan trombosit.

K.	PROGNOSIS
Kematian dijumpai pada waktu ada pendarahan yang berat, syock yang tidak teratasi, efusi pleura dan asites yang berat dan kejang. Kematian dapat juga disebabkan oleh sepsis karena tindakan dan lingkungan bangsal rumah sakit yang kurang bersih. Kemudian terjadi kasus yang berat yaitu waktu muncul komplikasi pada sistem saraf, kardiovaskuler, pernafasan, darah dan organ lain.


L.	KOMPLIKASI
Peningkatan jumlah kasus ini mempunyai hubungan dengan manifestasi tidak umum, manifestasi ini termasuk fenomena SSP seperti kejang, spastisitas, perubahan kesadaran dan proses transit. Bentuk kejang halus kadang terjadi selama fase demam pada bayi. Kejang ini mungkin hanya kejang demam sederhana, karena cairan serebrospinal ditemukan normal dalam kasus ini. Intoksikasi air akibat dari pemberian cairan isotonik berlebihan untuk mengatasi pasien dengan hipoatremia dapat menimbulkan ensefalopati.
Ada beberapa laporan tentang isolasi virus / anti dengue IgM dari cairan serebrospinal. Namun sampai sekarang tidak ada bukti keterlibatan langsung virus dengue dalam kerusakan neural.
Perawatan harus dilakukan secara hati-hati untuk mencegah komplikasi iatrogenik dalam pengobatan DHF. Komplikasi ini termasuk sepsis, pneumonia, infeksi luka, dan dehidrasi berlebihan. Penggunaan jalur intravena terkontaminasi dapat menyebabakan sepsis gram negatif yang disertai dengan demam, syok, dan pendarahan berat, pneumonia dan infeksi lain dapat menyebabkan dan menyulitkan pemulihan. Hidrasi berlebihan dapat menyebabkan GG atau pernafasan.














BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN DHF PADA ANAK

A.	PENGKAJIAN
1.	Identitas pasien
2.	Keluhan utama
Alasan/ keluhan yang menonjol pada pasien DHF untuk dating ke RS adalah panas tinggi dan anak lemah
3.	Riwayat penyakit sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai menggigil dan saat-saat demam kesadaran kompos mentis. Turunnya panas terjadi antara hari ke 3 dan ke 7 dan anak semakin lemah. Kadang-kadang disertai keluhan batuk, pilek, mual, nyeri telan, muntah anoreksia, nyeri otot, dan persendian.
4.	Riwayat penyakit yang pernah diderita
5.	Riwayat Imunisasi
6.	Riwayat gizi
7.	Kondisi lingkungan
8.	Pola kebiasaan
9.	Pemeriksaan fisik meliputi: inspeksi, palposi, aukskultasi dan perkusi dari ujung rambut sampai ujung kaki berdasarkan tingkatan DHF
10.	Pemeriksaan system otot
11.	Psikosial: cemas terhadap kondisi yang sekarang.
12.	Pemeriksaan fisik lainnya
1.	Adanya petekia pada kulit menurun dan muncul keringat dingin dan lembab
2.	Kuku sianosis
3.	Kepada dan leher
Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam, mata anemis, hidung kadang mengalami pendarahan (epitaksis) pada grade II,III,IV. Pada mulut didapatkan bahwa mukosa mulut kering, terjadi perdarahan gusi dan nyeri telan. Tenggorokan mengalami hyperkimia pharing dan terjadi pendarahan telinga (pada grade II,III,IV)
4.	Dada
Bentuk simetris dan kadang-kadang terasa sesak. Pada foto thorax terhadap adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan (efusi pleura)
5.	Abdomen
Mengalami nyeri tekan, perbesaran hati (hepatomegali) dan asites
6.	Ektremitas, akral dingin serta terjadi nyeri otot, sendi serta tulang.


B.	DIAGNOSA PRIORITAS
1.	Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif (mual, muntah)
2.	Hyperthermia berhubungan dengan penyakit
3.	Nyeri akut berhubungan dengan Agen Indera Biologi

C.	PERENCANAAN
1.	Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif (mual, muntah)
	NOC	: -    mengontrol pemasukan dan pengeluaran cairan
-	Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
-	Mengontrol berat badan
-	Mampu mengidentifikasi kbutuhan nutrisi
	NIC	: -    monitor keadaan umum pasien
-	Observasi tanda-tanda vital
-	Perhatikan keluhan pasien
-	Kolaborasi pemasangan infuse dan terapi-terapi cairan intravena
-	Monitor input dan output cairan
-	Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan pasien.


2.	Hyperthermia berhubungan dengan penyakit
		NOC	: -    Suhu tubuh dalam rentang normal
-	Nadi dan RR dam rentang normal
-	Tidak ada perubahan warna kulit
		NIC	: -    observasi tanda-tanda vital
-	Berikan penjelasan kedada pasien / keluarga untuk mengatasi demam
-	Jelaskan pentingnya tiras baring
-	Anjurkan pasien untuk banyak minum
-	Catat asupan dan keluaran cairan
-	Kolaborasi pemberian cairan intravena
-	Kolaborasi pemberian obat
3.	Nyeri akut berhubungan dengan Agen Indera Biologi
	NOC	: -    Kontrol nyeri
-	Klien mengatakan nyeri berkurang
-	Klien dapat mengekspresikan nyeri secara verbal
	NIC	: -    mengkaji tingkat nyeri
-	Berikan posisi yang nyaman
-	Berikan suasana yang gembira
-	Berikan teknik nonfarmakologi
-	Kolaborasi pemberian analgetik
-	Kaji lokasi nyeri









BAB IV
PENUTUP

A.	KESIMPULAN
DHF adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbavirus (arthropodborn Virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes (aedes albopictus dan aedes aegypti).

Manifestasi dari DHF:
1.	Demam yang tinggi mendadak yang berlangsung slama 2-7 hari
2.	Pendarahan trauma pada kulit
3.	Hepatomegali
4.	Anoreksia/ muntah-muntah
5.	Nyeri perut, nyeri pada otot dan tulang
6.	Sakit kepala
7.	Nadi cepat dan lemah (&lt; 20 mmHg)
8.	Kulit dingin
9.	Anak gelisah
10.	Lidah kotor dan susah BAB

Diagnosa
1.	Kekurangan volume cairan berbanding kehilangan volume cairan aktif (mual, muntah)
2.	Hyperthermia berbanding penyakit
3.	Nyeri akut berbanding Agen Indera Biologi

B.	SARAN
Dengan Makalah ini semoga para pembaca dapat mengambil manfaat dari pengetahuan tentang penyakit DHF. Kita sebagai tenaga kesehatan harus mampu dan memahami konsep dan segala sesuatu dan bagaimana kita merawat dan mengobati pasien dengan penderita DHF.
Selain itu kita harus mencegah agar penyakit DHF tidak menyebar atau menjangkit kita dan masyarakat sekitar dengan cara menjaga kebersihan lingkungan




























DAFTAR PUSTAKA

Wheley, Wong’s.2002.Nursing Infants dan Children. Mosby
Nadesul, Hendrawan.2007.Cara Mudah Mengalahkan DB.Jakarta: Kompas
Soegiyanto,Soegeng.2006.Demam Berdarah Denue.Surabaya:Ailangga University 
Press.
Ngastiyah.1999.Perawatan Anak Sakit.Jakarta: EGC
Usnandar dkk.2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan anak.Jakarta.salemba Medika
         .1987.Ilmu Penyakit Dalam.Jakarta:FKUI
Soegiyanto, Soegeng.2002.Ilmu Penyakit Anak Diagnosa dan 
Penatalaksanaan.Jakarta.Salemba Medika
NANDA
NIC
NOC
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ASUHAN KEPERAWATAN ANAK<br />
” DHF ”</p>
<p>PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN<br />
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ’AISYIYAH YOGYAKARTA<br />
2007/2008<br />
KATA PENGANTAR</p>
<p>Assalamualaikum. Wr. Wb</p>
<p>	Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kepada Allah, karena kami telah dapat menyusun makalah ini. Makalah ini telah disesuaikan dengan pokok bahasan mata kuliah Asuhan Keperawatan Anak.<br />
	Atas terselesainya makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.<br />
	Makalah ini tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Untuk itub penulis sangat mengharapkan saran dan kritik. Saran dan masukan dari berbagai pihak agar dalam pembuatan makalah berikutnya menjadi sempurna.<br />
	Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan pembaca.</p>
<p>Wassalmualaikum Wr. Wb.</p>
<p>							Yogyakarta, Februari 2008<br />
								  Penulis</p>
<p>BAB I<br />
PENDAHULUAN</p>
<p>A.	LATAR BELAKANG<br />
Sampai saat ini penyakit DHF masih menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Angka kesakitan dan kematian DBD di berbagai Negara sangat bervariasi tergantung pada berbagai faktor, seperti: status kekebalan dari populasi, kepadatan Vektor dan frekuensi penularan (seringnya terjadi penular Venus Dengue), Prevalensi Serotype Virus Dengue dan keadaan cuaca.<br />
Penderita penyakit DHF jika tidak mendapat perawatan yang memadai dapat mengalami pendarahan yang hebat, syok dan dapat mengakibatkan kematian. Oleh karena itu semua kasus DHF sesuai dengan criteria WHO harus mendapat perawatan di tempat pelayanan kesehatan ataupun Rumah Sakit. Sebenarnya penyakit DHF dapat dicegah dengan menghindari gigitan nyamuk Aedes Aegypti atau Aedes Algopicna. Selain itu pencegahan dapat dilakukan dengan mengupayakan perbaikan lingkungan yaitu melenyapkan tempat bertelur dan beristirahatnya nyamuk, baik secara alami ataupun menggunakan insektisida.<br />
Banyak factor yang mempengaruhi kejadian penyakit DHF antara lain: factor hospes (host), lingkungan (environment) dan factor virus itu sendiri. Faktor hospes yaitu kerentanan (susceptibility) dan respon imun. Factor lingkungan (environment) yaitu kondisi geografis (ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, musim), kondisi demografis (kepadatan mobilitas, perilaku, adat istiadat, sosekonomi, penduduk), jenis dan kepadatan nyamuk sebagai penular penyakit.</p>
<p>B.	TUJUAN<br />
1.	Mengetahui definisi, epidemologi, patogenesis, klasifikasi, gejala dan tanda, manifestasi klinis, komplikasi, pencegahan dan pengobatan, serta imunisasi DHF pada anak<br />
2.	Dapat menerapkan asuhan keperawatan DHF pada pasien anak<br />
BAB II<br />
TINJAUAN TEORI</p>
<p>A.	PENGERTIAN<br />
Penyakit deman akut yang disebabkan oleh 4 serotipe virus dengue dan ditandai dengan 4 gejala krisis uatam yaitu: demam yang tinggi, manifestasi pendarahan, hepatomegali dan tanda-tanda kegagalan sirkulasi sampai timbulnya renjatan sebagai akibat dari kebocoran plasma yang dapat menyebabkan kematian. (Soegeng Soegiyanto, Ilmu Penyakit Anak.Diagnosa dan Penatalaksanaan)<br />
Infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus (Arthhropodborn Virus) dan dtularkan melalui gigitan nyamuk aedes (aedes albopictus dan aedes aegypti)(Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit).</p>
<p>B.	ETIOLOGI<br />
Virus masuk ke dalam tubuh lewat gigitan nyamuk aedes aegypti yang tinggal di dalam rumah atau nyamuk aedes aegypti yang biasa berada di kebun pekarangan rumah. Keduanya bias sama menularkan virus dengue, namun nyamuk aedes aegypti yang paling sering menjadi penularnya.</p>
<p>C.	MANIFESTASI<br />
1.	Demam yang tinggi mendadak yang berlangsung slama 2-7 hari &gt;39C<br />
2.	Pendarahan trauma pada kulit<br />
3.	Hepatomegali<br />
4.	Anoreksia/ muntah-muntah<br />
5.	Nyeri perut, nyeri pada otot dan tulang<br />
6.	Sakit kepala<br />
7.	Nadi cepat dan lemah ( 30%.<br />
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler dibuktikan dengan ditemukanya cairan dalam rongga serosa yaitu rongga perikonium pleura n perikard yang pada autopsy ternyata melebihi jumlah cairan yang telah diberikan sebelumnya melalui infuse. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera diatasi dapat berakibat anoksia jaringan, asidosis metabolic dan kematian.<br />
Renjatan yang terjadi akut dan perbaikan klinis yang drastic stelah pemberian plasma yang efektif, sedangkan pada autopsy tidak ditemukan kerusakan dinding pembuluh darah yang destruktif, menimbulkan dugaan bahwa perubahan fungsional dinding pembuluh darah mungkin disebabkan mediator farmakologis yang bekerja singkat. Sebab lain pada DHF adalah perdaraan hebat yang biasanya timbul setelah renjatan berlangsung lama.</p>
<p>G.	PATHWAY<br />
	Aedes Aegypti</p>
<p>Permeabilitas Vaskuler<br />
Toksin<br />
Gangguan Termoregulasi</p>
<p>Kebocoran Plasma (     Vol Plasma)<br />
Anofilaktosis C35 &amp; C50	Set point</p>
<p>Cairan tertimbun dalam rongga serosa	Histamin<br />
Dx Hipertermi<br />
Renjatan hipovolemik	Sinapsis<br />
Asidosis Metabolik	Iritasi sel Pankreas Gaster</p>
<p>Mual Muntah<br />
Nyeri<br />
Kekurangan volume cairan		</p>
<p>H.	PEMERIKSAAN PENUNJANG<br />
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan dijumpai<br />
1.	Hb dan PCU meningkat ( ≥ 20% )<br />
2.	Trobositopenia (≤ 100.000/ ml )<br />
3.	Leucopenia (lingkungan normal atau lekositosis)<br />
4.	Lg D dengue positif<br />
5.	Hasil pemeriksanaan kimia darah menunjukan : hipoproteinemia, hipokloremia dan hiponatremia<br />
6.	Ureum dan pH darah mungkin meningkat<br />
7.	Asidosis metabolic : pCO2 &lt; 35-40 mmHg dan HCO3 rendah<br />
8.	SGOT/ SGPT meningkat</p>
<p>I.	PENCEGAHAN<br />
Pencegahan umum dan program pemberantasan dari pemerintah. Pencegahan umum dan program dalam memberantas penyakit demam berdarah yang dilakukan oleh pemerintah telah mengalami perbaikan selama hampir 36 tahun. Dekade pertama adalah dengan cara penyemprotan dengan menggunakan alat potabel dan ultra low volume (ULV). Dan dekade kedua dilakuka dengan penyemprotan yang ditambah dengan larvaside atau yang dikenal dengan abate. Secara umum pencegahan dilakukan dengan:<br />
1.	.Penyemprotan atau vagging<br />
2.	Pemberian bubuk abate pada bak penampungan air<br />
3.	PSM (1993) diikuti pembentukan kelompok kerja (pokja) DBD yang merupakan koordinasi pemberantasan DBD dalam wadah LKMD<br />
4.	Pemerintah juga membentuk forum kerjasama linta sektoraldi tiap tingkat administrasi pemerintah (kecamatan, kabupaten, propinsi, dan pusat) yang disebut dengan kelompok kerja oprasional<br />
5.	Gunakan pemberantasan sarang nyamuk (GPSN). Pertama kali tanggal 14 april 1998. gerakan tersebut meliputi 3M, yaitu:<br />
	Menguras tempat-tempat penampungan air secara teratur sedikitnya seminggu sekali / menaburkan bubuk abate kedalamnya<br />
	Menutup rapat-rapat tempat penampungan air<br />
	Mengukur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan</p>
<p>J.	PENATALAKSANAAN<br />
1.	Kasus DBD yang diperkenankan berobat jalan<br />
a.	Bila penderita hanya mengeluh panas<br />
b.	Keinginan minum dan makan masih baik<br />
c.	Mengatasi panas tinggi mendadak diberikan otot panas parasetamol 10-15 mg/Kg BB setiap 3-4 jam diulang jika simtom panas masih nyata diatas 38,5ºC.<br />
2.	Kasus DBD derajat I dan II<br />
a.	Pada hari ke 3, 4 dan 5 panas dianjurkan rawat inap karena penderita ini mempunyai resiko terjadinya syok.<br />
b.	Infuse cairan kristaloid, koloidal<br />
c.	Banyak minum air buah/ oralit<br />
d.	Kebutuhan cairan sebainya diberikan dalam kurun waktu 2-3 jam pertama dan selanjutnya tetesan diatur kembali dalam waktu 24-48 jam saat kebocoran plasma terjadi.<br />
3.	Kasus DBD derajat III dan IV<br />
a.	Larutan garam isotonic (ringer laktat 5 % dektrose dalam larutan ringer laktat atau 5% dektrose dalam larutan ringer asetat dan larutan normal garam faali) dengan jumlah 10-20 ml/Kg/1 jam.<br />
b.	Diberikan bolus 10 ml/ Kg (1 atau 2X)<br />
c.	Jika syok berlangsung terus dengan hematoksit yang tinggi, larutan koloidal (dekstran dengan berat molekul 40.000 di dalam larutan normal garam faal/ plasma) dapat diberikan dengan jumlah 10-20 ml/kg/jam<br />
d.	Pemasangan Central venus Pressure dan kateter Urinal.<br />
e.	Pada bayi dianjurkan 5% dekstrose di dalam setengah larutan normal garam faali (5% dekstrose ½ NSS) dipakai pada awal memperbaiki keadaan penderita dan 5% dekstrose di dalam 1/3 larutan normal garam faali boleh diberikan pada bayi di bawah 1 tahun, jika kadar natrium dalam darah normal<br />
f.	Infuse dihentikan bila hematokrit sampai 40% dengan tanda vital stabil/ normal<br />
4.	Koreksi elektrosit dan kelainan metabolic kadar kalium dalam serum pada kasus yang berat biasanya rendah<br />
5.	Obat penenang<br />
a.	Chloral hidrat oral/ rectal dosis 12,5-50 mg/kg (jangan lebih 1 jam)<br />
b.	Valium 0,3-0,5 mg/kg/BB/kali (bila tidak terjadi gangguan system pernafasan)<br />
c.	Lorgactil 1 mg/kg/BB/hari<br />
6.	Terapi O2<br />
7.	Tranfusi darah<br />
8.	Perawatan dirumah<br />
	Minum yang banyak.<br />
	Dicatat seberapa banyak minumnya<br />
	Dicatat kencing jam berapa<br />
	Nutrisi harus terpenuhi<br />
	Kalau demam diatas 38C diberi parasetamol<br />
	Dilarang keras memberikan Salisilat dan ibuprofen.<br />
	Tiap hari mulai hari ke 3, 4, 5, 6 sebaiknya kontrol dokterdan pemeriksaan darah terutama hematokrit dan trombosit.</p>
<p>K.	PROGNOSIS<br />
Kematian dijumpai pada waktu ada pendarahan yang berat, syock yang tidak teratasi, efusi pleura dan asites yang berat dan kejang. Kematian dapat juga disebabkan oleh sepsis karena tindakan dan lingkungan bangsal rumah sakit yang kurang bersih. Kemudian terjadi kasus yang berat yaitu waktu muncul komplikasi pada sistem saraf, kardiovaskuler, pernafasan, darah dan organ lain.</p>
<p>L.	KOMPLIKASI<br />
Peningkatan jumlah kasus ini mempunyai hubungan dengan manifestasi tidak umum, manifestasi ini termasuk fenomena SSP seperti kejang, spastisitas, perubahan kesadaran dan proses transit. Bentuk kejang halus kadang terjadi selama fase demam pada bayi. Kejang ini mungkin hanya kejang demam sederhana, karena cairan serebrospinal ditemukan normal dalam kasus ini. Intoksikasi air akibat dari pemberian cairan isotonik berlebihan untuk mengatasi pasien dengan hipoatremia dapat menimbulkan ensefalopati.<br />
Ada beberapa laporan tentang isolasi virus / anti dengue IgM dari cairan serebrospinal. Namun sampai sekarang tidak ada bukti keterlibatan langsung virus dengue dalam kerusakan neural.<br />
Perawatan harus dilakukan secara hati-hati untuk mencegah komplikasi iatrogenik dalam pengobatan DHF. Komplikasi ini termasuk sepsis, pneumonia, infeksi luka, dan dehidrasi berlebihan. Penggunaan jalur intravena terkontaminasi dapat menyebabakan sepsis gram negatif yang disertai dengan demam, syok, dan pendarahan berat, pneumonia dan infeksi lain dapat menyebabkan dan menyulitkan pemulihan. Hidrasi berlebihan dapat menyebabkan GG atau pernafasan.</p>
<p>BAB III<br />
ASUHAN KEPERAWATAN DHF PADA ANAK</p>
<p>A.	PENGKAJIAN<br />
1.	Identitas pasien<br />
2.	Keluhan utama<br />
Alasan/ keluhan yang menonjol pada pasien DHF untuk dating ke RS adalah panas tinggi dan anak lemah<br />
3.	Riwayat penyakit sekarang<br />
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai menggigil dan saat-saat demam kesadaran kompos mentis. Turunnya panas terjadi antara hari ke 3 dan ke 7 dan anak semakin lemah. Kadang-kadang disertai keluhan batuk, pilek, mual, nyeri telan, muntah anoreksia, nyeri otot, dan persendian.<br />
4.	Riwayat penyakit yang pernah diderita<br />
5.	Riwayat Imunisasi<br />
6.	Riwayat gizi<br />
7.	Kondisi lingkungan<br />
8.	Pola kebiasaan<br />
9.	Pemeriksaan fisik meliputi: inspeksi, palposi, aukskultasi dan perkusi dari ujung rambut sampai ujung kaki berdasarkan tingkatan DHF<br />
10.	Pemeriksaan system otot<br />
11.	Psikosial: cemas terhadap kondisi yang sekarang.<br />
12.	Pemeriksaan fisik lainnya<br />
1.	Adanya petekia pada kulit menurun dan muncul keringat dingin dan lembab<br />
2.	Kuku sianosis<br />
3.	Kepada dan leher<br />
Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam, mata anemis, hidung kadang mengalami pendarahan (epitaksis) pada grade II,III,IV. Pada mulut didapatkan bahwa mukosa mulut kering, terjadi perdarahan gusi dan nyeri telan. Tenggorokan mengalami hyperkimia pharing dan terjadi pendarahan telinga (pada grade II,III,IV)<br />
4.	Dada<br />
Bentuk simetris dan kadang-kadang terasa sesak. Pada foto thorax terhadap adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan (efusi pleura)<br />
5.	Abdomen<br />
Mengalami nyeri tekan, perbesaran hati (hepatomegali) dan asites<br />
6.	Ektremitas, akral dingin serta terjadi nyeri otot, sendi serta tulang.</p>
<p>B.	DIAGNOSA PRIORITAS<br />
1.	Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif (mual, muntah)<br />
2.	Hyperthermia berhubungan dengan penyakit<br />
3.	Nyeri akut berhubungan dengan Agen Indera Biologi</p>
<p>C.	PERENCANAAN<br />
1.	Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif (mual, muntah)<br />
	NOC	: &#8211;    mengontrol pemasukan dan pengeluaran cairan<br />
-	Tidak ada tanda-tanda dehidrasi<br />
-	Mengontrol berat badan<br />
-	Mampu mengidentifikasi kbutuhan nutrisi<br />
	NIC	: &#8211;    monitor keadaan umum pasien<br />
-	Observasi tanda-tanda vital<br />
-	Perhatikan keluhan pasien<br />
-	Kolaborasi pemasangan infuse dan terapi-terapi cairan intravena<br />
-	Monitor input dan output cairan<br />
-	Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan pasien.</p>
<p>2.	Hyperthermia berhubungan dengan penyakit<br />
		NOC	: &#8211;    Suhu tubuh dalam rentang normal<br />
-	Nadi dan RR dam rentang normal<br />
-	Tidak ada perubahan warna kulit<br />
		NIC	: &#8211;    observasi tanda-tanda vital<br />
-	Berikan penjelasan kedada pasien / keluarga untuk mengatasi demam<br />
-	Jelaskan pentingnya tiras baring<br />
-	Anjurkan pasien untuk banyak minum<br />
-	Catat asupan dan keluaran cairan<br />
-	Kolaborasi pemberian cairan intravena<br />
-	Kolaborasi pemberian obat<br />
3.	Nyeri akut berhubungan dengan Agen Indera Biologi<br />
	NOC	: &#8211;    Kontrol nyeri<br />
-	Klien mengatakan nyeri berkurang<br />
-	Klien dapat mengekspresikan nyeri secara verbal<br />
	NIC	: &#8211;    mengkaji tingkat nyeri<br />
-	Berikan posisi yang nyaman<br />
-	Berikan suasana yang gembira<br />
-	Berikan teknik nonfarmakologi<br />
-	Kolaborasi pemberian analgetik<br />
-	Kaji lokasi nyeri</p>
<p>BAB IV<br />
PENUTUP</p>
<p>A.	KESIMPULAN<br />
DHF adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbavirus (arthropodborn Virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes (aedes albopictus dan aedes aegypti).</p>
<p>Manifestasi dari DHF:<br />
1.	Demam yang tinggi mendadak yang berlangsung slama 2-7 hari<br />
2.	Pendarahan trauma pada kulit<br />
3.	Hepatomegali<br />
4.	Anoreksia/ muntah-muntah<br />
5.	Nyeri perut, nyeri pada otot dan tulang<br />
6.	Sakit kepala<br />
7.	Nadi cepat dan lemah (&lt; 20 mmHg)<br />
8.	Kulit dingin<br />
9.	Anak gelisah<br />
10.	Lidah kotor dan susah BAB</p>
<p>Diagnosa<br />
1.	Kekurangan volume cairan berbanding kehilangan volume cairan aktif (mual, muntah)<br />
2.	Hyperthermia berbanding penyakit<br />
3.	Nyeri akut berbanding Agen Indera Biologi</p>
<p>B.	SARAN<br />
Dengan Makalah ini semoga para pembaca dapat mengambil manfaat dari pengetahuan tentang penyakit DHF. Kita sebagai tenaga kesehatan harus mampu dan memahami konsep dan segala sesuatu dan bagaimana kita merawat dan mengobati pasien dengan penderita DHF.<br />
Selain itu kita harus mencegah agar penyakit DHF tidak menyebar atau menjangkit kita dan masyarakat sekitar dengan cara menjaga kebersihan lingkungan</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Wheley, Wong’s.2002.Nursing Infants dan Children. Mosby<br />
Nadesul, Hendrawan.2007.Cara Mudah Mengalahkan DB.Jakarta: Kompas<br />
Soegiyanto,Soegeng.2006.Demam Berdarah Denue.Surabaya:Ailangga University<br />
Press.<br />
Ngastiyah.1999.Perawatan Anak Sakit.Jakarta: EGC<br />
Usnandar dkk.2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan anak.Jakarta.salemba Medika<br />
         .1987.Ilmu Penyakit Dalam.Jakarta:FKUI<br />
Soegiyanto, Soegeng.2002.Ilmu Penyakit Anak Diagnosa dan<br />
Penatalaksanaan.Jakarta.Salemba Medika<br />
NANDA<br />
NIC<br />
NOC</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di topik brantas oleh Mr WordPress</title>
		<link>http://brantas1984.wordpress.com/2008/05/08/hello-world/#comment-1</link>
		<dc:creator>Mr WordPress</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 07:15:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-1</guid>
		<description>Hi, this is a comment.&lt;br /&gt;To delete a comment, just log in, and view the posts&#039; comments, there you will have the option to edit or delete them.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hi, this is a comment.<br />To delete a comment, just log in, and view the posts&#8217; comments, there you will have the option to edit or delete them.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
