Arsip untuk Mei, 2009

etika perawat dalam kasus HIV AIDS

Posted in Uncategorized on Mei 23, 2009 by brantas pamungkas

 Contoh kasus :
Tn. P adalah seorang sopir bus antar provinsi. Ia telah bekerja selama 20 tahun sebagai seorang sopir. Akhir-akhir ini Tn. P sering demam, diare, dan menderita sariawan yang tidak sembuh-sembuh sudah hampir 2 bulan, berat badan turun lebih dari 5 Kg. Tn P tidak menganggap serius penyakitnya sehingga dia hanya berusaha minum obat warung dan belum sembuh juga akhirnya keluarganya membawa Tn. P ke RSUP S. Tn. P meminta kepada Ners Ratna untuk segera memberitahu hasil pemeriksaannya. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Tn. P positif menderita HIV.
Ners Ratna yang merawat Tn.P kebetulan sudah bekerja selama 10 tahun di bangsal B20 ini. Keluarga meminta Ners Ratna untuk tidak memberitahukan mengenai penyakit ini kepada pasien ataupun kepada para pembesuknya. Keluarga takut kalau pasien di beritahu keluarga takut Tn.P akan frustasi, tidak bisa menerima kondisinya, dan akan dikucilkan oleh masyarakat. Ners Ratna mengalami dilema etik dimana di satu sisi dia harus memenuhi permintaan keluarga namun di sisi lain Ners Ratna harus memberitahukan kondisi yang dialami oleh Tn. P.

 Analisa masalah
 Tn. P meminta kepada Ners Ratna untuk menjelaskan tentang kondisinya.
 Keluarga meminta kepada Ners Ratna untuk merahasiakan kondisi Tn. P.
 Ners Ratna merasa bingung disatu sisi harus memenuhi permintaan keluarga disisi lain harus memenuhi hak pasien untuk memperoleh informasi tentang kondisinya.

 Identifikasi masalah etik
 Tn.P berhak untuk mendapatkan informasi terkait dengan kondisi kesehatannya saat ini.
 Ners Ratna merasa keberatan terhadap permintaan keluarganya karena jika Tn. P tidak mendapatkan informasi tentang penyakitnya maka akan menghambat proses penyembuhannya.
 Ners Ratna mempunyai kewajiban untuk memberikan segala informasi yang ditanyakan oleh Tn. P tentang kondisi kesehatannya.

 Perencanaan
A. Identifikasi alternatif
a) Ners Ratna sebaiknya diam saja dalam membantu proses keperawatan, bila ditanya pasien akan menjawab :
 Merujuk ke Dokter
 Menyatakan menyesal
 Membisu
Kesimpulan :
 Hak pasien untuk mendapatkan informasi dilanggar
 Ners Ratna bekerja sesuai dengan tugasnya tetapi ia merasa berdosa karena menghianati pasien
 Untuk masa datang peristiwa tersebut dapat terulang lagi
b) Ners Ratna mencoba meminta kepada keluarga pasien untuk tetap memberikan informasi kepada Tn. P karena hal ini akan berdampak pada proses penyembuhan dan dampak psikologisnya.
Bila keluarga pasien tetap tidak setuju dan tetap nekat dengan keputusannya maka Ners Ratna akan :
 Tetap berusaha menerangkan kepada keluarga tentang dampak dan resiko apabila pasien tidak mengetahui kondisi kesehatannya
 Ners Ratna membuat perjanjian dengan keluarga bahwa dampak yang akan ditimbulkan dari keputusan tersebut diluar tanggungjawab perawat
Kesimpulan :
 Kejadian tersebut tidak akan terulang lagi
c) Ners Ratna tidak mengatakan apa-apa dan terus melakukan perawatan terhadap Tn.P dan percaya bahwa saat ini tindakan tersebut yang paling aman namun berketetapan akan mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki situasi.
Kesimpulan :
Walau kali ini tidak ada manfaat tetapi diharapkan untuk lain diharapkan dapat bermanfaat.

B. Pikirkan prinsip dan filosofi etika
Prinsip-prinsip dasar moralitas :
a. Apa yang terbaik bagi pasien adalah kepedulian utama bagi perawat
b. Menghormati hak azasi pasien
c. Keadilan
d. Etik dasar keperawatan mewajibkan perawat untuk mengayomi pasien

C. Membuat keputusan
Berdasarkan pengalaman Ns. Ratna masa lalu dimana pasien mengalami dampak psikologis yang berat sehingga perawat berniat untuk membicarakan hal ini pada keluarga untuk menindaklanjuti dengan pendekatan informasi seperti apa yang harus diberikan pada Tn. P supaya Tn. P tidak terlalu merasa kaget dan rendah diri sehingga pasien dapat membantu dalam proses penyembuhannya.

 Pelaksanaan dan Evaluasi
Ns. Ratna belum yakin bahwa pendekatan dari hati ke hati dapat melunakkan hati keluarga pasien supaya masalah perampasan hak pasien tidak terulang lagi. Walau Ns. Ratna merasa tidak puas dengan apa yang dia lakukan namun mengharap bahwa apa yang dia lakukan dapat mencgah masaalah tersebul terjadi lagi. Ns. Ratna perlu menghubungi tim etik RS.

TUGAS
ETIKA KEPERAWATAN

Disusun oleh :
Astri Purnitasari 0502R00257
Bagus Prasetio 0502R00261
Brantas Pamungkas 0502R00262
Desi Wahyu Utami 0502R00264
Dewi Aprilia 0502R00265

PROGRAM PENDIDIKAN NERS
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
2009

etika perawat dalam kasus HIV AIDS

Posted in Uncategorized on Mei 23, 2009 by brantas pamungkas

 Contoh kasus :
Tn. P adalah seorang sopir bus antar provinsi. Ia telah bekerja selama 20 tahun sebagai seorang sopir. Akhir-akhir ini Tn. P sering demam, diare, dan menderita sariawan yang tidak sembuh-sembuh sudah hampir 2 bulan, berat badan turun lebih dari 5 Kg. Tn P tidak menganggap serius penyakitnya sehingga dia hanya berusaha minum obat warung dan belum sembuh juga akhirnya keluarganya membawa Tn. P ke RSUP S. Tn. P meminta kepada Ners Ratna untuk segera memberitahu hasil pemeriksaannya. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Tn. P positif menderita HIV.
Ners Ratna yang merawat Tn.P kebetulan sudah bekerja selama 10 tahun di bangsal B20 ini. Keluarga meminta Ners Ratna untuk tidak memberitahukan mengenai penyakit ini kepada pasien ataupun kepada para pembesuknya. Keluarga takut kalau pasien di beritahu keluarga takut Tn.P akan frustasi, tidak bisa menerima kondisinya, dan akan dikucilkan oleh masyarakat. Ners Ratna mengalami dilema etik dimana di satu sisi dia harus memenuhi permintaan keluarga namun di sisi lain Ners Ratna harus memberitahukan kondisi yang dialami oleh Tn. P.

 Analisa masalah
 Tn. P meminta kepada Ners Ratna untuk menjelaskan tentang kondisinya.
 Keluarga meminta kepada Ners Ratna untuk merahasiakan kondisi Tn. P.
 Ners Ratna merasa bingung disatu sisi harus memenuhi permintaan keluarga disisi lain harus memenuhi hak pasien untuk memperoleh informasi tentang kondisinya.

 Identifikasi masalah etik
 Tn.P berhak untuk mendapatkan informasi terkait dengan kondisi kesehatannya saat ini.
 Ners Ratna merasa keberatan terhadap permintaan keluarganya karena jika Tn. P tidak mendapatkan informasi tentang penyakitnya maka akan menghambat proses penyembuhannya.
 Ners Ratna mempunyai kewajiban untuk memberikan segala informasi yang ditanyakan oleh Tn. P tentang kondisi kesehatannya.

 Perencanaan
A. Identifikasi alternatif
a) Ners Ratna sebaiknya diam saja dalam membantu proses keperawatan, bila ditanya pasien akan menjawab :
 Merujuk ke Dokter
 Menyatakan menyesal
 Membisu
Kesimpulan :
 Hak pasien untuk mendapatkan informasi dilanggar
 Ners Ratna bekerja sesuai dengan tugasnya tetapi ia merasa berdosa karena menghianati pasien
 Untuk masa datang peristiwa tersebut dapat terulang lagi
b) Ners Ratna mencoba meminta kepada keluarga pasien untuk tetap memberikan informasi kepada Tn. P karena hal ini akan berdampak pada proses penyembuhan dan dampak psikologisnya.
Bila keluarga pasien tetap tidak setuju dan tetap nekat dengan keputusannya maka Ners Ratna akan :
 Tetap berusaha menerangkan kepada keluarga tentang dampak dan resiko apabila pasien tidak mengetahui kondisi kesehatannya
 Ners Ratna membuat perjanjian dengan keluarga bahwa dampak yang akan ditimbulkan dari keputusan tersebut diluar tanggungjawab perawat
Kesimpulan :
 Kejadian tersebut tidak akan terulang lagi
c) Ners Ratna tidak mengatakan apa-apa dan terus melakukan perawatan terhadap Tn.P dan percaya bahwa saat ini tindakan tersebut yang paling aman namun berketetapan akan mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki situasi.
Kesimpulan :
Walau kali ini tidak ada manfaat tetapi diharapkan untuk lain diharapkan dapat bermanfaat.

B. Pikirkan prinsip dan filosofi etika
Prinsip-prinsip dasar moralitas :
a. Apa yang terbaik bagi pasien adalah kepedulian utama bagi perawat
b. Menghormati hak azasi pasien
c. Keadilan
d. Etik dasar keperawatan mewajibkan perawat untuk mengayomi pasien

C. Membuat keputusan
Berdasarkan pengalaman Ns. Ratna masa lalu dimana pasien mengalami dampak psikologis yang berat sehingga perawat berniat untuk membicarakan hal ini pada keluarga untuk menindaklanjuti dengan pendekatan informasi seperti apa yang harus diberikan pada Tn. P supaya Tn. P tidak terlalu merasa kaget dan rendah diri sehingga pasien dapat membantu dalam proses penyembuhannya.

 Pelaksanaan dan Evaluasi
Ns. Ratna belum yakin bahwa pendekatan dari hati ke hati dapat melunakkan hati keluarga pasien supaya masalah perampasan hak pasien tidak terulang lagi. Walau Ns. Ratna merasa tidak puas dengan apa yang dia lakukan namun mengharap bahwa apa yang dia lakukan dapat mencgah masaalah tersebul terjadi lagi. Ns. Ratna perlu menghubungi tim etik RS.

TUGAS
ETIKA KEPERAWATAN

Disusun oleh :
Astri Purnitasari 0502R00257
Bagus Prasetio 0502R00261
Brantas Pamungkas 0502R00262
Desi Wahyu Utami 0502R00264
Dewi Aprilia 0502R00265

PROGRAM PENDIDIKAN NERS
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
2009

etika perawat dalam kasus HIV AIDS

Posted in Uncategorized on Mei 23, 2009 by brantas pamungkas

 Contoh kasus :
Tn. P adalah seorang sopir bus antar provinsi. Ia telah bekerja selama 20 tahun sebagai seorang sopir. Akhir-akhir ini Tn. P sering demam, diare, dan menderita sariawan yang tidak sembuh-sembuh sudah hampir 2 bulan, berat badan turun lebih dari 5 Kg. Tn P tidak menganggap serius penyakitnya sehingga dia hanya berusaha minum obat warung dan belum sembuh juga akhirnya keluarganya membawa Tn. P ke RSUP S. Tn. P meminta kepada Ners Ratna untuk segera memberitahu hasil pemeriksaannya. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Tn. P positif menderita HIV.
Ners Ratna yang merawat Tn.P kebetulan sudah bekerja selama 10 tahun di bangsal B20 ini. Keluarga meminta Ners Ratna untuk tidak memberitahukan mengenai penyakit ini kepada pasien ataupun kepada para pembesuknya. Keluarga takut kalau pasien di beritahu keluarga takut Tn.P akan frustasi, tidak bisa menerima kondisinya, dan akan dikucilkan oleh masyarakat. Ners Ratna mengalami dilema etik dimana di satu sisi dia harus memenuhi permintaan keluarga namun di sisi lain Ners Ratna harus memberitahukan kondisi yang dialami oleh Tn. P.

 Analisa masalah
 Tn. P meminta kepada Ners Ratna untuk menjelaskan tentang kondisinya.
 Keluarga meminta kepada Ners Ratna untuk merahasiakan kondisi Tn. P.
 Ners Ratna merasa bingung disatu sisi harus memenuhi permintaan keluarga disisi lain harus memenuhi hak pasien untuk memperoleh informasi tentang kondisinya.

 Identifikasi masalah etik
 Tn.P berhak untuk mendapatkan informasi terkait dengan kondisi kesehatannya saat ini.
 Ners Ratna merasa keberatan terhadap permintaan keluarganya karena jika Tn. P tidak mendapatkan informasi tentang penyakitnya maka akan menghambat proses penyembuhannya.
 Ners Ratna mempunyai kewajiban untuk memberikan segala informasi yang ditanyakan oleh Tn. P tentang kondisi kesehatannya.

 Perencanaan
A. Identifikasi alternatif
a) Ners Ratna sebaiknya diam saja dalam membantu proses keperawatan, bila ditanya pasien akan menjawab :
 Merujuk ke Dokter
 Menyatakan menyesal
 Membisu
Kesimpulan :
 Hak pasien untuk mendapatkan informasi dilanggar
 Ners Ratna bekerja sesuai dengan tugasnya tetapi ia merasa berdosa karena menghianati pasien
 Untuk masa datang peristiwa tersebut dapat terulang lagi
b) Ners Ratna mencoba meminta kepada keluarga pasien untuk tetap memberikan informasi kepada Tn. P karena hal ini akan berdampak pada proses penyembuhan dan dampak psikologisnya.
Bila keluarga pasien tetap tidak setuju dan tetap nekat dengan keputusannya maka Ners Ratna akan :
 Tetap berusaha menerangkan kepada keluarga tentang dampak dan resiko apabila pasien tidak mengetahui kondisi kesehatannya
 Ners Ratna membuat perjanjian dengan keluarga bahwa dampak yang akan ditimbulkan dari keputusan tersebut diluar tanggungjawab perawat
Kesimpulan :
 Kejadian tersebut tidak akan terulang lagi
c) Ners Ratna tidak mengatakan apa-apa dan terus melakukan perawatan terhadap Tn.P dan percaya bahwa saat ini tindakan tersebut yang paling aman namun berketetapan akan mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki situasi.
Kesimpulan :
Walau kali ini tidak ada manfaat tetapi diharapkan untuk lain diharapkan dapat bermanfaat.

B. Pikirkan prinsip dan filosofi etika
Prinsip-prinsip dasar moralitas :
a. Apa yang terbaik bagi pasien adalah kepedulian utama bagi perawat
b. Menghormati hak azasi pasien
c. Keadilan
d. Etik dasar keperawatan mewajibkan perawat untuk mengayomi pasien

C. Membuat keputusan
Berdasarkan pengalaman Ns. Ratna masa lalu dimana pasien mengalami dampak psikologis yang berat sehingga perawat berniat untuk membicarakan hal ini pada keluarga untuk menindaklanjuti dengan pendekatan informasi seperti apa yang harus diberikan pada Tn. P supaya Tn. P tidak terlalu merasa kaget dan rendah diri sehingga pasien dapat membantu dalam proses penyembuhannya.

 Pelaksanaan dan Evaluasi
Ns. Ratna belum yakin bahwa pendekatan dari hati ke hati dapat melunakkan hati keluarga pasien supaya masalah perampasan hak pasien tidak terulang lagi. Walau Ns. Ratna merasa tidak puas dengan apa yang dia lakukan namun mengharap bahwa apa yang dia lakukan dapat mencgah masaalah tersebul terjadi lagi. Ns. Ratna perlu menghubungi tim etik RS.

TUGAS
ETIKA KEPERAWATAN

Disusun oleh :
Astri Purnitasari 0502R00257
Bagus Prasetio 0502R00261
Brantas Pamungkas 0502R00262
Desi Wahyu Utami 0502R00264
Dewi Aprilia 0502R00265

PROGRAM PENDIDIKAN NERS
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
2009

Posted in Uncategorized on Mei 19, 2009 by brantas pamungkas

IMG_0191

kep gawat darurat ketoasidosis diabetikum

Posted in Uncategorized on Mei 19, 2009 by brantas pamungkas

MAKALAH KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
KETOASIDOSIS DIABETIK (KAD)

Disusun Oleh :

Andre Eka (0205R00251) Dewi Aprilia (0502R00264)
Andri Purwandari (0205R00252) Dwi Yuni Untari (0502R00267)
Anggraeni Endah K (0205R00253) Dyah Kusuma W. (0502R00268)
Annisa Farkha s. (0205R00254) Erna Dwi (0502R00270)
Asmayanti (0205R00256) Fisty Farkhati (0502R00273)
Astri Purnitasari (0205R00257) Hesti Diana (0502R00275)
Bagus Prasetyo (0205R00260) Hosnu Inayati (0502R00276)
Brantas Pamungkas (0205R00261) Ifan Tyas P (0502R00277)
Desiani Wahyu u. (0205R00263) Ihat Solihati (0502R00278)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2009

KETO ASIDOSIS DIABETIK (KAD)
A. DEFINISI
Keto Asidosis Diabetik (KAD) adalah keadaan dekompensasi kekacauan metabolic yang ditandai oleh trias hiperglikemia, asidosis dan ketosis terutama disebabkan oleh defisiensi insulin absolut atau relative. KAD dan hipoglikemia merupakan komplikasi akut diabetes mellitus (DM) yang serius dan membutuhkan pengelolaan gawat darurat. Akibat diuresia osmotik, KAD biasanya mengalami dehidrasi berat dan dapat sampai menyebabkan syok.

B. ETIOLOGI
Terdapat pada orang yang diketahui diabetes oleh adanya stressor yang meningkatkan kebutuhan akan insulin, ini dapat terjadi jika diabetes tidak terkontrol karena ketidak mampuan untuk menjalani terapi yang telah ditentukan. Pencetus yang sering infeksi, stressor-stersor utama lain yang dapat mencetuskan diabetic ketoasidosis adalah pembedahan, trauma, terapi dengan steroid dan emosional

C. PATOFISIOLOGI
Adanya defisiensi insulin baik secara relatif maupun absolut yang disertai peningkatan hormon-hormon kontra regulator yakni : glukagon, katekolamin, kortisol, dan growth hormone, menyebabkan hiperglikemia disertai peningkatan lipolisis dan produksi keton, yakni : asetoasetat, β-hidroksibutirat dan aseton yang merupakan asam kuat dan dapat menyebabkan asidosis metabolik. Hiperglikemia menyebabkan diuresis osmotik yang mengakibatkan dehidrasi dan kehilangan mineral dan elektrolit

D. MANIFESTASI KLINIS KAD
1. Poliuria
2. Polidipsi
3. Pengelihatan kabur
4. Lemah
5. Sakit kepala
6. Hipotensi ortostatik (penurunan tekanan darah sistolik 20 mmHg atau > pada saat berdiri)
7. Anoreksia
8. Mual
9. Muntah
10. Nyeri abdomen
11. Nafas aseton
12. Hiperventilasi
13. Perubahan status mental (sadar, letargik, koma)
14. Kadar gula darah tinggi (> 240 mg/dl)
15. Terdapat keton di urin
16. Nafas berbau aseton
17. Badan lemas
18. Bisa terjadi ileus sekunder akibat hilangnya K+ karena diuresis osmotik
19. Kulit kering
20. Keringat <<<
21. Kussmaul ( cepat, dalam ) karena asidosis metabolik

F. PEMERIKSAAN
1. Kadar glukosa darah: meningkat 200 – 100 mg/dl atau lebih
2. Elektrolit darah (tentukan corrected Na) dan osmolalitas serum.
3. Analisis gas darah, BUN dan kreatinin.
4. Darah lengkap (pada KAD sering dijumpai gambaran lekositosis), HbA1c, urinalisis (dan kultur urine bila ada indikasi).
5. Foto polos dada.
6. Ketosis (Ketonemia dan Ketonuria)
7. Aseton plasma (keton) : positif secara mencolok
8. Osmolalitas serum : meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 mOsm/l
Pemeriksaan Osmolalitas = 2[Na+K] + [GDR/18] + [UREUM/6]
9. Hemoglobin glikosilat : kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang mencerminkan kontrol DM yang kurang selama 4 bulan terakhir
10. Gas darah arteri : biasanya menunjukkan pH < 7,3 dan penurunan pada HCO3 250 mg/dl

G. KOMPLIKASI
Faktor-faktor yang mempengaruhi angka kematian akibat KAD adalah:
1. Terlambat didiagnosis karena biasanya penyandang DM dibawa setelah koma.
2. Pasien belum tahu bahwa ia menyandang DM.
3. Sering ditemukan bersama-sama dengan komplikasi lain yang berat, seperti: renjatan (syok), stroke, dll.
4. Kurangnya fasilitas laboratorium yang menunjang suksesnya penatalaksanaan KAD

Komplikasi yang dapat terjadi akibat KAD yaitu:
1. Oedema paru
2. Hipertrigliserida
3. Infark miokard akut
4. Hipoglikemia
5. Hipokalsemia
6. Hiperkloremia
7. Oedema otak
8. Hipokalemia

H. PENATALAKSANAAN
Prinsip terapi KAD adalah dengan mengatasi dehidrasi, hiperglikemia, dan ketidakseimbangan elektrolit, serta mengatasi penyakit penyerta yang ada.
Pengawasan ketat, KU jelek masuk HCU/ICU
Fase I/Gawat :
1. Rehidrasi
a) Berikan cairan isotonik NaCl 0,9% atau RL 2L loading dalam 2 jam pertama, lalu 80 tpm selama 4 jam, lalu 30-50 tpm selama 18 jam (4-6L/24jam)
b) Atasi syok (cairan 20 ml/kg BB/jam)
c) Bila syok teratasi berikan cairan sesuai tingkat dehidrasi
d) Rehidrasi dilakukan bertahap untuk menghindari herniasi batang otak (24 – 48 jam).
e) Bila Gula darah < 200, ganti infus dengan D5%
f) Koreksi hipokalemia (kecepatan max 0,5mEq/kgBB/jam)
g) Monitor keseimbangan cairan
2. Insulin
a) Bolus insulin kerja cepat (RI) 0,1 iu/kgBB (iv/im/sc)
b) Berikan insulin kerja cepat (RI) 0,1/kgBB dalam cairan isotonik
c) Monitor Gula darah tiap jam pada 4 jam pertama, selanjutnya tiap 4 jam sekali
d) Kecepatan gula darah  100mg%/jam
e) Pemberian insulin parenteral diubah ke SC bila : AGD < 250mg%, Perbaikan hidrasi, Kadar HCO3  15 mEq/L

3. Infus K (tidak boleh bolus)
o Bila K+ < 3mEq/L, beri 75mEq/L
o Bila K+ 3-3.5mEq/L, beri 50 mEq/L
o Bila K+ 3.5 -4mEq/L, beri 25mEq/L
o Masukkan dalam NaCl 500cc/24 jam
4. Infus Bicarbonat
o Bila pH 7,1, tidak diberikan
5. Antibiotik dosis tinggi
Batas fase I dan fase II sekitar GDR 250 mg/dl atau reduksi
Fase II/maintenance:
1. Cairan maintenance
o Nacl 0.9% atau D5 atau maltose 10% bergantian
o Sebelum maltose, berikan insulin reguler 4U
2. Kalium
o Perenteral bila K+ 240 mg/dL atau badan terasa tidak enak.
4. Saat sakit, makanlah sesuai pengaturan makan sebelumnya. Bila tidak nafsu makan, boleh makan bubur atau minuman berkalori lain.
5. Minumlah yang cukup untuk mencegah dehidrasi.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Anamnesis :
Riwayat DM
Poliuria, Polidipsi
Berhenti menyuntuk insulin
Demam dan infeksi
Nyeri perut, mual, mutah
Penglihatan kabur
Lemah dan sakit kepala
Pemeriksan Fisik :
Ortostatik hipotensi (sistole turun 20 mmHg atau lebih saat berdiri)
Hipotensi, Syok
Nafas bau aseton (bau manis seperti buah)
Hiperventilasi : Kusmual (RR cepat, dalam)
Kesadaran bisa CM, letargi atau koma
Dehidrasi

1. Pengkajian gawat darurat :
a. Airways : kaji kepatenan jalan nafas pasien, ada tidaknya sputum atau benda asing yang menghalangi jalan nafas
b. Breathing : kaji frekuensi nafas, bunyi nafas, ada tidaknya penggunaan otot bantu pernafasan
c. Circulation : kaji nadi, capillary refill
2. Pengkajian head to toe
a) Data subyektif :
• Riwayat penyakit dahulu
• Riwayat penyakit sekarang
• Status metabolik : intake makanan yang melebihi kebutuhan kalori, infeksi atau penyakit-penyakit akut lain, stress yang berhubungan dengan faktor-faktor psikologis dan social, obat-obatan atau terapi lain yang mempengaruhi glikosa darah, penghentian insulin atau obat anti hiperglikemik oral.
b) Data Obyektif :
1. Aktivitas / Istirahat
Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan, kram otot, tonus otot menurun, gangguan istrahat/tidur
Tanda : Takikardia dan takipnea pada keadaan istrahat atau aktifitas Letargi/disorientasi, koma
2. Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat hipertensi, IM akut, klaudikasi, kebas dan kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki, penyembuhan yang lama, takikardia.
Tanda : Perubahan tekanan darah postural, hipertensi, nadi yang menurun/tidak ada, disritmia, krekels, distensi vena jugularis, kulit panas, kering, dan kemerahan, bola mata cekung.
3. Integritas/ Ego
Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi
Tanda : Ansietas, peka rangsang
4. Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia, rasa nyeri/terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISK baru/berulang, nyeri tekan abdomen, diare.
Tanda : Urine encer, pucat, kuning, poliuri ( dapat berkembang menjadi oliguria/anuria, jika terjadi hipovolemia berat), urin berkabut, bau busuk (infeksi), abdomen keras, adanya asites, bising usus lemah dan menurun, hiperaktif (diare)
5. Nutrisi/Cairan
Gejala : Hilang nafsu makan, mual/muntah, tidak mematuhi diet, peningkatan masukan glukosa/karbohidrat, penurunan berat badan lebih dari beberapa hari/minggu, haus, penggunaan diuretik (Thiazid)
Tanda : Kulit kering/bersisik, turgor jelek, kekakuan/distensi abdomen, muntah, pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan metabolik dengan peningkatan gula darah), bau halisitosis/manis, bau buah (napas aseton)
6. Neurosensori
Gejala : Pusing/pening, sakit kepala, kesemutan, kebas, kelemahan pada otot, parestesi, gangguan penglihatan
Tanda : Disorientasi, mengantuk, alergi, stupor/koma (tahap lanjut), gangguan memori (baru, masa lalu), kacau mental, refleks tendon dalam menurun (koma), aktifitas kejang (tahap lanjut dari DKA).
7. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Abdomen yang tegang/nyeri (sedang/berat)
Tanda : Wajah meringis dengan palpitasi, tampak sangat berhati-hati
8. Pernapasan
Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergantung adanya infeksi/tidak)
Tanda : Lapar udara, batuk dengan/tanpa sputum purulen, frekuensi pernapasan meningkat
9. Keamanan
Gejala : Kulit kering, gatal, ulkus kulit
Tanda : Demam, diaphoresis, kulit rusak, lesi/ulserasi, menurunnya kekuatan umum/rentang gerak, parestesia/paralisis otot termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam).
10. Seksualitas
Gejala : Rabas vagina (cenderung infeksi)
Masalah impoten pada pria, kesulitan orgasme pada wanita
11. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Faktor resiko keluarga DM, jantung, stroke, hipertensi. Penyembuhan yang lambat, penggunaan obat sepertii steroid, diuretik (thiazid), dilantin dan fenobarbital (dapat meningkatkan kadar glukosa darah). Mungkin atau tidak memerlukan obat diabetik sesuai pesanan. Rencana pemulangan : Mungkin memerlukan bantuan dalam pengaturan diet, pengobatan, perawatan diri, pemantauan terhadap glukosa darah.

B. Diagnosa Prioritas
1) Kerusakan ventilasi spontan berhubungan dengan faktor metabolic
2) Pola napas tidak efektif berhubungan hiperventilasi
3) Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan volum aktif

C. Intervensi
1. Kerusakan ventilasi spontan berhubungan dengan factor metabolic
Tujuan :
- Efektifnya jalan nafas
- Pengeluaran secret yang efektif
- Bebas dari dispnea
Intervensi
- Kaji respon pergantian status pernafasan klien (ekspirasi-inspirasi)
- Monitor dispnea dan penurunan RR
- Kaji riwayat klien penyakit kronik pernafasan
- Suction apabila diperlukan
- Kolaborasi dengan klien dan keluarga untuk pemasangan intubasi dan ventilator
- Kolaborasi pemberian analgesic dan sedative jika diperlukan
- Lakukan analisa gas darah, dan tidal volume
- Gunakan komunikasi efektif pada klien
- Jelaskan pada keluarga tentang keadaan klien yang mengalami dispnea, atau gangguan paru
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kelemahan otot pernafasan
Tujuan :
- Pola nafas pasien kembali teratur.
- Respirasi rate pasien kembali normal.
- Pasien mudah untuk bernafas.
Intervensi:
- Kaji status pernafasan dengan mendeteksi pulmonal.
- Berikan terapi fisik dada termasuk drainase postural.
- Penghisapan untuk pembuangan lendir.
- Identifikasi kemampuan dan berikan keyakinan dalam bernafas.
- Kolaborasi dalam pemberian farmakologi.
3. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan volum aktif
Tujuan :
- TTV dalam batas normal
- Pulse perifer dapat teraba
- Turgor kulit dan capillary refill baik
- Keseimbangan urin output
- Kadar elektrolit normal

Intervensi
- Kaji riwayat durasi/intensitas mual, muntah dan berkemih berlebihan
- Monitor vital sign dan perubahan tekanan darah orthostatic
- Monitor perubahan respirasi: kussmaul, bau aceton
- Observasi kualitas nafas, penggunaan otot asesori dan cyanosis
- Observasi ouput dan kualitas urin.
- Timbang BB
- Pertahankan cairan 2500 ml/hari jika diindikasikan
- Ciptakan lingkungan yang nyaman, perhatikan perubahan emosional
- Catat hal yang dilaporkan seperti mual, nyeri abdomen, muntah dan distensi lambung
- Obsevasi adanya perasaan kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak teratur dan adanya distensi pada vaskuler
Kolaborasi:
a) Pemberian NS dengan atau tanpa dextrosa
b) Albumin, plasma, dextran
c) Pertahankan kateter terpasang
d) Pantau pemeriksaan lab :
o Hematokrit
o BUN/Kreatinin
o Osmolalitas darah
o Natrium
o Kalium
e) Berikan Kalium sesuai indikasi
f) Berikan bikarbonat jika pH <7,0
g) Pasang NGT dan lakukan penghisapan sesuai dengan indikasi

Daftar pustaka
.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed 4, jilid III. (2006). Jakarta: FKUI
Carpenito, Lynda Juall (2000), Buku saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC, Jakarta
Corwin, Elizaeth J. (2001). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta:EGC
Hall, Jasse B., Schmitt, Gregors A.( 2007). Critical Care: Just The Facts. USA: Mc Graw-Hill Companies inc
Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medical Bedah; Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. USA: Mosby
Morton, patricia Gonce dkk. (2005). Critical Care Nursing A Holistik Approach.8th ed. USA: Lippincot

Posted in Uncategorized on Mei 2, 2009 by brantas pamungkas
borobudur coy  2003

borobudur coy 2003

Posted in Uncategorized on Mei 2, 2009 by brantas pamungkas
rainas 2003

rainas 2003

TUGAS KELOMPOK HIPEREMESIS GRAFIDARUM

Posted in Uncategorized on Mei 2, 2009 by brantas pamungkas

KATA PENGANTAR

Assalamu alaikm Wr.Wb

Dengan memanjatkan puji dan sukur kehadiran allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidyahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah matrnitas yang berjudul hiperemesis grafidarum tepat waktu
Dalam tugas ini kami mengucapkan terima kasih kapada kepada allah swt hingga terselesainya makalah ini kami juga mengucapkan terma kasih atas bimbingan dan dorongan dari semua pihak kami ucapkan terimakasih kepada :

1. ibu yuni P S kepNs selaku dosen coordinator mata kuliah maternitas
2. perpustakaan sebagai sumber dalam penyelesaian makalah ini
3. teman teman sekelompok yang berpartisipasi aktif dalam penyelesaian makalah ini

kami menyadari bahwa pembuatan makalah ini kurang dari sempurna untuk itu mohon kritik dan saran demi penyelesaian makalah ini
wassalam mualaikum Wr Wb.

H I P E R E M E S I S G R A F I D A R U M

P e n d a h u l u a n

Kehamailan adalah keadaan fisiologis pada suaktu waktu tapi hal ini memerlukan perhatian khusus karena pada saat hamil terjadi perubahan fisiologis dan sirkulasi darah pencernaan ,prubahan hormone,serta perubahan psikologis ibu hamil, akibat perubahan tidak jarang menimbulkan masalah bagi kehamilan itu sendiri, pada kehamilan T.1 bahakan T.2 ibu hamil sering merasakan mual dan muntah. Rasa mual dan muntah yang berat sering mengganggu pekerjaan sehari-hari,sehingga keadaan umummenjadi buruk, hal ini dikenal sebagai Hiperemesis grafidarum.
Berdasarkan uraian terebut di atas perlu di ketahui gambaran asuhan keperwatan pada klien hiperemesis gradidarum dengan pendekatan proses keperawatan dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan ,evaluasi serta dokumentasi.

D e v i n I s i
1. Mual dan muntah yang berlebih pada wanita hamil sehingga menganggu pekerjaan sehari –hari dan keadaan umum menjadi dehidrasi.
2. Memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum, Sehingga berat badan ibu hamil sangat turun,turgor kulit berkurang,deuresis dan timbul aseton dalam urin.
3. Gejala mual dan muntah yang berat yang disebabkan oleh peningkatan kadar hormone estrogen dan HCG dalam serum dan dapat berlangsung sampai 4 bulan.

E t i o l o g i
1. Faktor predisposisi : Sering terjadi pada pringravida, Mola hidatosa, DM dan kehamilan ganda akibat peningkatan kadar hormon HCG
2. Faktor organic : Masukan vili khoriales dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolic.
3. Fakultas psikologis : Keretakan rumah tangga, kehilangan pekerjaan rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut memikul tangungjawab, biasanya hilang pada bulan ke-4 jika mendapat dukungan psikologis yang efektif.
4. Faktor endokrin : Hipertiroid, DM.

T a n d a d a n g e j a l a
• Muntah yang hebat
• Haus
• Dehidrasi
• Berat badan turun
• Keadaan umum mundur
• Kenaikan suhu
• Icterus
• Gangguan cerebral ( kecerdasan menurun, derilium )
• Laboratorium : Protein,aseton, uribilinogen, porphirin dalam urin bertambah, silinder ( + ).

T I n g k a t a n H . G

a. Tingkat 1 ( ringan ) :
Mual muntah trus menerus menyebabkan penderita lemah,tidak mau makan, BB turun, dan rasa nyeri di epigastrium nadi sekitar 100 kali permenit, tekanan darah turun,turgor kulit kurang, lidah kering dan mata cekung.

b. Tingkat 2 ( sedang ) :
Mual dan muntah yang hebat menyebabkan keadaan umum penderita lebih parah, lemah apatis, turgor kulit mulai jelek, lidah kering dan kotor, nadi kecil dan cepat, suhu badan naik ( dehidrasi ), ikterus ringan, BB turun, mata cekung, tensi turun, hemokosentrasi, oligouri dan konstipasi, aseton dapat tercium dalam hawa pernafasan dan dapat pula di temukan dalam urin.

c. Tingkat 3 ( berat ) :
Keadaan umum jelek, kesadaran sangat menurun, sonalem sampai koma, nadi kecil halus dan cepat, dehirasi hebat, suhu badan naik, dan tensi turun sekali, ikterus komplikasi yang dapat berakibat fatal yang terjadi pada SSP ( ensofolopi wernicke ) dengan adanya nistagmus, diplopia, perubahan mental.

Faktor predisposisi / Organik / Psikologis / Endokrin

SSP / Akibat berkurangnya pengosongan lambung

Peningkatan estrogen dan HCG

Terjadi penyesuaian tubuh terhadap hormone tersebut

Jika mual dan muntah berlebihan menyebabkan hiperemesis grafidarum

D I a g n o s a
• Ketidakseimbangan nutrisi berhubungan tidak mampu mengabsorbsi makanan karena factor biologi dan psikologi di tandai dengan : intake makanan kurang dari kebutuhan.
• Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif ditandai dengan :
1. Nadi meningkat , tekanan darah menurun, vol / tekanan nadi menurun.
2. Penurunan turgor kulit
• Kelelahan berhubungan dengan kehamilan ditandai dengan :
1. Lelah
2. Kurangnya energi atau tidak mampu mempertahankan aktifitas fisik sesuai tingkat biasanya.

• HDR berhubungan dengan kuramg pengakuan atau penghargaan ditandai dengan
1. Mengekspresikan tidak berdaya dan tidak brguna

• Cemas Berhubungan dengan perubahan dalam status kesehayan ditandai dengan :
1. Mual
2. Peningkatan takanan darah

• Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan turgor kulit

Asuhan Keperawatan :

A. Ketidakseimbangan volume cairan aktif ditandai dengan :

• Nadi meningkat, tekanan darah menurun, volume/ tekanan nadi menurun
• Penurunan turgor kulit / lidah

Tupan : Di penuhinya keseimbanagan elektrolit dan asam basa dalam waktu 3 * 24 jam
Tupen : Kebutuhan cairan, cairan akan terpenuhi / seimbang dalam 3 * 60 menit.

K r I t e r I a h a s I l :
1. Frekuensi nadi dan irama kembali normal
2. Elektrolit serum,missal : Ka, Ca, Na, dan Mg dalam baas normal
3. Kekerangan Vol cairan, elektrolit dan asam basa.
4. Memiliki asupan cairan oral dan atau intravena yang adekuat.

I n t e r v e n s i
1. Management cairan
Aktifitas
• Monitor vital sign klien
• Monitor perubahan berat badan sebelum dan sesudah dialysis
• Pemberian dan pemantauan cairan dan obat intravena
• Berikan cairan
2. Management elektrolit
Aktifitas
• Pemberian dan pemantauan cairan dan obat intra vena
• Berikan cairan garam melalui NGT
• Monitor irama jantung
• Instruksikan pada klien dan keluaga unuk memodivikasi diet khusus
3. Monitor Cairan
Aktifitas
• Monitor intake dan output cairan
• Monito serum dan tingkat elektrolit dalam urine
• Monitor tekanan darah dan irama jantung.

I m p l e m e n t a s i
1. Memberikan dan memantau cairan dan obat melalui intra vena
2. Mengukur vital sign klien
3. Memberikan cairan garam melalui NGT
4. Mengukur intake dan output cairan

B. Ketidakseimbangan nutrisi berhubungan dengan : tidak mampu mengabsorbsi makanan karena factor biologi dan psikologi ditandai dengan :

• Intake makanan kurang dari kebutuhan

Tupan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi dalam waktu 3 * 4 jam
Tupen : Mengembalikan nafsu makan klien dalam waktu 12 * 60 menit

K r I t e r I a h a s I l :
• Jumlah makan dan cairan yang di konsumsi tubuh seimbang
• Mempertahankan masa tubuh dan BB dalam batas nomal
• Asupan gizi yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan tubuh

I n t e r v e n s i :
1. Management nutrisi

• Seleksi makanan klien
• Jaga keseimbangan BB klien
• Monitor kebutuhan nutrisi dan kalori
• Tawarkan makanan ringan
• Tingkatkan intake protein, zat besi, dan vit C

2. Management gangguan nafsu makan

• Monitor kebutuhan kalori klien
• Berikan umpan balik positif pada pasien yang menunjukkan peningkatan nafsu makan
• Berikan makan yng sesuai dengan selera pasien.

3. Membantu menaikkan BB

• Monitor mual dan muntah
• Monitor makanan yang menarik dengan pasien
• Ajarkan pada keluarga dan pasien dalam memilih nutrisi yang baik.

I m p l e m e n t a s i

• Memberikan umpan balik positif pada klien yang menunjukkan peningkatan nafsu makan
• Meningkatkan intake protein zat besi dan vit C
• Membantu klien untuk mengatasi rasa mual dan muntah
• Menawarkan makanan ringan pada klien 2 jam sebelum makan.

P e n u t u p

Kesimpulan :

• Gejala mual dan muntah yang berat yang di sebabkan oleh peningkatan kadar hormone estrogen dan HCG dalam serum dan dapat berlangsung sampai 4 bulan
• Etiologi :
1. Faktor predisposisi
2. Faktor organic
3. Faktor Psikologi
4. Faktor Endokrin
• Tanda dan gejala
1. Muntah yang hebat
2. Dehidrasi
3. BB turun
4. Icterus
• Tingkat H.G
1. Tingkat 1 ( Ringan )
2. Tingkat 2 ( Sedang )
3. Tingkat 3 ( Berat )
• Pada penderita Hiperemesis gravidarum memerlukan perawatan khusus.

S a r a n :
1. Untuk mengatasi rasa mual dan muntah makan roti kering dan the hangat di pagi hari
2. Makan sedikit tapi sering
3. Hindari makanan berlemak dan berbau tajam
4. Memberikan informasi pada pasien da keluarga yang mempunyai resiko hiperemesis gravidarum.

BIOKIMIA ENZIM

Posted in Uncategorized on Mei 2, 2009 by brantas pamungkas

Enzim berasal dari kata EN-ZYME yang berarti dalam ragi. Dihubungkan dengan aktivitas enzim dalam ragi, misalnya pada pembuatan tape ketan atau ketela dengan menggunakan ragi roti. Enzim merupakan suatu biokatalis, artinya suatu katalisator yang disintesis oleh organisme hidup. Secara structural enzim adalah protein, sehingga sifat-sifat protein dimiliki oleh enzim, seperti termolabil, rusak oleh logam berat (Ag,Pb,Hg), terganggu oleh perubahan pH.
Aktivitas enzim umumnya bersifat spesifik. Nomenklatur yang mula-mula digunakan sangat sederhana, yaitu dengan mencantumkan akhiran ase pada nama substrat di mana enzim itu bekerja. Misalnya proteinase : yaitu enzim yang bekerja pada protein, lipase : enzim yang bekerja pada lipid, dsb. Ada pula yang mencantumkan akhiran ase pada jenis reaksinya, missal oksidase yaitu enzim yang bereaksi secara oksidasi, reduktase yaitu enzim yang bereaksi secara reduksi. Namun kesemuanya masih memberikan kesimpangsiuran atau kurangtepatnya nomenklatur enzim; sehingga IUB (International Union of Biochemistry) menganut satu aturan kode dengan cara membagi enzim kedalam enam kelas, yaitu :
1. Oksidoreduktase :
Enzim yang mengkatalisis reaksi oksidasi-reduksi antara dua substrat
Ex : katalase (1.11.1.6 Enzim yang bekerja pada H2O2 : disebut H2O2 Oksidoreduktase)

1.1 bekerja pd gugus C-OH
1.4 bekerja pd gugus CH-NH2
1.9 bekerja pd gugus Hem
1.11 bekerja pd gugus H2O2
2. Transferase :
Mengkatalisis pemindahan gugus (selain H) antara sepasang substrat.
Ex : heksokinase (2.7.1.1 Pemindah gugus yang mengandung fosfat, misal ATP : D-heksosa-6 fosfo tranferase)
2.3 pemindah gugus asil trnsfr\
2.7 pemindah gugus fosfat
3. Hidrolase :
Mengkatalisis hidrolisis ikatan ester, eter, peptida, glikosil, anhidrida asam, c-c, c-halida, P-N.
Ex : pseudokolin esterase (3.1.1.8 asilkolin asilhidrolase)
4. Liase :
Mengkatalisis pemindahan gugus dari substrat, meninggalkan ikatan rangkap.
Ex : fumarase (4.2.1.2 L-malat-hidro-liase)
L-malat = fumarat + H2O
5. Isomerase :
Ex : triosafosfat isomerase
5.3.1.1 D-gliseraldehida-3 fosfat keto isomerase
6. Ligase :
Mengkatalisis penggabungan 2 senyawa diikuti oleh pemecahan ikatan piropospat dalam ATP atau senyawa yang sejenis.
Ex : glutamin sintase
6.3.1.2 L-glutamat : amonia ligase (ADP)
ATP – L-glutamat + NH43+ = ADP + ortofosfat — L glutamin

Keterangan :
• Digit I menunjukkan kelas; Digit II menunjukkan sub kelas; Digit III menunjukkan sub sub kelas; Digit terakhir menunjukkan nama Enzim.

KOFAKTOR
Sejumlah besar enzim membutuhkan suatu komponen lain untuk dapat berfungsi sebagai katalis. Komponen ini secara umum disebut kofaktor. Kofaktor dapat dibagi lagi dalam tiga kelompok, yaitu :
a. gugus prostetik
b. koenzim
c. activator (ion-ion logam yang dapat atau mudah terlepas dari enzim)

a. GUGUS PROSTETIK
Adalah kelompok kofaktor yang terikat pada enzim, dan tidak mudah lepas dari enzimnya, Contoh : Flavin Adenin Dinukleotida (FAD) adalah gugus prostetik dari enzim suksinat dehidrogenase

b.KOENZIM
1. Merupakan senyawa organik dengan berat molekul kecil; non protein
2. Stabil terhadap panas
3. Banyak diperlukan untuk aktivitas Enzim kecuali Enzim pencernaan (reaksi hidrolitik)
4. Terikat pada Enzim ada yang secara kovalen (prostetik) kebanyakan non kovalen
5. Dianggap sebagai substrat ke-2 :

Contoh : NAD,NADP,ATP,tiamin pirofosfat

- Pada reaksi Oksidasi – reduksi
Laktat + NAD+ —– piruvat + NADH+ + H+
(ko-substrat)

- berfungsi sebagai reagen pemindah gugus

Ex : D-G + A = A-G + D
Gugus fungsional G dipindah dari molekul D-G, ke molekul penerima A; melibatkan koEnzim;

D-G Co-E A-G

D Co-E-G A

Ex : transaminasi

Klasifikasi koenzim

1. Pemindah gugus H
NAD+ , NADP+, FMN, FAD As. Lipoat, co-Enzim Q
—- kebanyakan derivat vit. B dan adenosin monopospat.

2. Pemindah gugus selain H
 Gula phosphat
 CoA.SH
 KoEnzim folat
 KoEnzim kobomida (vit. B12)
 As. Lipoat
 Thiamin piropospat
 Piridoksal pospat
 Biotin

c. AKTIVATOR
Adalah ion-ion logam yang dapat terikat atau mudah terlepas dari enzim. Contoh K+, Mg++,Mn++, Cu++ atau Zn++

ISOZIM
 Enzim dengan sifat-sifat kimia dan fisika yang berbeda tetapi mempunyai aktivitas katalitik yang sama
 Contoh Isozim : laktat dehidrogenase (mengubah asam keto piruvat menjadi asam laktat)
• Proporsinya berubah secara bermakna dalam keadaan patologik
• Berbeda pada struktur kuartener
• Molekul oligomer terdiri dari 4 protomer dari 2 jenis, H dan M
• Molekul tetrametrik memiliki aktivitas katalitik
• Kemungkinan bentuk/urutan isomer :
HHHH ——- I1
HHHM ——- I2
HHMM ——- I3
HMMM —— I4
MMMM —— I5

ENZIM DALAM DIAGNOSIS KLINIK

* Enzim plasma fungsional :
Ex : lipoprotein lipase, pseudokolin esterase pro Enzim pembekuan dan pemecahan darah
Umumnya disintesis dalam hati; konsentrasi darah, sama atau sudah lebih tinggi dari jaringan
* Enzim plasma non fungsional :
– tidak melakukan fungsi fisioliogik yang dikenal
- substratnya sering tidak terdapat dalam plasma
- kadarnya jauh lebih rendah dari jaringan sehingga dapat membantu diagnostik dan prognostik klinik yang berharga
- berasal dari destruksi eritrosit, leukosit dan sel-sel lain

Penentuan aktivitas Enzim untuk bukti diagnostik :
1. Lipase :
kadar rendah — penyakit hati, def. Vit. A, DM
kadar tinggi — karsinoma pankreas dan pankreatitis akut
2. Amilase :
rendah – penyakit kati
tinggi – obstruksi usus tinggi, parotitis, diabetes, pankreatitis akut
3. Tripsin :
tinggi – penyakit pankreatitis akut (lebih sensitif)
4. Kolin esterase :
rendah — penyakit hati, malnutrisi, infeksi akut, anemia
tinggi — sindroma nefritik
5. Alkalin fosfatase :
tinggi – rakhitis, hiper paratiroidism, sarkoma osteoblastik, ikterus obstruksi,
karsinoma metastatik
6. Fosfatase asam :
tinggi – karsinoma metastatik prostat
7. Trans aminase :
GOT : Glutamic oxaloacetate trans aminase
GPT : Glutamic piruvic trans aminase
Perkiraan GOT — infark miokard
GPT & GOT tinggi — penyakit hati akut
8. Laktat dehidrogenase (LDH) :
tinggi —- infark miokard (dalam 24 jam)
rendah —- leukimia
9. Isosim LDH :
Pengukuran polo isosim
10. Isositrat dehidrogenase (ICD) :
Untuk diagnosis penyakit hati
11. Kreatin fosfokinase :
Untuk diagnosis gangguan otot rangka dan jantung
12. Seruloplasmin :
tinggi —- sirosis, hepatitis, kehamilan
rendah —- penyakit wilson

Reaksi Enzimatis

Reaksi enzimatis dapat digambarkan sebagai berikut

Reaksi : E + S = ES E + P

E = enzim S = substrat ES = kompleks enzim-substrat P = produk

Mekanisme reaksi enzim-enzim ini dapat digambarkan dengan menggunakan :
1. Model Fischer (model kaku)
2. Model Koschland (model konformasi,model fleksibel)

Model Fischer

Model Koschland

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi enzimatis

1. Suhu
- kecepatan reaksi naik jika suhu naik; energi kinetik naik
- Q10 = koefisien temperatur
Ex : Q10 = 2 artinya kecepatan reaksi naik 2x dengan peningkatan suhu 10oC dan
kecepatan menjadi 1/2 dengan penurunan 10oC (pada kontraksi otot
jantung)
2. pH
- umumnya aktivitas Enzim optimum pada pH : 5.0 – 9.0

Reaksi

Enz- + SH+ —– EnzSH —– P + Enz

Pada pH rendah, Enz kehilangan muatan -

Enz- + H+ —– EnzH

Pada pH tinggi, SH mengionisasi

SH+ ——- S + H+

3. Substrat
E
S ——– P

Ditinjau kerja enzim pada substrat tunggal. Kadar substrat dinaikkan, kecepatan reaksi enzim meningkat bila kadar substrat terus dinaikkan, pada kadar substrat tertentu dicapai kecepatan reaksi enzim yang maksimal (Vmaks). Setelah Vmaks dicapai, penambahan substrat tidak lagi meningkatkan kecepatan reaksi enzim.
Km : konstante michaelis
- Adalah konsentrasi substrat yang mempunyai kecepatan reaksi 1/2 dari V maks
- rumus persamaan Michaelis. Menten

Vmaks (S)
V1 = —————
Km + (S)

A. Jika [S] sangat kecil dibanding Km (titik A). penambahan (S) ke Km pada bagian penyebut sangat sedikit berubah, karena Vmaks dan Km konstan, dapat ditulis dengan K

Vmaks (S) Vmaks(S)
V1 = ————— = ————— = K(S)
Km+(S) Km

Sehingga jika (S) sangat kecil untuk menghasilkan Km, kecepatan V1 tergantung
pada (S)

B. Jika [S] jauh lebih besar dari Km. Penambahan Km ke (S) pada penyebut, sangat sedikit berubah. Km dapat dihilangkan.
Vmaks (S) Vmaks(S)
V1 = ————– = ————— = Vmaks
Km+(S) (S)
Jadi kecepatan = Vmaks = maksimal
C. Jika (S) = Km

Vmaks(S) Vmaks(S) Vmaks(S) Vmaks
V1 = ———— = ————- = ———— = ————
Km+(S) (S) + (S) 2(S) 2

Jadi V1 = ½ Vmaks

Penentuan Km dan Vmaks menggunakan bentuk linier dengan persamaan Michaelis-Menten

Vmaks (S)
V1 = ————-
Km + (S)
Dibalik
1 Km + (S)
—– = —————
V1 Vmaks (S)

1 Km 1 (S)
—- = ——— . ——- + ————-
Vi Vmaks (S) Vmaks (S)

1 Km 1 1
—- = ——— . ——- + ———-
Vi Vmaks (S) Vmaks

Persamaan garis lurus

1 Km 1
Y = —— ; a = ———- ; b = ———
Vi Vmaks Vmaks

Km dapat ditentukan dengan :
1. plot line weaver – Burk (grafik )
2. cara Eadie dan Hofster

Vi 1 Vmaks
—- = – Vi . —— + ———
(S) Km Km

Vi Vmaks
Y = ——- , titik potong pada Y = ——–
(S) Km

X = Vi , titik potong pada X = Vmaks

Kemiringan = – 1/Km

4. Inhibitor
Berdasarkan daya kerjanya, maka dibedakan 2 macam inhibitor
a. inhibitor kompetitif
b. inhibitor non kompetitif

a. inhibitor kompetitif atau analog substrat
- mempunyai bentuk molekul yang mirip substrat
- misal : malonat(I) dgn suksinat (S) thd suksinat dehidrogenase
suksinat dpt dihidrolisis menjadi fumarat, malonat tdk dapat.
- terjadi pada daerah katalitik; struktur mirip dengan substrat
- sifat : reversibel

- kerja inhibitor
EnzI (inactive) —— Enz + PEnz
Enz

EnzS (active) —— Enz + P

 inhibitor non kompetitif reversibel
- tidak ada persaingan antara S dan I
- menurunkan Vmaks, tetapi tidak mempengaruhi Km
- terbentuk komplek EnzS dan EnzIS
- sifat : irreversibel

EnzI

Enz EnzIS —– Enz + P

EnS

Enz + P

Inhibitor irreversibel
- Racun Enzim seperti : yodoasetamid
Ion logam berat (Ag+, Hg+)
Oxidant dsb
Dapat mengurangi aktivitas Enzim
– tidak terdapat persamaan struktur dengan S, sehingga peningkatan (S) , umumnya
tidak menghilangkan penghambatan ini

Pro enzymes atau zymogen
 enzym yang belum aktif (prekursor Enzim)
 ex : pro kimo tripsin (245-aminoase residu poli peptida)
 pengaktifan pro kimo tripsin menjadi -kimo tripsin melibatkan 3 tempat proteolitik dan pembentukan senyawa antara aktif yaitu -kimo tripsin

Peran ion logam
Ion logan berperan penting pada struktur dan katalisis protein.
Lebih dari 25 % seluruh Enzim mengikat kuat atau membutuhkan ion logam untuk aktifitasnya.
a. MetalloEnzim dan “Enzim diaktifkan logam”
MetalloEnzim adalah Enzim yang mgd sejumlah ion logam ttt, yang dipertahankan selama proses pemurnian.
“Enzim diaktifkan logam” yi, ENZIM yang tidak mengikat logam dg kuat.
b.Kompleks ternary Enzim-logam-substrat

Terdapat 4 bentuk mineral dalam struktur molekul enzim-substrat:

Enz-S-M M-Enz- S
Jembatan substrat kompleks jembatan-Enzim

M
Enz-M-S S
Enz

Kompleks jembatan kompleks jembatan
logam sederhana logam siklik

Keempat bentuk mungkin untuk Enzim diaktifkan logam. Metalo Enzim tidak mampu membentuk En-S-M

Kompleks jembatan-Enzim (M-Enz-S) :
 logam turut berperan mempertahankan konformasi aktif atau membentuk jembatan logam dengan substrat

PENGATURAN AKTIVITAS ENZIM

Pengaturan aktivitas enzim dilakukan melalui beberapa cara
1. Pembentukan proenzim
2. Pengaturan allosterik
3. Inhibisi umpan balik
4. Modifikasi kovalen

TURN OVER ENZIM (pergantian enzim)

Merupakan pergantian yang lama dengan yang baru, jadi berhubungan dengan sintesis dan degradasi enzim. .Jadi enzim dalam keadaan yang dinamis, berarti yang lama akan selalu diganti yang baru.

 degradasi Enzim melibatkan proses proteolitik yang dikatalisis oleh Enzim lain
 kemampuan Enzim untuk degradasi proteolitik tergantung pada konformasi. Konformasi dipengaruhi oleh : substrat, koEnzim dan ion logam
Sintesis Enzim ditekan oleh :
 Produk akhir : molekul kecil seperti purin or asam amino
Misal : adanya histidin dalam medium Salmonella typhimurium menekan sintesis
semua Enzim yang mengikat biosintesis histidin.
Sebaliknya bila histidin dihilangkan sintesis Enzim normal
 Katabolit : senyawa antara dalam rangkaian reaksi yang diikat Enzim katabolik

perubahan pro Enzim menjadi Enzim :
oleh Enzim proteolitik atau ion H+

Mengapa Enzim tertentu di sekresi dalam bentuk tidak aktif ?
• diperlukan tidak setiap waktu (intermitent)
ex : Enzim untuk pembentukan dan pemecahan bekuan darah
pada proses pencernaan : waktu-waktu tertentu dan teratur dapat diprediksi
• melindungi jaringan asal (tempat penyimpanannya) dari autodigesti

FUNGSI IBU SULIT DIGANTI !!!!! FUNGSI ISTERI DAPAT DIGANTI

Posted in Uncategorized on Mei 2, 2009 by brantas pamungkas

Oleh: Amin Subargus
Demikianlah istilah yang diberikan kepada seorang istri dan seorang ibu. Peran istri dapat digantikan oleh banyak wanita tetapi peran ibu sangat sulit digantikan bahkan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup anaknya terutama anak yang baru dilahirkannya. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa jika seorang bayi berumur kurang dari 3 bulan ditinggal mati ibunya, maka kemungkinan kelangsungan hidup sang bayi hanya sekitar 30 % …… Itu artinya jika seorang ibu meninggal saat bayinya berusia kurang dari 3 bulan maka resiko kematiannya sebesar 70 % …. Nah lho !

Peran ibu sangat besar artinya, ditangan ibulah lahir putra-putri bangsa, dikatakan bahwa “membangun ibu adalah membangun bangsa, tetapi membangun bapak adalah membangun dirinya sendiri” …. Apa benar ?. Oleh karena itu kesehatan dan keselamatan ibu haruslah menjadi prioritas utama.

Kenyataannya tahun 2001 angka kematian ibu di Indonesia sebesar 334 per 100.000 kelahiran hidup. Hal tersebut dapat digambarkan dengan 1 buah pesawat terbang Jumbo Jet yang seluruh penumpangnya ibu-ibu hamil dan jatuh setiap 1 minggu sekali …. Bayangkan, andaikan hal tersebut dapat dicegah.

Angka kematian ibu di Indonesia walaupun mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya tetapi masih jauh dari angka yang diharapkan. AKI yang diharapkan pada tahun 2010 adalah sebesar 125 per 100.000 kelahiran hidup.

Sebenarnya apa penyebab kematian ibu ? Menurut data SKRT tahun 2001, 90 % penyebab kematian ibu karena adanya komplikasi dan 28 % diantaranya terjadi pendarahan dimasa kehamilan dan persalinan.
Ada beberapa sebab yang tidak langsung tentang masalah kesehatan ibu, yaitu :
• Pendidikan ibu-ibu terutama yang ada di pedesaan masih rendah. Masih banyaknya ibu yang beranggapan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan sesuatu yang alami yang berarti tidak memerlukan pemeriksaan dan perawatan, serta tanpa mereka sadari bahwa ibu hamil termasuk kelompok risiko tinggi. Ibu hamil memiliki risiko 50 % dapat melahirkan dengan selamat dan 50 % dapat mengakibatkan kematian.
• Sosial ekonomi dan sosial budaya Indonesia yang mengutamakan bapak dibandingkan ibu, sebagai contoh dalam hal makanan, sang bapak didahulukan untuk mendapat makanan yang bergizi sedangkan bagian yang tertinggal diberikan kepada ibu, sehingga angka anemia pada ibu hamil cukup tinggi mencapai 40 %.
• “5 terlalu “dalam melahirkan, yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering dan terlalu banyaks erta terlalu bernafsu, la you….
• “3 terlambat”, yaitu terlambat mengambil keputusan, terlambat untuk dikirim ke tempat pelayanan kesehatan dan terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan.

Berdasarkan hal tersebut bagaimana kebijakan dan strategi dalam menurunkan angka kematian ibu di Indonesia ?
Ada pendekatan yang dikembangkan untuk menurunkan angka kematian ibu yang disebut MPS atau Making Pregnancy Safer. 3 (tiga) pesan kunci dalam MPS yang perlu diperhatikan adalah :
1. Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih.
2. Setiap komplikasi obstetric dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat (memadai).
3. Setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran.

Kebijakan pemerintah dalam menurunkan angka kematian ibu adalah mendekatkan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang berkualitas kepada masyarakat. Kenapa bayi baru lahir termasuk kedalam kebijakan dalam menurunkan AKI ? karena ternyata bayi baru lahir sangat berhubungan erat dengan kesehatan ibu. Salah satunya seperti yang telah saya sampaikan di awal penulisan.

Sedangkan strategi dalam menurunkan AKI adalah :
• Peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang cost efektif dan didukung oleh :
• Kerjasama lintas program dan lintas sektor terkait, mitra lain, pemerintah dan swasta
• Pemberdayaan perempuan dan keluarga
• Pemberdayaan masyarakat.

Kegiatan yang dilakukan dalam menurunkan AKI yaitu :
1. Peningkatan kualitas dan cakupan pelayanan, melalui :
a. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan antara lain berupa penyediaan tenaga bidan di desa, kesinambungan keberadaan bidan desa, penyediaan fasilitas pertolongan persalinan pada polindes/pustu dan puskesmas, kemitraan bidan dan dukun bayi, serta berbagai pelatihan bagi petugas.
b. Penyediaan pelayanan kegawatdaruratan yang berkualitas dan sesuai standar, antara lain bidan desa di polindes/pustu, puskesmas PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasar), Rumah sakit PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Kualitas) 24 jam.
c. Mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran, antara lain dalam bentuk KIE untuk mencegah terjadinya 4 terlalu, pelayanan KB berkualitas pasca persalinan dan pasca keguguran, pelayanan asuhan pasca keguguran, meningkatkan partisipasi aktif pria.
d. Pemantapan kerjasama lintas program dan sektor, antara lain dengan jalan menjalin kemitraan dengan pemda, organisasi profesi (IDI, POGI, IDAI, IBI, PPNI), Perinasia, PMI, LSM dan berbagai swasta.
e. Peningkatan partisipasi perempuan, keluarga dan masyarakat, antara lain dalam bentuk meningkatkan pengetahuan tentang tanda bahaya, pencegahan terlambat 1 dan 2, serta menyediakan buku KIA. Kesiapan keluarga dan masyarakat dalam menghadapi persalinan dan kegawatdaruratan (dana, transportasi, donor darah), jaga selama hamil, cegah 4 terlalu, penyediaan dan pemanfaatan yankes ibu dan bayi, partisipasi dalam jaga mutu pelayanan.

2. Peningkatan kapasitas manajemen pengelola program, melalui peningkatan kemampuan pengelola program agar mampu melaksanakan, merencanakan dan mengevaluasi kegiatan (P1 – P2 – P3) sesuai kondisi daerah.

3. Sosialisasi dan advokasi , melalui penyusunan hasil informasi cakupan program dan data informasi tentang masalah yang dihadapi daerah sebagai substansi untuk sosialisasi dan advokasi. Kepada para penentu kebijakan agar lebih berpihak kepada kepentingan ibu dan anak.

Melalui berbagai upaya antara lain peningkatan pelayanan kesehatan, peningkatan kemampuan petugas serta melalui dukungan dan kemitraan berbagai pihak akan sangat menentukan upaya penurunan AKI terutama dengan memperhatikan 3 pesan kunci MPS.
Sumber: promkes.depkes.go.id.