Arsip untuk November, 2008

askep serebral palsy

Posted in Uncategorized on November 22, 2008 by brantas pamungkas

BAB I

A. PENDAHULUAN

Cerebral palsy adalah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada kurun waktu dalam perkembangan anak, mengenai sel-sel motorik di dalam susunan saraf pusat, bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya.

Yang pertama kali memperkenalkan penyakit ini adalah William John Little (1843), yang menyebutnya dengan istilah cerebral diplegia, sebagai akibat prematuritas atau afiksia neonatorum. Sir William Olser adalah yang pertama kali memperkenalkan istilah cerebral palsy, sedangkan Sigmud Freud menyebutnya dengan istilah infantile Cerebra)Paralysis.

Winthrop Phelps menekankan pentingnya pensekatan multidisiplin dalam penanganan penderita cerebral palsy, seperti disiplin anak, saraf, mata, THT, bedah tulang, bedah saraf, psikologi, ahli wicara, fisioterapi, pekerja social, guru sekolah luar biasa. Disamping itu juga harus disertakan peranan orang tua dan masyarakat.

Dengan meningkatnya pelayanan obstetric dan perinatologi dan rendahnya angka kelahiran di Negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat angka kejadian cerebral palsy akan menurun. Namun dinegara-negara berkembang, kemajuan teknologi kedokteranselain menurunkan angka kematian bayi risiko tingi, juga meningkatkan jumlah anak-anak dengan gangguan perkembangan.

Ada beberapa factor yang mempengaruhi insidensi penyakit ini yaitu: populasi yang diambil, cara diagnosis dan ketelitiannya. Misalnya insidensi cerebral palsy di Eropa (1950) sebanyak 2,5 per 1000 kelahiran hidup, Gilory memperoleh 5 dan 1000 anak memperlihatkan deficit motorik yang sesuai dengan cerebral palsy, 50 % kasus termasuk ringan sedangkan 10% termasuk berat. Yang dimaksud ringan ialah penderita yang dapat mengurus dirinya sendiri, sedangkan yang tergolong berat ialah penderita yang memerlukan perawatan khusus, 25 % mempunyai intelegensi rata-rata (normal), sedangkan 30 % kasus menunjukkn IQ di bawah 70, 35 % disertai kejang, sedangkan 50 % menunjukan gangguan bicara. Laki-laki lebih banyak dari pada wanita ( 1,4 : 1,0).

BABA II

TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI

Serebral palsi ialah suatu keadaan kerusakan jaringan otak yang kekal dan tidak progresif, terjadi pada waktu masih muda (sejak dilahirkan) serta merintangi perkembangan otak normal dengan gambaran klinik dapat berubah selama hidup dan menunjukan kelainan dalam sikap dan pergerakan, disertai kelainan neurologist berupa kelumpuhan spastis, gangguan ganglia basal dan serebelum juga kelainan mental.

B. ETIOLOGI

1. Pranatal

Infeksi terjadi dalam masa kandungan, menyebabkan kelainan pada janin, misalnya oleh lues, toksoplasmosis, rubella dan penyakit infeksi sitomegalik. Kelainan yang menyolok biasanya gangguan pergerakan dan reterdasi mental. Anoksia dalam kandumgan, terkena radiasi sinar X dan keracunan kehamilan dapat menimbulkan serebral palsi.

2. Perinatal

a) Anoksia/hipoksia

Penyebab terbanyak ditemukan dalam masa perinatal ialah cidera otak. Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya anoksia. Hal demikian terdapat pada keadaan presentasi bayi abnoemal, disproporsi sefalopelvik, partus lama, plasenta previa, infeksi plasenta, partus menggunakan bantuan alat tertentu dan lahir dengan seksio sesar.

b) Perdarahan otak

Perdarahan dan anoksia dapat terjadi bersama-sama, sehingga sukar membedakannya, misalnya perdarahan yang mengelilingi batang otak, mengganggu pusat pernapasan dan peredaran darah sehingga terjadi anoksia. Perdarahan dapat terjadi di ruang subaraknoid dan menyebabkan penyumbatan CSS sehingga mangakibatkan hidrosefalus. Perdarahan di ruangsubdural dapat menekan korteks serebri sehingga timbul kelumpuhan spastis.

c) Prematuritas

Bayi kurang bulan mempunyai kemungkinan menderita pendarahan otak lebih banyak dibandingkan dengan bayi cukup bulan, karena pembuluh darah, enzim, factor pembekuan darah dan lain-lain masih belum sempurna.

d) Ikterus

Ikterus pada masa neonatus dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak yang kekal akibat masuknya bilirubin ke ganglia basal, misalnya pada kelainan inkompatibilitas golongan darah.

e) Meningitis purulenta

Meningitis purulenta pada masa bayi bila terlambat atau tidak tepat pengobatannya akan mengakibatkan gejala sisa berupa palsi serebral.

3. Pascanatal

Setiap kerusakan pada jaringan otak yang menggangu perkembangan dapat menyebabkan serebra palsi misalnya trauma kapitis, meningitis dan luka paruh pada otak pasca operasi.

C. PATOFISIOLOGI

Adanya malformasi hambatan pada vaskuler , atrofi, hilangnya neuron dan degenarasi laminar akan menimbulkan narrowergyiri, suluran sulci dan berat otak rendah. Serebral palsi digambarkan sebagai kekacauan pergerakan dan postur tubuh yang disebabkan oleh cacat nonprogressive atau luka otak pada saat anak-anak. Suatu presentasi serebral palsi dapat diakibatkan oleh suatu dasar kelainan (structural otak : awal sebelum dilahirkan , perinatal, atau luka-luka /kerugian setelah kelahiran dalam kaitan dengan ketidak cukupanvaskuler ,toksin atau infeksi).

D. FAKTOR RESIKO

a. Prematuritas

b. Ikterus pada masa neonatus

c. Meningitis purulenta pada masa bayi

E. MENIFESTASI KLINIK

a. Spastisitas

Terdapat peninggian tonus otot dan refleks yang disertai dengan klonus dan reflek Babinski yang positif. Tonus otot yang meninggi itu menetap dan tidak hilang meskipun penderita dalam keadaan tidur. Peninggian tonus ini tidak sama derajatnya pada suatu gabungan otot, karena itu tampak sifat yang khas dengan kecenderungan terjadi kontraktur, misalnya lengan dalam aduksi, fleksi pada sendi siku dan pergelangan tangan dalam pronasi serta jari-jari dalam fleksi sehingga posisi ibu jari melintang di telapak tangan. Tungkai dalam sikap aduksi, fleksi pada sendi paha dan lutut, kaki dalam flesi plantar dan telapak kaki berputar ke dalam. Tonic neck reflex dan refleks neonatal menghilang pada waktunya. Kerusakan biasanya terletak di traktus kortikospinalis. Bentuk kelumpuhan spastisitas tergantung kepada letak dan besarnya kerusakan yaitu monoplegia/ monoparesis. Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi salah satu anggota gerak lebih hebat dari yang lainnya; hemiplegia/ hemiparesis adalah kelumpuhan lengan dan tungkai dipihak yang sama; diplegia/ diparesis adalah kelumpuhan keempat anggota gerak tetapi tungkai lebih hebat daripada lengan; tetraplegia/ tetraparesis adalah kelimpuhan keempat anggota gerak, lengan lebih atau sama hebatnya dibandingkan dengan tungkai.

b. Tonus otot yang berubah

Bayi pada golongan ini, pada usia bulan pertama tampak fleksid (lemas) dan berbaring seperti kodok terlentang sehingga tampak seperti kelainan pada lower motor neuron. Menjelang umur 1 tahun barulah terjadi perubahan tonus otot dari rendah hingga tinggi. Bila dibiarkan berbaring tampak fleksid dan sikapnya seperti kodok terlentang, tetapi bila dirangsang atau mulai diperiksa otot tonusnya berubah menjadi spastis, Refleks otot yang normal dan refleks babinski negatif, tetapi yang khas ialah refelek neonatal dan tonic neck reflex menetap. Kerusakan biasanya terletak di batang otak dan disebabkan oleh afiksia perinatal atau ikterus.

c. Koreo-atetosis

Kelainan yang khas yaitu sikap yang abnormal dengan pergerakan yang terjadi dengan sendirinya (involuntary movement). Pada 6 bulan pertama tampak flaksid, tetapa sesudah itu barulah muncul kelainan tersebut. Refleks neonatal menetap dan tampak adanya perubahan tonus otot. Dapat timbul juga gejala spastisitas dan ataksia, kerusakan terletak diganglia basal disebabkan oleh asfiksia berat atau ikterus kern pada masa neonatus.

d. Ataksia

Ataksia adalah gangguan koordinasi. Bayi dalam golongan ini biasanya flaksid dan menunjukan perkembangan motorik yang lambat. Kehilangan keseimbangan tamapak bila mulai belajar duduk. Mulai berjalan sangat lambat dan semua pergerakan canggung dan kaku. Kerusakan terletak diserebelum.

e. Gangguan pendengaran

Terdapat 5-10% anak dengan serebral palsi. Gangguan berupa kelainan neurogen terutama persepsi nadi tinggi, sehingga sulit menangkap kata-kata. Terdapat pada golongan koreo-atetosis.

f. Gangguan bicara

Disebabkan oleh gangguan pendengaran atau retradasi mental. Gerakan yang terjadi dengan sendirinya dibibir dan lidah menyebabkan sukar mengontrol otot-otot tersebut sehingga anak sulit membentuk kata-kata dan sering tampak anak berliur.

g. Gangguan mata

Gangguan mata biasanya berupa strabismus konvergen dan kelainan refraksi.pada keadaan asfiksia yang berat dapat terjadi katarak.

E. KLASIFIKASI

Berdasarkan gejala klinis maka pembagian serebral palsi adalah sebai berikut:

1. Tipe spastis atau piramidal

Pada tipe ini gejala yang hampir selalu ada adalah:

· Hiprtoni (fenomena pisau lipat)

· Hiperfleksi yang disertai klonus

· Kecenderungan timbul kontraktur

· Refleks patologis

2. Tipe ekstrapiramidal

Akan berpengaruh pada bentuk tubuh, gerakan involunter, seperti atetosis, distonia, ataksia. Tipe ini sering disertai gangguan emosional dan retradasi mental. Disamping itu juga dijumpai gejala hipertoni, hiperfleksi ringan, jarang sampai timbul klonus. Pada tipe ini kontraktun jarang ditemukan apabila mengenai saraf otak bisa terlihat wajah yang asimetnis dan disantni

3. Tipe campuran

Gejala-gejala merupakan campuran kedua gejala di atas, misalnya hiperrefleksi dan hipertoni disertai gerakan khorea.

F. PENATALAKSANAAN

a. Medik

Pengobatan kausal tidak ada, hanya simtomatik. Pada keadaan ini perlu kerja sama yang baik dan merupakan suatu tim dokter anak, neurolog, psikiater, dokter mata, dokter THT, ahli ortopedi, psikolog, fisioterapi, occupatiional therapist, pekerja sosial, guru sekolah luar biasa dan orangtua pasien.

b. Fisioterapi

Tindakan ini harus segera dimulai secara intensif. Orang tua turut membantu program latihan dirumah. Untuk mencegah kontraktur perlu diperhatika posisis pasien pada waktu istirahat atau tidur. Bagi pasien yang berat dianjurkan untuk sementara tinggal dipusat latihan. Fisioterapi ini dilakukan sepanjang pasien hidup.

c. Tindakan bedah

Bila terdapat hipertonus otot atau hiperspastisitas, dianjurkan untuk dilakukan pembedahan otot, tendon atau tulang untuk reposisi kelainan tersebut. Pembedahan stereotatik dianjurkan pada pasien dengan pergerakan koreotetosis yang berlebihan.

d. Obat-obatan

Pasien sebral palsi (CP) yang dengan gejala motorik ringan adalah baik, makin banyak gejala penyertanya dan makin berat gejala motoriknya makin buruk prognosisnya. Bila di negara maju ada tersedia institute cerebral palsy untuk merawat atau untuk menempung pasien ini.

e. Tindakan keperawatan

v Mengobservasi dengan cermat bayi-nayi baru lahir yang beresiko ( baca status bayi secara cermat mengenai riwayat kehamilan/kelahirannya . jika dijumpai adanya kejang atau sikap bayi yang tidak biasa pada neonatus segera memberitahukan dokter agar dapat dilakukan penanganan semestinya.

v Jika telah diketahui bayi lahir dengan resiko terjadi gangguan pada otak walaupun selama di ruang perawatan tidak terjadi kelainan agar dipesankan kepad orangtua/ibunya jika melihat sikap bayi tidak normal supaya segera dibawa konsultasi ke dokter.

G. DIAGNOSA PENUNJANG

1. Pemeriksaan mata dan pendengaran segera dilakukan setelah diagnosis sebral palsi di tegakkan.

2. Fungsi lumbal harus dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebabnya suatu proses degeneratif. Pada serebral palsi. CSS normal.

3. Pemeriksaan EKG dilakukan pada pasien kejang atau pada golongan hemiparesis baik yang disertai kejang maupun yang tidak.

4. Foto rontgen kepala.

5. Penilaian psikologis perlu dikerjakan untuk tingkat pendidikan yang dibutuhkan.

6. Pemeriksaan metobolik untuk menyingkirkan penyebablain dari reterdasi mental.

H. KOMPLIKASI

1. Ataksi

2. Katarak

3. Hidrosepalus

I. PROGNOSIS

Prognosis tergantung pada gejala dan tipe sebral palsi. Prognosis paling baik pada derajat fungsional yang ringan. Prognosis bertambah berat apabila disertai dengan retardasi mental, bangkitan kejang, gangguan pengkiahatan dan pendengaran

Infeksi plasenta, plasenta previa, presentasi bayi abnormal, disproporsi sefalopelvik

Batang otak

Malformasi kongenital

Hambatan komunikasi verbal

Ketidak seimbangan nitrisi, kurang dari kebutuhan tubuh

Nyeri akut

Muntah, nyeri kepala

Ketidak teraturan perilaku bayi

diplegia

hemiplegia

Kelumpuhan spastisitas

tetraplegia

Pola nafas tidak efektif

anoksia

Pusat pernafasan terganggu

Penurunan kapasitas adaptasi intrakranial

Kenaikan tekanan intrakranial

hidrosefalus

Penyumbatan CSS

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

Secsio caisare

Asfiksia kongenital

Cedera otak

Cerebral palsi

subaraknoid

Subdural

Gangguan mata

katarak

Koreo-atetosis

Gangguan pendengaran

Gangguan persepsi sensori

Gangguan bicara

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

  1. PEGKAJIAN

1. Kaji riwayat kehamilan ibu

2. Kaji riwayat persalinan

3. Identifikasi anak yang mempunyai resiko

4. kaji iritabel anak, kesukaran dalam makan/menelan, perkembangan yang terlambat dari anak normal, perkembangan pergerakan kurang, postur tubuh yang abnormal, perkembangan pergerakan kurang, postur tubuh yang abnormal, refleks bayi yang persisten, ataxic, kurangnya tonus otot.

5. Monitor respon bermain anak

6. Kaji fungsi intelektual

7. Tidak koordinasi otot ketika melakukan pergerakan (kehilangan keseimbangan)

8. Otot kaku dan refleks yang berlebihan (spasticas)

9. Kesulitan mengunyah, menelan dan menghisap serta kesulitan berbicara

10. Badan gemetar

11. Kesukaran bergerak dengan tepat seperti menulus atau menekan tombol

12. Anak-anak dengan cerebral palsy mungkin mempunyai permasalahan tambahan, termasuk yang berikut: kejang, masalah dengan penglihatan dan pendengaran serta dalam bersuara, terdapat kesulitan belajar dan gangguan perilaku, keterlambatan mental, masalah yang berhubungan dengan masalah pernafasan, permasalahan dalam buang air besar dan buang air kecil, serta terdapat abnormalitas bentuk ulang seperti scoliosis.

  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Pola nafas tidak efektif

2. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan factor biologis

3. Penururnan kapasitas adaptasi intracranial berhubungan dengan cedera otak

4. Ketidakteraturan perilaku bayi

5. Nyeri akut

6. Hambatan komunikasi verbal

7. Gangguan persepsi sensori

C. RENCANA KEPERAWATAN

1. Dx. Pola nafas tidak efektif

Tujuan:

Ø Respirasi rate normal

Ø Klien mudah untuk bernafas

Ø Pengeluaran udara paksa tidak terjadi

Ø Penggunaan otot tambahan tidak terjadi

Ø Tidak terjadi dispnea

Ø Kapasitas vital normal

Intervensi:

1. Aturlah posisi dengan memungkinkan ekspansi paru maksimum dengan semi powler/kepala agak tinggi jurang lebih 30 derajat

2. Berikan bantal atau sokongan agar jalan nafas memungkinkan tetap terbuka.

3. Berikan oksigen sesuai dengan kebutuhan anak.

4. Berikan oksigen sesuai dengan kebutuhab anak.

5. Berikan atau tingkatkan istirahat dan tidur sesuai dengan kebutuhan klien atau dengan jadwal yang tepat.

6. Berikan penyebab untuk melancarkan jalan nafas.

7. Monitor pernafasan, irama, kedalama dan memantau saturasi oksigen.

2. Dx. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan factor biologis.

Tujuan:

Nitrisi stasus

Ø Terpenuhinya intake nutrisi

Ø Terpenuhinya energi

Ø Berat badan naik

Intervensi

1. Monitor status nutrisi pasien:

2. Monitor pemasukan nutrisi dan kalori

3. Catat adanya anoreksia , muntah dan terapkan jika ada hubungan dengan medikasi

4. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan nutrisi dan kalori agar BB naik

5. Informasikan pada keluarga, Nutrisi apa saja yang dibutuhkan bagi klien

6. Kolaborai dengan tim kesehatan lain untuk mengembangkan perencanaan , melibatkan orang lain yang berwenang

3. Dx : Penurunan Kapasitas intracranial berhubungan dengan cedera otak

Tujuan :

Ø Menunjukan peningkatan kapasitas adaptif intracranial

Ø Menunjukan status neurologis

Intervensi

1. Pengelolaan edema serebral

2. Peningkatan perfusi serebral

3. Memantau tekanan intracranial

4. Memantau neurologist

4. Dx : Perilaku bayi : Terkendali atau potensial meningkat

Tujuan :

Ø Menunjukan tidak adanya perlambatan dari tingka perkembangan anak

Ø Menunjukan termoregulasi

Intrvensi :

1. Manajemen lingkungan

2. Perbaikan kualitas tidur

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

1. Ngastiyah. 1997. “Perawatan Anak Sakit”. Jakarta: EGC

2. www.cerminduniakedokteran.com

3. www.wilkipedia.com

4. Wilson, Hockenberry. 2007. Wong’s Nursing Care of Infants and Children. Wosby Elsevier: Evolve

5. Sntosa. Budi, 2005. “panduan Diagnosa Keperawatan Nanda:, Jakarta: Prima Medika

6. Mc Closky Joanne c, dkk. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC): Mosby, year book

7. Johnson, Marion dkk, 2000. “Nursing outcomes Classification (NOC)”. Mobsy: Dedicate to Publishing Exellent.

asuhan keperawatan glaukoma kongenital

Posted in Uncategorized on November 22, 2008 by brantas pamungkas


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mata merupakan salah satu panca indera yang sangat penting untuk kehidupan manusia. Terlebih lebih dengan majunya teknologi, indra penglihatan yang baik merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Apalagi dengan sempitnya lapangan kerja, hanya orang-orang yang sempurna dengan segala indranya saja yang mendapat kesempatan kerja termasuk matanya.mata merupakan anggota badan yang sangat peka. Trauma seperti debu sekecil apapun yang masuk kedalam mata, sudah cukup untuk menimbulkangangguan yang hebat, apabila keadaan ini diabaikan, dapat menimbulkan penyakit yang sangat gawat.

Salah satu penyakitnya yaitu glaukoma. Di seluruh dunia glaukoma dianggap sebagai penyebab kebutaan yang tinggi, 2 % penduduk berusia lebih dari 40 tahun menderita glaukoma. Glaukoma dapat juga didapatkan pada usia 20 tahun, meskipun jarang. Pria lebih sering terserang dari pada wanita. Adapun macam macam dari penyakit glaukoma, salah satunya adalah penyakit glaukoma kongenital.

Glaukona kongenital adalah suatu keadaan dimana tekanan bola mata tidak normal. Tekanan bola mata yang normal dinyatakan dengan tekanan air raksa yaitu antara 15-20 mmHg. Glaucoma yang terjadi sejak lahir, ini terdapat lebih jarang dari pada glaukoma pada orang dewasa. Frekuensinya kira-kira 0,01 % diantara 250.000 penderita. Karena itulah sedikit sekali dokter yang mendapat kesempatan untuk mempelajari penyakit ini, sehingga perjalanan klinik dan cara merawatnya belum begitu dimengerti, seperti pada glaukoma orang dewasa.

B. Tujuan

1. Mengetahui gambaran umum tentang glaukoma kongenital

2. Mampu membuat asuhan keperawatan pada klien dengan glaukoma kongenital

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian

Glaukoma

Adalah suatu keadaan dimana tekanan bola mata tidak normal. Tekanan bola mata yang normal dinyatakan dengan tekanan air raksa yaitu antara 15-20 mmHg.

Glaucoma Kongenital

· Peningkatan tekanan didalam bola mata bayi yang baru lahir (biasanya pada kedua mata).

· Galukoma akibat penyumbatan pengaliran keluar cairan mata oleh jaringan sudut bilik mata yang terjadi oleh adanya kelainan congenital.

· Glaucoma yang terjadi sejak lahir

B. Klasifikasi

Scele mengemukakan pembagian dalam :

· Glaukoma infamtum

Yang dapat tampak pada waktu lahir atau pada umur 1-3 tahun dan menyebabkan pembesaran pada bola mata, karen dengan elastisitasnya bola mata membesar mengikuti meningginya tekanan intraokuler.

· Glaukoma yuvenilis

Didapatkan pada anak yang lebih besar.

C. Etiologi

Kelainan ini akibat terdapatnya membran kongenital yang menutupi sudut bilik mata pada saat perkembangan bola mata, kelainan pembentukan kanal schlemm dan saluran keluar cairan mata yang tidak sempurna terbentuk.

D. Factor resiko

1. Bila ada riwayat penderita glaukoma pada keluarga

2. Riwayat anggota keluarga yang terkena glaukoma

Untuk glaukoma jenis tertentu, anggota keluarga penderita glaukoma mempunyai risiko 6 kali lebih besar mengalami glaukoma. Risiko terbesar adalah kakak-beradik kemudian hubungan orang tua dan anak-anak.

3. Obat-obatan

Pemakai steroid secara rutin misalnya: Pemakai obat tetes mata yang mengandung steroid yang tidak dikontrol oleh dokter, obat inhaler untuk penderita asthma, obat steroid untuk radang sendi dan pemakai obat yang memakai steroid secara rutin lainnya. Bila anda mengetahui bahwa anda pemakai obat-abatan steroid secara rutin, sangat dianjurkan memeriksakan diri anda ke dokter spesialis mata untuk pendeteksian glaukoma.

4. Riwayat trauma (luka kecelakaan) pada mata.

E. Manifestasi klinik

- mata berair

- peka terhadap cahaya

- mata merah

- kornea tampak kabur

- kornea membesar.

- nyeri pada bagian mata

- ketajaman visual berkurang

F. Pathofisiologi

Glaukoma kongenital disebabkan adanya peningkatan tekanan di dalam bola mata (intraokuler) yang disertai dengan kelainan struktur segmen depan bola mata. Kelainan ini menyebabkan air mata terbendung dan mengakibatkan peninggian tekanan bola mata. Selanjutnya peninggian tekanan bola mata menyebabkan iris bengkak dan meradang, mengenai saraf optik yang menyebabkan gangguan penglihatan sehingga terjadi perubahan sensori motorik. Selain itu, peninggian tekanan bola mata menyebabkan kelainan kornea sehingga terjadi diameter kornea lebih besar, kornea keruh dan pandangan kabur.

G. Pathway

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

Kalainan struktur segmen dalam bola mata

Obstruksi aliran aqueous humor

Air mata terbendung

Peninggian tekanan bola mata

Iris mengalami peradangan

Kelainan kornea

Penekanan saraf optikus

Diameter kornea lebih besar

pembengkakan

Saraf optikus keluar dari bola mata

Selaput kornea menjadi tipis dan keruh

Dx : Nyeri pada bagian mata

Kematian serat-serat saraf

Kerusakan saraf penglihatan

Dx : Resiko Cedera

Kornea keruh

Dx : Gangguan persepsi sensori : visual

Gangguan penglihatan

Perubahan sensorik motorik

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>

H. Pemeriksaan penunjang

· pemeriksaan retina

· pengukuran tekanan intraokuler dengan menggunakan tonometri

· pemeriksaan lapang pandang

· pemeriksaan ketajaman penglihatan

· pemeriksaan refraksi

· respon refleks pupil

· pemeriksaan slit lamp.

I. Penatalaksanaan

Pemeriksaan mata yang dilakukan meliputi :

· Pengukuran tekanan intraocular (dengan tonometer), pemeriksaan keadaan sudut bola mata dengan genioskopi. Sedangkan pemeriksaan lapang pandangan mata dengan alat perimetri.

· Pengecekan terhadap kondisi syaraf mata digunakan alat Heidelberg Retinal Tomography (HRT) atau Optical Coherence Tomography (OCT).
Pemberian obat tetes mata yang dilanjutkan pemberian obat tablet.
Fungsi obat-obatan tersebut untuk menurunkan produksi atau meningkatkan keluarnya cairan akuos humor. Cara ini diharapkan dapat menurunkan tekanan bagi bola mata sehingga dicapai tekanan yang diinginkan. Agar efektif pemberian obat dilakukan secara terus menerus dan teratur.

· Pemasangan keran Ahmed Valve
Untuk mengatasi glaukoma yang kondisinya relatif parah, dokter akan memasang keran buatan yang populer disebut ahmed valve. Nama ini berasal dari nama penemunya, yakni Ahmed, warga Amerika Serikat (AS) asal Timur Tengah yang pertama kali menciptakan klep tersebut sekitar 10 tahun silam. Alat ini terbuat dari bahan polymethyl methacrylate (PMMA), yakni bahan dasar lensa tanam.

Ahmed valve ditanamkan pada bola mata dengan cara operasi. Bila tekanan bola mata berada pada 18 mmHg maka klep tersebut akan terbuka sehingga cairan yang tersumbat bisa keluar, sehingga tekanan bola mata otomatis akan turun. Sebaliknya, klep akan tertutup kembali bila tekanan sudah berada di bawah 18 mmHg

J. Komplikasi

Jika tidak diobati, bola mata akan membesar dan hampir dapat dipastikan akan terjadi kebutaan.

K. Prognosis

Pembedahan yang segera dilakukan setelah bayi lahir akan memberikan peluang terbaik untuk menurunkan tekanan di dalam mata dan untuk mempertahankan fungsi penglihatan.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

Tanda-tanda vital

Identifikasi faktor risiko dan riwayat keluarga

Observasi perilaku anak yang menunjukkan gangguan penglihatan

Kaji keluhan anak

Pemeriksaan penunjang

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nyeri b.d. agen cidera biologis.

Gangguan persepsi sensori : visual b.d. perubahan sensori motorik.

Risiko cidera b.d. gangguan visual

C. NURSING CARE PLAN

Dx 1 : Nyeri b.d. agen cidera biologis

Tujuan :

a. Nyeri berkurang.

b. Berada pada tingkat kenyamanan.

Kriteria Hasil :

a. Tidak mengekspresikan nyeri secara verbal atau pada wajah.

b. Tingkat nyeri anak berkurang atau hilang.

Intervensi :

a. Kaji skala nyeri.

b. Meredakan nyeri dengan balutan mata untuk membatasi gerakan mata.

c. Mengatur kamar atau ruangan dengan cahaya remang-remang.

d. Pemberian analgesik dan antibiotik.

Dx 2 : Gangguan persepsi sensori : visual b.d. perubahan sensori motorik

Tujuan :

Pencegahan deteriorisasi visual yang lebih berat.

Kriteria Hasil :

Anak dan keluarga mampu memahami kondisi yang terjadi.

Intervensi :

a. Memberikan reorientasi pada keluarga secara berkala terhadap realitas dan lingkungan

b. Memberikan penjelasan dan pemahaman untuk tindakan proteksi terhadap anak.

Dx 3 : Risiko cidera b.d. gangguan visual

Tujuan :

Risiko cidera menurun.

Kriteria Hasil :

Pengendalian risko yang ditunjukkan dengan :

a. Pantau faktor risiko perilaku anak dan lingkungan.

b. Mengembangkan dan mengikuti strategi pengendalian risiko.

c. Mengubah gaya hidup untuk mengurangi risiko.

Intervensi :

a. Pencegahan jatuh atau trauma lain pada anak.

b. Pemantauan terhadap anak.

c. Berikan materi dan pendidikan yang berhubungan dengan strategi dan tindakan untuk mencegah cidera.

BAB IV

KESIMPULAN

Glaukoma kongenital adalah suatu keadaan dimana tekanan bola mata tidak normal yang terjadi pada anak. Klasifikasinya ada dua macam, infantum dan juvenil. Kelainan ini akibat terdapatnya membran kongenital yang menutupi sudut bilik mata pada saat perkembangan bola mata, kelainan pembentukan kanal schlemm dan saluran keluar cairan mata yang tidak sempurna terbentuk. Manifestasi klinisnya antara lain mata berair peka terhadap cahaya, mata merah, kornea tampak kabur, kornea membesar, nyeri pada bagian mata dan ketajaman visual berkurang. Pemeriksaan penunjang antara lain :

· pemeriksaan retina

· pengukuran tekanan intraokuler dengan menggunakan tonometri

· pemeriksaan lapang pandang

· pemeriksaan ketajaman penglihatan

· pemeriksaan refraksi

· respon refleks pupil

· pemeriksaan slit lamp.

Kebutaan dapat terjadi sebagai komplikasi. Anak dengan glaukoma kongenital akan mengalami kecacatan penglihatan. Untuk itu diperlukan dukungan dan peran serta keluarga agar menghindarkan anak dari trauma atau kecelakaan lain karena ketajaman visual anak berkurang.

DAFTAR PUSTAKA

- Whaley L.F. And D.L. Wong, (1995). Nursing Care Of Infants and Children. St. Louis : Mosby year Book

- Mary E, Muscari. 2005. Keperawatan Pediatrik, Jakarta : EGC

- Evelyn C, Pearce. 1990. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

- Wong, L Wong. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC

- _______. 1998. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak, Jakarta : Info medika

- Hurlock B, Elizabeth. 1993. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga

- NANDA

- NIC

- NOC

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GLAUKOMA KONGENITAL

DISUSUN OLEH :

· Feri Setiawan Arya K (0502R00206)

· Febriana Prananingrum (0502R00207)

· Gilang Eka Prajanji [0502R00213]

· Rizka Suci Utami [0502R00304]

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN ‘AISYIYAH

YOGYAKARTA

2008

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Alhamdulillahirobbil’alamin

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah Keperawatan Anak 2 dengan masalah ” Glaukoma Kongenital ”. Makalah ini kami susun untuk memenuhi mata kuliah Keperawatan Anak 2 di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ’Aisyiyah Yogyakarta.

Makalah ini tidak akan selesai jika tanpa bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Dosen Keperawatan Anak 2
  2. Anggota kelompok yang ikut berpera aktif dalam proses pembuatan makalah ini
  3. Pihak lain yang terkait secara langsung atau tidak langsung dalam proses pembuatan makalah ini

Dengan keterbatasan yang ada, kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kesalahan-kesalahan yang kami buat. Oleh karena itu kami memohon saran, kritik, dan koreksi bagi pembaca sebagai acuan pembanding dalam pembuatan makalah-makalah berikutnya.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semuanya di masa mendatang.

Akhirnya kami ucapkan terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Yogyakarta, 2 April 2008

Penulis

iiii

Posted in Uncategorized on November 3, 2008 by brantas pamungkas

http://img99.imageshack.us/my.php?image=1482111168lmk3.jpg